7 Tips Mengajukan Pertanyaan Keren pada Anak Sepulang Sekolah

Diposting oleh:

Bakat Anak – Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat bertanya pada anak sepulang sekolah?

bakat anak pertanyaan keren sepulang sekolah

Mengajukan pertanyaan yang tepat – dan keren – kepada anak adalah hal penting untuk disadari para orangtua, yang tentunya ingin mengetahui  kondisi anak di sekolah. Entah itu dari sisi akademis, sosial, kesehatan, dan aspek-aspek lainnya. Kita tentu banyak mendengar anak-anak yang mengalami berbagai insiden karena tidak biasa bercerita kepada orangtuanya. Bagaimana agar anak mudah bercerita? Dengan membangun percakapan yang bermakna, dimulai dari mengajukan pertanyaan yang keren, yang menantang anak untuk menjawabnya.

Jika Ayah Ibu sudah mulai belajar mengajukan pertanyaan yang keren pada anak sepulang sekolah untuk membangun percakapan yang bermakna, Ayah Ibu mungkin menyadari bahwa ada kalanya anak malas atau enggan menjawab pertanyaan Ayah Ibu. Memang, tidak semua pertanyaan keren mudah dijawab, dan seringkali membuat anak mengingat-ingat dan merasakan kembali apa yang telah dialaminya di sekolah – baik atau buruk.

Untuk menumbuhkan percakapan yang bermakna seputar kehidupan anak di sekolah, Ayah Ibu tidak hanya membutuhkan pertanyaan yang keren, namun juga waktu dan kesempatan yang tepat untuk menanyakannya. Amanda Morin, yang telah menjadi guru SD dan pendidik para orangtua selama lebih dari 10 tahun, berbagi tips mengajukan pertanyaan keren pada anak sekembalinya mereka dari sekolah. Apa saja?

pertanyaan-keren

Anak pun Butuh Waktu

Pernahkah Ayah Ibu pulang kerja dengan rasa suntuk, dan ketika sampai rumah ingin beristirahat saja tanpa diganggu dengan berbagai pertanyaan dari anak? Hal tersebut juga berlaku untuk anak kita. Anak butuh waktu untuk mengolah seluruh kejadian – terutama hal-hal yang kurang menyenangkan – yang dialami di sekolah. Oleh karena itu, Ayah Ibu harus peka: jangan keburu bertanya sesaat setelah ia nongol di pintu pagar. Lebih baik jika Ayah Ibu punya waktu khusus untuk mengobrol dengan anak, misalnya usai makan siang.

Biarkan Perutnya Terisi

Saya rasa hampir semua orang pernah mengalaminya: kesulitan menjawab pertanyaan saat sedang lapar. Rasa lapar membuat orang dewasa maupun anak-anak sama-sama tidak fokus, sehingga Ayah Ibu dapat menunda pertanyaan-pertanyaan keren yang ingin ditanyakan sampai saat anak tidak lagi merasa lapar. Jadi, biarkan perutnya terisi terlebih dahulu.

Jangan Tanyakan Hal yang Sama

Ini salah satu hal paling penting yang perlu disimak para orangtua. Dengan 20 pertanyaan keren maupun inspirasi lain yang bisa Ayah Ibu kembangkan, tidak ada alasan bagi kita untuk menanyakan hal yang sama setiap anak pulang sekolah. Apalagi pertanyaan-pertanyaan template seputar tugas, nilai, dan ulangan. Boleh-boleh saja menyinggungnya, tetapi dunia sekolah anak tak hanya berisi angka-angka. Pertanyaan yang sama membuat anak merasa jengah, karena bukan lagi rasa ingin tahu orangtua yang tercitra, namun rutinitas. Anak pun akhirnya menggunakan jawaban template.

Jangan Lupa Berbagi Cerita

Jangan hanya menuntut anak bercerita, tanpa membagikan juga cerita keseharian Ayah Ibu kepada anak. Ingat, percakapan yang bermakna bersifat dua arah, dan saat anak berkesempatan mendengar cerita orangtuanya, mereka bisa belajar memahami masalah orang dewasa, selagi belajar bertanya. Jika perlu, mulailah bercerita tentang hari Ayah Ibu sebelum bertanya tentang keseharian anak di sekolah.

Mari tidak Mengetes

Saat Ayah Ibu sudah mengetahui jawaban atas pertanyaan yang ingin diajukan kepada anak, kita tidak perlu lagi menanyakannya. Anak justru akan mengira bahwa ada maksud tersembunyi selain rasa ingin tahu orangtua tentang apa yang dialami dan dikerjakan anak selama seharian di sekolah – seperti mengetes.

Ajukan Pertanyaan Terbuka

Pertanyaan keren tidak hanya tentang konten, namun juga tentang cara kita bertanya kepada anak. Sebisa mungkin, Ayah Ibu menggunakan pertanyaan terbuka – meskipun tidak menuntut kemungkinan kita menggunakan pertanyaan tertutup. Pertanyaan terbuka tidak dengan mudah dijawab dengan kata “ya” atau “tidak”, “sudah” atau “belum”, atau seperti contoh yang saya berikan di paragraf pertama, “Ya gitu.” Jika Ayah Ibu memang harus menggunakan pertanyaan tertutup, jadikan pertanyaan tersebut pertanyaan awal sebelum berlanjut ke pertanyaan yang lebih dalam.

Tanyakan Apakah Anak Butuh Saran

Saat anak akhirnya menceritakan kejadian kurang menyenangkan atau masalah yang menimpanya maupun orang lain di sekolah, sebagai orangtua kita pasti ingin membantu anak menyelesaikan masalahnya. Namun, jangan keburu menawarkan solusi: bisa jadi anak hanya ingin melegakan perasaannya saat itu, karena ia sebenarnya sudah memiliki cara untuk menyelesaikannya. Saat anak memang butuh saran, jangan langsung melemparkan jawaban, namun ajak anak berpikir untuk melatih kemampuan menyelesaikan masalah.

Apa percakapan terkeren Ayah Ibu dengan anak seputar sekolahnya?

 

Foto oleh Kinderoase Lombok

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye