Inilah 3 Alasan Mengapa Hari Pertama Sekolah tak Boleh Dilewatkan

Diposting oleh:

Bakat Anak – Mengapa hari pertama sekolah tak boleh dilewatkan?

Minggu pertama sekolah telah terlewati. Anak mulai belajar mengelola diri mengikuti ritme kegiatan yang berhubungan dengan sekolah. Para orangtua kembali berkecimpung dalam mendukung proses belajar formal anak. Sekolah yang tadinya sempat kosong, kini mulai penuh dengan para siswa yang antusias belajar. Apa informasi dan pengalaman yang Ayah Ibu dapatkan dalam minggu pertama sekolah anak?

Salah satu sumber informasi berharga yang bisa kita dapatkan, bersumber dari hari pertama sekolah anak. Sebenarnya, apapun momennya, hari pertama biasanya mendapatkan sorotan. Misalnya saja, hari pertama presiden bekerja. Nah, apalagi hari pertama anak kita bersekolah, seharusnya kita sebagai orang terdekat anak bisa memusatkan perhatian, baik saat mempersiapkan anak menghadapi hari pertama sekolah – entah kembali atau untuk pertama kalinya bersekolah – pula mengamati berbagai hal sepanjang hari itu.

bakat anak hari pertama sekolah 2

Lantas, mengapa hari pertama sekolah tak boleh dilewatkan oleh siapapun yang terlibat di dalamnya?

Meskipun biasanya hari pertama anak terkesan seremonial atau bahkan superfisial, namun justru hal-hal yang mungkin orang dewasa anggap sepele sangat berarti bagi anak. Misalnya saja, kesempatan memilih tempat duduk. Ayah Ibu tentu tahu kan rasanya telat datang seminar dan mendapat sisa bangku yang mungkin tidak disukai? Nah, hal-hal semacam ini ternyata punya pengaruh dalam proses belajar anak di kelas di kemudian hari.

Oleh karena itu, terdapat tiga alasan utama mengapa kita tidak boleh melewatkan hari pertama sekolah anak. Alasan yang dimaksud mencakup tiga aspek yang berperan penting dalam mengawali proses belajar anak selama setahun mendatang, yakni anak, orangtua, dan guru sebagai perwakilan sekolah yang paling banyak berinteraksi dengan anak dan berpengaruh dalam kegiatan belajar anak di kelas.

hari-pertama-sekolah-penting

Pertama, bagi anak, hari pertama sekolah adalah garis awal yang berdampak besar. Seperti yang telah saya singgung di atas, hal-hal yang bagi orang dewasa tampaknya sepele di hari pertama anak sekolah, justru sangat berpengaruh bagi anak. Perlu diingat bahwa sekolah bukan cuma ‘laboratorium belajar’ anak, namun sekaligus komunitas belajar. Proses belajar anak tidak hanya tercermin dari relasi siswa-guru saja, melainkan juga antarsiswa.

Anak belajar mengenal dan berteman dengan orang-orang baru di hari pertamanya – baik anak yang pertama kali menikmati bangku kelas, naik kelas, maupun naik ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, melewatkan hari pertama sekolah adalah hal yang sangat disayangkan. Padahal, dari hasil PISA tahun 2012 lalu saja, kebahagiaan anak Indonesia tidak tercermin dari prestasi akademiknya, namun justru terlihat dari bagaimana mereka berteman dan menjalin persahabatan. Jangan sampai anak ketinggalan dalam hal berteman – ini akan sangat berpengaruh dalam proses belajar di kelas, misalnya saja, saat belajar berpasangan atau berkelompok. Oleh karena itu, berikan semangat pada anak untuk (kembali) menjalani hari pertamanya di sekolah.

Kedua, bagi orangtua, hari pertama sekolah adalah momentum mengenal komunitas belajar anak. Ki Hajar Dewantara telah lama menyinggung bahwa keluarga adalah pendidik anak yang pertama dan utama. Ini berarti, sebagai orangtua kita tidak bisa menyerahkan begitu saja tanggung jawab pendidikan dan pengasuhan anak ke sekolah. Sekolah adalah partner Ayah Ibu dalam mendidik anak, dan sewajarnya kita mengenal sekolah sebagai komunitas belajar anak.

Nah, bagaimana kita mau mengenal sekolah kalau sebagai orangtua kita tidak aktif di hari pertama sekolah anak? Hari pertama itulah momentum untuk bertegur sapa dengan kepala sekolah dan guru anak, dan memulai menjalin relasi positif dengan mereka. Mengantar anak ke sekolah di hari pertamanya juga menjadi waktu yang tepat untuk melihat bagaimana anak disambut dan diantar untuk mengalami petualangan belajar selama setahun ke depan.

Ketiga, bagi guru, hari pertama sekolah adalah kesempatan menyajikan kesan belajar pertama yang memikat anak. Seperti halnya anak, buat guru hanya ada satu hari yang berfungsi sebagai hari pertama sekolah dalam setahun. Bedanya, guru sebagai pendidik dan teman belajar anak di kelas punya tugas untuk menyiapkan petualangan belajar yang seru buat anak.

Setelah menjalani masa liburan, anak tentu harus membiasakan diri dengan ritme belajar formal yang akan dihadapinya selama setahun ke depan. Untuk itu, di hari pertama sekolah seorang guru harus menyajikan kesan belajar pertama yang positif, yang memikat anak. Tidak harus langsung menyinggung materi belajar; saya pernah membahas bagaimana seorang guru musik, Benjamin Zander, membuka hari pertama sekolah di kelasnya dengan mengapresiasi kekuatan murid-muridnya.

Sebagai orangtua, yang perlu kita lakukan adalah membantu anak mengafirmasi kesan positif yang didapatnya di hari pertama sekolah, termasuk kesan belajar pertama yang memikat di kelas. Caranya, Ayah Ibu bisa menanyakan berbagai pertanyaan keren sepulang anak sekolah.

Apa arti hari pertama sekolah bagi Ayah Ibu dan anak?

 

Bekali Diri Anda, Klik dan Unduh Buku-E Panduan Hari Pertama Sekolah

 

Foto oleh Anton Muhajir

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

One thought on “Inilah 3 Alasan Mengapa Hari Pertama Sekolah tak Boleh Dilewatkan”

  1. Gumi says:

    Pentingnya hari pertama sekolah memang tidak boleh terlewatkan. Dari berbagai pihak menjadi sama-sama saling mengenal dan mengetahui kondisi lingkungan baru yang akan ditempuh. Dengan begitu akan terjalin hubungan yang baik antara anak, orangtua, dan juga guru.

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye