4 Cara Praktis Mengurangi Kecemasan Orangtua atas Kegagalan Anak

Diposting oleh:

Bakat Anak – Mengapa anak boleh gagal?

Salah satu ketakutan yang paling sering dihadapi orangtua adalah mengenai prestasi anak di sekolah. Ketakutan tersebut membuat kita selalu waspada dan mencegah setiap kesalahan kecil yang dibuat anak. Ketakutan yang membuat anak tidak belajar tentang konsekuensi, padahal anak boleh merasakan kegagalan. Bagaimana cara mengurangi kecemasan orangtua atas kegagalan anak?

bakat anak mengurangi kecemasan orangtua

1. Jangan bawakan PR anak yang ketinggalan

Anak pasti pernah alpa, namun yang lebih sering tergopoh-gopoh adalah orangtuanya. Termasuk misalnya, ketika anak lupa membawa PRnya ke sekolah, atau ada tugasnya yang keliru. Tidak ingin anak dikurangi nilainya atau mendapatkan konsekuensi atas kelalaiannya, kita terus merepotkan diri. Ini adalah kekhawatiran-kekhawatiran jangka pendek, atas pekerjaan dan nilai-nilai anak. Padahal, membesarkan anak adalah sebuah misi jangka panjang.

Cara pertama mengurangi kecemasan orangtua – yakni diri kita sendiri – adalah dengan membayangkan apa yang bisa anak pelajari saat ia menemui kegagalan. Dan tentu saja, jangan marahi anak atas kesalahannya. Konsekuensi yang anak terima sudah cukup. Anak jadi tahu rasanya bagaimana membuat PR tanpa harus dibayang-bayangi koreksi orangtuanya, dan saat ada beberapa nomor yang salah, ia belajar dua hal: (1) ia bisa memperbaikinya, dan (2) apapun hasilnya, ia sudah mengerjakannya secara mandiri.

2. Nilai bisa jadi penting, namun geser prioritasnya

Dalam dunia pendidikan yang masih mengagung-agungkan nilai, kita memang tak bisa menolak keberadaannya. Namun saat Ayah Ibu hanya terpaku pada hasil belajar anak semata, kita mengabaikan proses belajar yang bisa mereka alami. Fokus pada hasil tanpa memedulikan proses membuat kita melakukan cara apapun agar anak terlihat sempurna… dan menghindari kegagalan yang berharga.

Bagaimana menggeser nilai sebagai prioritas di bawah proses belajar anak? Cara kedua mengurangi kecemasan orangtua atas kegagalan anak adalah dengan memberi kesempatan mereka belajar mandiri. Belajar mandiri berarti belajar menghadapi konsekuensi yang bakal diterima sebagai bagian dari proses belajarnya. Ini tak lepas dari keyakinan bahwa anak kita bisa – dan bisa tidak harus berarti sempurna. Termasuk, percaya bahwa anak sudah bisa mengerjakan dan memeriksa PRnya sendiri, menyiapkan keperluan sekolahnya, dan sebagainya.

3. Sebelum mengecek tas anakmu, biarkan mereka berbicara

Beberapa orangtua suka melakukan inspeksi sembunyi-sembunyi dengan memeriksa tas sekolah anak. Kebiasaan ini biasanya dimulai saat Ayah Ibu kerap kali memarahi anak atas kesalahan yang mereka buat terkait sekolah. Kita menaruh terlalu banyak harapan bahwa anak dapat mengerjakan segala sesuatunya dengan sempurna, sehingga anak pun takut gagal. Saat anak gagal, mereka tak pernah menceritakannya, sampai Anda sendiri menemukan hasil pekerjaan sekolah anak di dalam tas mereka (tanpa seijin anak).

Padahal, kontrol orangtua yang berlebihan seperti ini menghambat tumbuhnya kemandirian anak – termasuk dalam menyampaikan perkembangan belajar mereka, apakah mereka sedang mendapat masalah atau tidak. Cara ketiga mengurangi kecemasan orangtua akan kegagalan anak adalah dengan mengurangi kontrol yang demikian, dan mengajak anak mulai terbuka terhadap proses dan hasil belajar yang mereka dapatkan.

Tentu saja, anak lebih mudah terbuka saat tidak ada hukuman yang mengancam saat mereka ternyata mengalami kegagalan.

4. Beri kesempatan anak mengambil risiko, dan diskusikan

Saat Ayah Ibu lebih memilih untuk ‘melindungi’ nilai dan prestasi anak, pada akhirnya anak akan ikutan mencemaskan kegagalan. Anak belajar banyak dari orangtuanya, dan kecemasan sangat mudah menular. Saat anak menduga bahwa nilainya tidak akan sebagus biasanya jika ia mengajukan judul proposal karya ilmiah yang sedikit nyeleneh, membuat anak memilih untuk tidak mengambil risiko sama sekali.

Padahal, belajar itu identik dengan memasuki hutan belantara yang tidak kita kenal, atau dengan kata lain, mengambil risiko. Belajar itu keluar dari zona nyaman anak, sehingga mereka dapat mengeksplorasi hal-hal baru. Seperti ujar seorang teman, bahkan kegagalan pun memberikan informasi baru buat anak, yang dapat digunakan anak dalam uji coba belajar selanjutnya.

Saat anak memberanikan diri untuk mencoba hal baru, obrolkan dengan anak apakah mereka sudah memahami risikonya. Jika ya, dukung mereka sebisa Ayah Ibu.

Karena gagal itu manusiawi.

Kegagalan anak, maupun orang dewasa seperti kita, adalah manusiawi. Video TED yang dibawakan oleh Kathryn Schulz berikut bisa menginspirasi kita tentang betapa berharganya sebuah kegagalan – yang tak harus selalu kita hindari, atau hindarkan pada diri anak-anak.

 

Apa hal yang paling membuat Ayah Ibu takut anak gagal?

 

Foto oleh uffizi_c

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

One thought on “4 Cara Praktis Mengurangi Kecemasan Orangtua atas Kegagalan Anak”

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss