Terlalu Kencang Menyetel Lagu, Remaja Ini Diomeli Orangtuanya. Lihat Yang Terjadi Kemudian

Diposting oleh:

Bakat Anak – Respon remaja ini saat diomeli orangtuanya sangat mengejutkan, tak seperti remaja pada umumnya.

Apa yang biasanya terjadi saat anak-anak remaja mendapatkan omelan atau nasihat dari orangtuanya? Masuk kamar dan mengunci diri? Balik membentak? Memilih diam dan tak peduli? Bagaimana dengan anak Anda? Remaja satu ini justru menganggap serius nasihat orangtuanya, dan menjadikannya sesuatu yang sangat brilian. Apa itu? Simak yuk.

bakat anak terlalu kencang menyetel lagu remaja ini diomeli orangtuanya

Remaja dan musik

Tak perlu dimungkiri bahwa dunia remaja terlibat erat dengan dunia musik – biasanya yang sedang ngetren saat itu. Anak-anak remaja ini bisa memilih untuk menyetel radio atau pemutar DVD, atau jika ingin lebih tenang, menyetel lagu dengan headphone. Namun ada kalanya kita (tak hanya remaja, lho) secara tak sadar menyetel lagu dengan earphone atau headphone terlalu kencang, hingga kedengaran orang lain. Saya sendiri dulu beberapa kali diomeli karena suka banget menggunakan earphone.

Kingsley Cheng, seorang remaja berusia 16 tahun juga sering menyetel lagu menggunakan headphone terlalu keras. Tiap kali kedengaran, orangtuanya akan mengomeli dan menasihatinya, bahwa volume suara yang terlalu keras bisa merusak pendengaran. “Kecilkan volumenya atau kamu bakalan tuli!” teriak sang ayah berulang-ulang, berharap sang anak mengubah perilakunya, seperti dikutip dari Tech In Asia. Kira-kira dengan model orangtua seperti ini, apa respon Kingsley Cheng?

Mengubah omelan menjadi ide brilian

Tidak seperti remaja pada umumnya, Kingsley Cheng pada akhirnya justru menanggapi omelan orangtuanya dengan serius. Benarkah apa yang dikatakan orangtua saya, pikir Kingsley. Remaja ini lalu memutuskan untuk melakukan pencarian di internet dan mendapatkan hasil yang mengejutkan. Apa itu?

Berdasarkan data dari World Health Organization dan American Academy of Audiology, volume suara maksimum yang direkomendasikan adalah 85 desibel dalam jangka waktu mendengarkan 8 jam. Fakta selanjutnya yang Kingsley dapatkan adalah hampir semua headphone bisa menaikkan volume sampai di atas 100 desibel. Paparan yang sama menyebut bahwa 12% anak berusia 6-19 tahun menderita kehilangan pendengaran, akibat kelalaian menggunakan headphone.

Kingsley Cheng kemudian mencoba mencari apakah ada headphone yang bisa membantu melindungi pendengaran. Namun modelnya tidak cocok bagi sang remaja yang ingin tetap tampil keren dengan headphone-nya. Pengalaman mendengarkan musik yang diinginkannya pun belum seideal yang ditawarkan beberapa headphone tersebut. Ide brilian pun didapatkannya. Kalau tidak ada yang cocok, mengapa tidak mengembangkan headphone sendiri saja?

bakat anak headphone kingsley cheng aegis pro aegis acoustics

Gandeng sang ayah untuk kembangkan Aegis Pro

Kingsley Cheng sadar betul apa yang ingin ia perbuat. Melihat potensi sang ayah karena sudah berkecimpung di industri elektronik selama 20 tahun, sang remaja kemudian berduet dengan ayahnya untuk mewujudkan impiannya: headphone teraman di dunia, yakni Aegis Pro!

Sang remaja kemudian mendirikan perusahaannya sendiri, Aegis Acoustics dan bertanggung jawab menawarkan desain dan merk headphone impiannya. Sedangkan pengembangan bisnis diserahkan pada sang ayah dan rekannya. Kingsley juga merekrut anggota tim untuk mengurus masalah teknologi headphone yang dikembangkannya. Selain menggunakan dana pribadi, sang remaja menggunakan platform urun dana (crowdfunding) untuk pengetesan Aegis Pro, dan alhasil, banyak orang menyukai dan mendukung visinya!

Untuk mewujudkan impian “headphone teraman di dunia”, Kingsley Cheng memastikan bahwa Aegis Pro akan menyetel lagu pada intensitas 85 desibel, sekeras apapun rekaman asli yang dibawakan oleh file lagu terkait. Tidak hanya itu, kedua sisi headphone akan menyala dalam waktu tertentu, sebagai peringatan bahwa pendengar sudah menggunakan headphone dalam waktu cukup lama. Ini bisa menjadi petunjuk bagi orang lain untuk mengingatkan si pengguna Aegis Pro.

Rasa ingin tahu mengalahkan segalanya

Salah satu bentuk motivasi internal, dorongan dalam diri anak untuk melakukan sesuatu adalah rasa ingin tahu. Anak yang punya rasa ingin tahu yang tinggi, tidak perlu disuruh untuk belajar, karena mereka sendiri sudah merasa penasaran secara alami. Hal ini juga dialami Kingsley Cheng dalam melahirkan headphone teraman di dunia versinya, Aegis Pro. Karena memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, remaja ini tidak lekas marah setelah diomeli orangtuanya, namun lebih memilih memastikan apakah nasihat orangtuanya benar atau salah.

Ternyata, rasa ingin tahu yang ditumbuhkan dengan baik dalam diri anak bisa melahirkan ide-ide brilian, ya! Nah, sudahkah Ayah Ibu menumbuhkan rasa ingin tahu anak Anda? Kalau belum, coba praktikkan 4 tips praktis ini, yuk.

 

Foto oleh Philippe Put

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye