3 Sikap Orangtua terhadap Tes dan Ujian yang Harus Diubah

Diposting oleh:

Bakat Anak – Apa yang Ayah Ibu rasakan saat anak menghadapi ujian?

Anak Anda sudah melalui masa UTS? Atau hari Senin ini menjadi hari pertama anak menghadapi Ujian Tengah Semester? Kadang, orangtua jauh lebih cemas saat anak menjelang ujian atau tes, ketimbang si anak sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi? Mungkin memang ada beberapa sikap orangtua terhadap tes dan ujian yang harus diubah, agar kita bisa lebih lega melihat anak belajar dengan bahagia. Apa saja?

bakat anak sikap orangtua terhadap tes

Hasil tes mengukur kemampuan anak secara menyeluruh

Ada beragam tes yang dihadapi anak semasa sekolah. Baik tes masuk sekolah, tes kecerdasan, ujian tengah dan akhir semester, ujian nasional, ujian sekolah, tes masuk perguruan tinggi… Rasanya, pendidikan itu sebagian besar terdiri dari tes dan ujian. Agar anak berhasil melaluinya, anak harus belajar. Lho, jadi anak saya selama ini belajar hanya karena ujian semata?

Kenyataan yang menyedihkan memang, namun dihadapi banyak keluarga, dan tak cuma di Indonesia saja. Korea Selatan mengalami fase ini karena banyak keluarga ingin anak-anaknya masuk ke perguruan tinggi favorit, agar lebih mudah mendapat pekerjaan. Bimbingan belajar sampai pukul 11 malam sempat menjadi sebuah kewajaran di negeri K-pop dan K-drama tersebut.

Kita bisa lebih bersyukur melihat anak-anak kita tak perlu belajar selarut itu. Meskipun, saya juga menemui banyak orangtua yang mengaku sedih melihat anak-anak mereka sibuk dengan kegiatan sekolah seharian (full-day), belum lagi les ini-itu. Semua didasari atas kekhawatiran bahwa anak tak akan mendapat nilai bagus jika tidak banyak belajar. Saat nilai anak jelek, berarti anak tidak mampu. Berarti anak tidak cerdas. Apa sikap orangtua terhadap tes yang demikian tidak perlu kita ubah?

John Medina, pakar biologi perkembangan molekuler, menyebutkan aturan otak, yang salah satunya menyebutkan bahwa belajar sangat melibatkan emosi, bukannya sekadar duduk dan mendengarkan rumus-rumus yang tak memikat. Persiapan ujian, dan ujian itu sendiri, justru berlawanan dengan aturan otak ini. Apalagi kalau diiringi dengan isak tangis segala. Saat anak tak efektif belajar karena stres, khawatir tak lulus, bagaimana hasil tes bisa mengukur kemampuan anak yang sebenarnya?

Kita seringkali lebih fokus pada bagian yang salah dari pekerjaan anak

Saya tidak sedang ingin membicarakan bahwa tes memiliki banyak kekurangan, selain mekanismenya yang menimbulkan konsekuensi kurangnya efektivitas belajar anak. Sikap orangtua terhadap tes kedua yang harus diubah, adalah bagaimana kita menyikapi apa yang telah diusahakan dan dikerjakan oleh anak.

Kita mengenal sebuah peribahasa terkenal: karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Ini seringkali terjadi saat kita membahas nilai ulangan atau hasil ujian yang diberikan anak kepada orangtuanya. Hal apa yang Anda cermati pertama kali? Tentu, yang memiliki coretan atau tanda tanya – biasanya, ditulis dengan tinta merah – bukan?

Alih-alih melihat materi atau topik mana yang sudah dikuasai anak, kita lebih mudah – dan lebih banyak – membicarakan hal yang belum anak bisa. Lho, kan wajar, biar berikutnya anak bisa mendapat nilai lebih bagus? Memang, tetapi sudahkah kita mengapresiasi usaha anak dalam menguasai sebuah topik atau materi yang diujikan?

Alih-alih menodong anak begitu saja untuk mendapatkan nilai yang lebih baik (dan kita sudah tahu nilai bukan cermin yang sempurna atas kemampuan anak), Ayah Ibu bisa membahas mengapa anak bisa dengan leluasa mengerjakan suatu topik, dan memiliki kesulitan menguasai topik atau jenis pertanyaan yang berbeda. Dengan begitu, Anda lebih mudah memetakan di mana sebenarnya kekuatan serta minat anak.

Tidak ada cara lain selain tes dan ujian untuk mengamati perkembangan belajar anak

Sikap orangtua terhadap tes ketiga yang harus diubah, adalah anggapan bahwa tes maupun ujian memiliki peran tunggal dalam mengamati perkembangan belajar anak. Namun mengapa tes dan ujian tampak berperan besar dalam menilai belajar anak? Ya karena (kita menganggap) adanya itu.

Ada banyak cara lain selain tes dan ujian yang dapat membantu para orangtua memandu proses belajar dan pengembangan bakat anak. Setidaknya, untuk saat ini saya tidak berminat meminta Ayah Ibu meninggalkan atau menolak mentah-mentah tes, namun melengkapi tes dengan berbagai cara lain dalam mengamati kemajuan belajar anak.

Ayah Ibu mungkin mendapati bahwa anak Anda payah dalam matematika atau sains, melihat nilai-nilai ulangan anak selama ini. Namun pernahkah Anda bertanya dan memberi kesempatan anak bercerita tentang salah satu topik dalam matematika atau sains yang ia suka? Atau ilmuwan terkemuka seperti Einstein, Newton, atau Tesla yang ia kagumi?

Portofolio bakat anak juga bisa memberi kesempatan bagi Ayah Ibu untuk melihat sejauh mana anak berkembang dalam menekuni sebuah topik atau bidang bakat yang anak pilih. Tes tak menjadi ukuran satu-satunya, namun bisa dibandingkan dengan konsistensi anak berkarya di luar karena ada ujian. Jangan-jangan, selama ini anak hanya belajar atau berkarya karena akan dinilai – dan kita sebagai orangtua juga mengamini hal ini?

It takes a village to raise a child.

 

Bagaimana Ayah Ibu mengurangi kekhawatiran Anda saat anak hendak menghadapi ujian?

 

Foto oleh Anthony Buce

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

One thought on “3 Sikap Orangtua terhadap Tes dan Ujian yang Harus Diubah”

  1. Gantama says:

    Umumnya orangtua hanya mengikuti perkembangan dan nilai yang digunakan di masyarakat, alhasil mereka hanya menuntut hasil tanpa memikirkan proses. Sebagai orangtua yang cerdas, harus lebih terbuka dengan pemikiran-pemikiran baru sehingga dapat mendorong anak untuk lebih kreatif dan berhasil dengan caranya.

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye