3 Pertanyaan untuk Orangtua jelang Tahun Ajaran Baru

Diposting oleh:

Bakat Anak – Apa kekuatan atau bakat menonjol yang Ayah Ibu amati dari anak?

Pertanyaan di atas merupakan salah satu dari tiga pertanyaan yang dapat Ayah Ibu refleksikan pada diri sendiri menjelang tahun ajaran baru. Tahun ajaran baru berhari awal baru bagi anak untuk kembali belajar di sekolah, meskipun di luar sekolah saya percaya anak senantiasa belajar. Tahun ajaran baru juga berarti kesempatan bagi anak untuk memasuki sekolah baru, jurusan baru, guru dan teman-teman baru, dan topik-topik terbaru untuk dipelajari.

Saya sendiri telah menuliskan bahwa mengapa orangtua perlu mengapresiasi kekuatan anak menjelang kegiatan belajarnya secara formal setahun ke depan. Tiga pertanyaan berikut dapat membantu Ayah Ibu untuk mengenal kekuatan anak, harapan Ayah Ibu sebagai orangtua mereka, serta bagaimana Ayah Ibu dapat menghubungkan keduanya. Simak, yuk!

bakat anak tahun ajaran baru 2

Pertanyaan pertama, tanyakan pada diri Anda sendiri, apa kekuatan atau bakat menonjol yang Ayah Ibu amati dari anak?

Anak punya dorongan secara alami untuk belajar, yang diekspresikan oleh minatnya terhadap suatu topik. Menggeluti topik tersebut berarti melatih sebagian dari delapan kecerdasan majemuk terkait, yang telah Tuhan anugerahkan pada anak-anak kita. Komposisinya tentu unik, yang menjadikan setiap anak istimewa. Itulah sebabnya, mengenali kekuatan dan bakat anak yang menonjol menjadi kunci bagi Ayah Ibu untuk mengenali cara belajar anak yang unik.

Kita sudah belajar dari Ishaan bagaimana kecerdasan imajinya dapat membantu ia yang memiliki disleksia cepat belajar literasi. Dengan mengenali bagaimana anak belajar, orangtua dapat memfasilitasi proses belajar anak dengan optimal di tahun ajaran baru ini, dari memilih sumber belajar yang lebih menarik buat anak, sampai mengenalkan anak pada media belajar sesuai dengan kecerdasan majemuknya yang menonjol.

Pertanyaan kedua, bayangkan anak telah menempuh proses belajar selama setahun di tahun ajaran baru ini. Apa cerita yang Ayah Ibu ingin dengarkan dari anak tentang pengalamannya belajar?

Sebagai orangtua, kita pasti punya harapan yang kita gantungkan pada anak, baik selama sekolah, bahkan saat mereka menempuh jenjang perkuliahan. Namun, harapan orangtua manakah yang juga berarti bagi anak? Mungkin, saat penerimaan rapor, orangtua lebih sibuk membicarakan nilai dan rata-rata kelas – kalau dulu, peringkat.

Ada dua hal yang belum tentu tepat saat kita menilai anak dari angka-angka yang tertera di buku rapornya. Pertama, angka tidak selalu menggambarkan pengalaman belajar anak, apalagi saat evaluasi belajar anak hanya mencerminkan ketidakmampuan mereka, alih-alih memberi tahu kita tentang hal apa yang paling anak kuasai. Kedua, membanding-bandingkan anak dengan anak lain – termasuk melalui nilai – berarti tidak mengakui bahwa setiap anak istimewa. Lebih baik membandingkan hasil belajar anak saat ini dengan hasil belajar sebelumnya – dan itu tidak cukup dengan sekadar membandingkan dua angka.

Oleh sebab itu, bayangkan sebuah cerita menarik yang akan diceritakan anak saat kenaikan kelas. Bukan karena ia banyak memperoleh nilai sembilan, atau karena ia meraih juara umum, tetapi tentang pengalaman belajar selama setahun. Topik apa yang paling menantang dan membuat anak berusaha keras untuk mempelajarinya? Hal apa yang membuatnya mengerjakan suatu proyek dengan serius? Cerita tentang ini lebih penting dan lebih emosional buat anak, ketimbang sekadar membahas angka-angka.

Pertanyaan ketiga jelang tahun ajaran baru untuk Ayah Ibu adalah, ingat kembali pengalaman Anda belajar selama bersekolah dan kuliah. Apa pengalaman belajar paling berkesan yang dapat Ayah Ibu bagikan kepada anak sebagai inspirasi?

Pembelajaran formal pun dapat menyediakan batu loncatan untuk mensinergikan kekuatan anak dan harapan orangtua. Terutama, saat anak memilih sekolah, jurusan, bahkan fokus belajarnya saat kuliah. Saat kita menyadari bahwa setiap anak itu istimewa, kita sebagai orangtua pun juga istimewa, dan pernah menjalani masa-masa belajar sebagai seorang anak.

Ingat saat-saat Ayah Ibu harus memilih SMA atau SMK, jurusan IPA, IPS, atau Bahasa, dan bidang studi yang dipilih saat kuliah. Apakah pilihan tersebut sesuai dengan minat, kekuatan, dan bakat menonjol Ayah Ibu? Ataukah saat itu Ayah Ibu merasa ditekan, dan terpaksa menghabiskan tahun-tahun belajar hal yang tidak menarik bagi Ayah Ibu? Ketika kita menyadari betapa kita butuh kebebasan dan kendali atas proses belajar kita, anak juga berhak belajar mandiri dengan memiliki kebebasan tersebut.

Ingat dan obrolkan dengan anak bagaimana pengalaman belajar Ayah Ibu berkaitan dengan karier saat ini, dan pengalaman belajar manakah yang berkontribusi besar pada arah karier yang ditempuh Ayah Ibu saat ini. Dengan ini, anak dapat belajar bahwa suatu karier dapat dijalani dengan memilih terlibat dalam pengalaman belajar spesifik. Entah dengan mengikuti pembelajaran formal, memilih tempat magang, memutuskan untuk kursus, maupun mencari sendiri sumber-sumber belajar yang memudahkan anak fokus menekuni dan mengembangkan bakatnya.

Apa kegiatan dan pengalaman anak yang membantu Ayah Ibu mengenali bakatnya yang menonjol?

 

Foto oleh Derek Bridges

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss