Inilah Cara Sederhana yang Membuat Anak Anda Melakukan Perubahan

Diposting oleh:

Bakat Anak – Bagaimana design thinking dapat dipahami dan dilakukan oleh anak?

Berpikir desain memang lahir dari para pemikir di bidang desain di kurun 70-90an, lalu diboyong ke dunia bisnis oleh perusahaan konsultan berbasis metodologi tersebut, IDEO pada 1991. Lalu bagaimana akhirnya metodologi ini bisa ramah untuk anak? Kiran Bir Sethi, seorang desainer, pendiri sekolah Riverside, serta penggagas Design for Change, adalah yang bertanggung jawab di balik semua ini.

Secara teknis, berpikir desain – menggagas layaknya seorang desainer – memiliki beberapa tahapan. Pertama, diawali dengan berempati (empathize), yang sudah kita kupas secara mendalam di artikel sebelumnya. Secara umum, karena keluaran (output) dari proses ini adalah untuk manusia, seluruh proses pengerjaannya harus berorientasi kepada sang pengguna, yakni manusia itu sendiri. Itu sebabnya, produk atau jasa yang dilahirkan dari berpikir desain akan berbeda dengan yang tidak.

Setelah proses berempati dilakukan, kita akan masuk dalam proses kedua, mendefinisikan (define). Apa kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi oleh pengguna? Tentu saja, bak seorang peneliti, mendefinisikan permasalahan berarti mengambil satu fokus yang ingin kita selesaikan. Kebutuhan pengguna akan diidentifikasi melalui proses ini.

Ketiga, berpikir desain memasuki tahapan menghasilkan ide (ideate), saat seorang desainer berkumpul dengan timnya untuk mendiskusikan solusi apa yang bisa ditawarkan untuk menyelesaikan masalah pengguna, yang kemudian dituangkan dalam proses keempat, yakni reka pertama (prototype). Ide yang muncul diejawantahkan secara lebih mendetil, untuk kemudian diujicoba (test) di proses kelima. Proses ujicoba biasanya tak cukup sekali waktu – bahkan berkali-kali, namun inilah berpikir desain – sampai kita bisa menciptakan solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan pengguna.

bakat-anak-berpikir-desain-2

Setelah membaca istilah-istilah tersebut, mungkin Ayah Ibu bertanya-tanya, apakah anak saya bisa mengerti bagaimana proses berpikir desain yang dimaksud?  Tentu saja, proses yang saya jelaskan secara singkat tadi dibuat oleh orang dewasa untuk orang dewasa, sesuai dengan kondisi kebutuhan saat itu. Namun kita juga sudah belajar bahwa anak ternyata bisa menggagas ide-ide solutif, seperti orang dewasa melakukannya.

Anak bisa, namun seringkali kita sebagai orang dewasalah yang meragukan kecakapan mereka, sehingga urung memberikan kesempatan belajar – seperti belajar berpikir seperti seorang desainer untuk menyelesaikan masalah di sekitar anak. Kiran Bir Sethi, seorang desainer, baru menyadari hal ini saat ia belajar di bidang desain di usianya yang ke-17 (dan ia pun masih merasa terlambat menyadarinya), yang berujung pada pembukaan sekolah Riverside di Ahmedabad, India, dengan kurikulum yang didesainnya sendiri.

Pendirian sekolah Riverside yang berkonteks pada penerapan proses berpikir desain untuk mendidik anak-anak pun dirasa berdampak. Namun Kiran merasa bahwa jika anak-anak ini saja yang bisa menyadari kekuatan #AkuBisa, betapa eksklusif sekolah tersebut – di sisi lain ia pun belum sanggup membuka cabang di tempat lain. Oleh karena itu, tercetuslah sebuah gagasan mengenai berpikir desain untuk perubahan, yang ramah dan dapat diterapkan ke anak-anak di seluruh penjuru dunia, agar mereka pun tertular virus #AkuBisa. Sebab anak pun memang bisa, dan perlu dilibatkan dalam penyelesaian masalah di sekitar mereka.

Gagasan tersebut lahir sebagai gerakan Design for Change, yang mengandung sebuah proses berpikir desain yang telah disederhanakan, akrab, dan dengan mudah ditangkap oleh anak – bahkan anak berusia lima tahun sekalipun. Namanya adalah FIDS: Feel – Imagine – Do – Share, dan proses FIDSlah yang nantinya akan membangkitkan kesadaran bahwa #AkuBisa, bahwa setiap anak bisa membawa perubahan positif sekecil apapun.

design-for-change-berpikir-desain

Pertama, proses FIDS berawal dengan “rasakan” (feel). Sebagaimana proses berpikir desain berpusat pada penggunanya, anak pun perlu merasakan apa yang sedang terjadi di sekitar mereka, baik dengan melakukan pengamatan keluar (itu sebabnya belajar tidak secara teknis berjalan di kelas saja), maupun mendengar langsung apa yang dirasakan oleh orang lain.

Kedua, proses FIDS dilanjutkan dengan “bayangkan” (imagine). Di tahap ini, anak didorong untuk bersama-sama menggagas, membayangkan berbagai ide – sebanyak dan sebebas apapun – yang bisa jadi merupakan solusi dari permasalahan tersebut, untuk kemudian dipilih untuk diujicobakan di tahap selanjutnya.

Ketiga, proses FIDS diteruskan dengan “lakukan” (do), saat anak mulai mengubah ide yang tadinya abstrak menjadi teknis, baik dari segi peralatan, sumber daya, waktu, maupun biaya yang diperlukan. Tidak kalah pentingnya dalam proses ini adalah toleransi kegagalan: bahwa tidak semua ide dapat berjalan dengan baik. Tahapan ketiga ini dimaksudkan agar setiap aksi yang kemudian dilakukan anak, dapat ditelaah kembali efektivitas serta dampak yang dihasilkan; apakah mereka akan tetap menggunakan ide tersebut atau harus menggunakan solusi lainnya.

Keempat, proses FIDS diakhiri dengan “bagikan” (share). Keberhasilan dari seluruh rangkaian proses berpikir desain yang anak lakukan perlu dibagikan, bukan sebagai sebuah kemegahan, melainkan sebagai sebuah upaya menularkan virus #AkuBisa. Artinya, agar anak-anak lainnya pun tergugah untuk melakukan hal yang sama, karena setiap anak mampu bekerja sama untuk menyelesaikan masalah dan membawa perubahan positif.

Apa kesempatan belajar yang bisa diberikan agar anak dapat menggunakan proses FIDS untuk membawa perubahan positif di sekitarnya?

 

Foto oleh amrufm

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye