Meski Hanya Pegawai Biasa, Pemuda Satu Ini Bisa Meraih Nobel Fisika

Diposting oleh:

Bakat Anak – Siapa sangka fisikawan terkenal Albert Einstein sempat ‘terdampar’ jadi pegawai kantor paten?

Hidup memang seringkali tidak lurus-lurus saja. Bahkan, yang lurus-lurus saja biasanya kurang seru. Albert Einstein, fisikawan yang dikenal dengan teori relativitasnya pun mengalami perjalanan karier yang bisa dibilang sama dengan sebagian besar kita: tidak mulus. Namun, karier bukanlah tanda titik, dan seperti pepatah tersebut, Albert Einstein akhirnya sukses sebagai seorang fisikawan. Seperti apa kisahnya?

bakat anak kisah albert einstein pegawai kantor paten biasa tapi juga fisikawan

Hadiah masa kecil

Hal-hal yang terjadi di masa kecil seringkali membentuk impian dan masa depan kita. Demikian pula dengan Albert Einstein. Suatu kali, Albert kecil yang berusia 5 tahun terbaring sakit di tempat tidur. Sang ayah lalu datang dan membawakan sebuah kompas untuk dimainkannya.

Meski sakit, Albert kecil mengalami kegembiraan yang menegangkan ketika mengamati kompas itu. Tubuhnya sampai gemetar dan menggigil ketika ia membayangkan kekuatan misterius di balik kompas tersebut. Jarumnya bergerak ke kiri dan ke kanan, mengikuti arah mata angin. Rasa ingin tahunya memuncak. Ia ingin mengetahui kekuatan yang menggerakkan jarum kompas. Rasa ingin tahu yang memotivasinya seumur hidup, mencari tahu hukum yang mengatur alam semesta.

Pengalaman masa kecil Albert Einstein melahirkan rasa ingin tahu yang dipuaskannya dengan berbagai macam cara. Ia membaca banyak buku sains. Ia menyelesaikan tantangan sains dari pamannya, yang sebenarnya meragukan kemampuan anak ini. Berdikusi panjang lebar dengan kenalan orangtuanya. Ia banyak menghabiskan waktu untuk merenungkan jawaban atas keingintahuannya.

Rasa ingin tahunya pula yang mengarahkannya dalam memilih jurusan kuliah dan memilih pekerjaan: sebagai seseorang yang berkutat di dunia fisika teoretis.

Berpikir untuk kehidupan yang lebih baik

Seperti halnya banyak orangtua lain, ayah Albert Einstein pun punya harapan kepada sang anak. Sebagai seorang insinyur yang memiliki bisnis listrik, sang ayah berharap anak laki-lakinya tersebut dapat meneruskan bisnis keluarganya. Apakah Anda dulu pernah mengalami hal seperti ini? Einstein yang mendengar hal tersebut menyampaikan kegelisahannya kepada seorang teman:

Awalnya, saya diharapkan menjadi insinyur, tetapi bayangan bahwa saya harus menggunakan energi kreatif untuk hal-hal yang membuat kehidupan yang lebih baik, dengan keuntungan suram sebagai tujuan, benar-benar tak terbantahkan bagi saya. Berpikir adalah untuk berpikir, seperti halnya musik.

Kata-kata tersebut disampaikan Einstein saat ia remaja, saat berusia 17 tahun. Di usianya yang masih muda, ia sudah mantap dengan pilihan kariernya: fisika teoretis. Albert Einstein ingin menggunakan kemampuan berpikirnya untuk membuat kehidupan yang lebih baik

Gagal, dan gagal lagi

Menekuni karier bukanlah hal yang mudah, bahkan bagi Albert Einstein yang kemudian dikenal sebagai fisikawan terkenal. Ia punya kesamaan dengan beberapa dari kita, atau mungkin anak-anak kita juga. Ya, Einstein yang mendaftar di Politeknik Zurich tersebut ternyata gagal di ujian masuk. Dan sama seperti SBMPTN, kalau gagal harus menunggu setahun kemudian. Einstein tidak menyerah, setelah melakukan persiapan selama satu tahun, ia pun akhirnya lulus ujian masuk dan diterima di kampus tersebut.

Setelah menyelesaikan studinya, Einstein mengangankan pekerjaan sebagai asisten profesor, posisi yang dibayangkannya bisa memuaskan keingintahuannya dalam bidang fisika teoretis. Tapi meski ia mengirim lamaran ke para profesor dari berbagai kampus di Eropa, ia belum juga mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya.

Bahkan, Einstein pun tidak mendapatkan pekerjaan itu dari kampusnya sendiri. Seorang profesor di kampusnya justru memilih asisten yang berasal dari luar bidang studinya. Ia kemudian mencoba menulis makalah yang diterbitkan pada sebuah jurnal terkemuka, dan melampirkan makalah itu pada lamarannya. Upayanya ini pun tidak membuahkan hasil. Ternyata sulit juga bagi Albert Einstein untuk mendapatkan pekerjaan yang didamba-dambakannya.

Tawaran-tawaran yang menggoda

Melihat sang anak yang masih menjadi pengangguran, sang ayah tidak berpangku tangan. Beliau menawarkan kesempatan bagi Albert Einstein untuk mengurus bisnis keluarga. Einstein menolak dengan halus tawaran tersebut. Ia pada dasarnya memang tidak tertarik dengan aktivitas konkret. Tawaran pekerjaan di perusahaan asuransi dari temannya pun ditolaknya. Ia menjelaskan penolakannya tersebut dengan alasan “orang harus menghindari kegiatan yang melemahkan semangat“.

Albert Einstein bersikukuh untuk tetap di jalan fisika, sebagai bentuk rasa ingin tahunya sekaligus ketakjubannya tentang sains. Ia pun memilih untuk menjadi guru les matematika dan fisika dengan bayaran seadanya… selama empat tahun. Pada akhirnya, sebuah pekerjaan tetap mengetuk pintunya, yakni menjadi pegawai kantor paten. Bukan pekerjaan idamannya, tapi pekerjaan tetap tersebut bisa memenuhi kebutuhan Einstein yang semakin mendesak.

Akhirnya jadi pegawai kantor paten, namun…

Namun rasa ingin tahu Albert Einstein tidak pernah mati. Di sela-sela kesibukannya bekerja sebagai pegawai kantor paten, Einstein menuliskan makalah-makalah revolusioner yang mengubah dunia fisika, bahkan seluruh dunia. Makalah-makalah itu yang mengantarkan Einstein untuk mendapatkan posisi sebagai profesor, posisi yang didambakannya, hingga meraih hadiah Nobel Fisika.

Einstein sama seperti kebanyakan dari kita, orang-orang biasa dengan pilihan yang mungkin biasa, pilihan yang diambil karena kondisi hidup yang mendesak. Mungkin Ayah Ibu mulai khawatir dengan masa depan anak Anda yang baru lulus kuliah, atau yang beberapa bulan belum pula mendapat pekerjaan. Einstein pun mengalaminya. Namun ingatlah, karier bukanlah tanda titik, sehingga tidak ada kata terlambat untuk menekuni karier yang anak inginkan.

Tidak ada salahnya menjadi pegawai biasa. Seperti halnya Einstein, siapa tahu, justru berawal dari pegawai biasa, anak Anda punya kesempatan lebih untuk menekuni dan mengembangkan kariernya!

 

Ingin merintis karier anak Anda? Nantikan buku “Karier Bukan Tanda Titik”, ya!

 

Foto dicuplik dari sini

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye