Pengembangan Bakat Hanya Untuk Anak Kota? Keliru, Anak Desa Juga Butuh

Diposting oleh:

Banyak orang menganggap pengembangan bakat anak hanya bagi anak kota. Keliru, anak desa juga membutuhkannya. Ini penjelasannya 

Pada suatu hari, seorang Agen Buku TemanTakita.com, Bu Nunik, menghubungi untuk membicarakan rencana bedah buku. Kami menyanggupi dan melakukan pertemuan di sebuah rumah makan. Pada pertemuan tersebut, Bu Nunik bersama beberapa teman mengenalkan pada kami tentang Komunitas Migunani. Kesan pertama, nama komunitas tersebut menggunakan istilah Jepang atau Korea, tapi ternyata istilah bahasa Jawa yang berarti menjadi berguna.

Ada banyak kiprah dari Komunitas Migunani mulai memberi bantuan buku, membuka taman baca, melakukan pendidikan usia dini, hingga melakukan usaha kecil. Pada pertemuan tersebut, kami membicarakan bedah buku bagi para penggerak Komunitas Migunani yang tersebar di berbagai daerah, yang kebanyakan adalah daerah pedesaan. Kami menetapkan pelaksanaan bedah buku itu dilakukan di Semarang, pada Jumat, 6 Mei 2016 yang bertepatan dengan akhir pekan yang panjang.

Karena bertepatan dengan akhir pekan yang panjang, saya mengajak isteri dan Damai untuk ikut serta melakukan perjalanan ke Semarang. Sekalian kerja, sekalian menemani keluarga berlibur. Tawaran saya disambut dengan baik. Pada Kamis pagi, kami pun berangkat sekeluarga ke Semarang dengan mengendarai mobil. Perjalanan ke Semarang ini lengkapnya bisa dibaca di blog anak saya, AyundaDamai.com di Bagian I dan Bagian II.

pengembangan bakat anak desa anak bukan kertas kosong bakat bukan takdir bedah buku 1

Bedah buku terdiri dari dua sesi, sesi pagi membedah buku Anak Bukan Kertas Kosong dan sesi siang membedah buku Bakat Bukan Takdir. Ada banyak poin yang saya jelaskan dan dijadikan tanya jawab tapi dalam tulisan ini saya akan membahas sebuah pertanyaan yang belum tuntas saya jawab dalam forum tersebut. Sebuah salah kaprah mengenai pengembangan bakat anak yang relevan dengan komunitas Migunani yang banyak bergerak di pedesaan.

Pengembangan bakat anak seringkali dianggap hanya menjadi kebutuhan anak kota, bukan kebutuhan anak desa. Bagi banyak orang, anak desa cukup bersekolah. Bagi sebagian orangtua, anak desa sekolah secukupnya yang penting bisa kerja. Dianggap anak desa tinggal di daerah yang akses dan kesempatan terbatas tidak mungkin melakukan pengembangan bakat.

pengembangan bakat anak desa anak bukan kertas kosong bakat bukan takdir bedah buku 3

Untuk menjawab apakah bakat anak hanya kebutuhan anak kota dan bukan kebutuhan anak desa, kita perlu memahami pengertian bakat anak. Sebagaimana saya tulis di buku Bakat Bukan Takdir,

Bakat adalah aktivitas atau karya anak yang sesuai potensinya dan dihargai masyarakat

Bakat bukan sekedar keterampilan atau kemampuan. Bakat bukan dinilai dari menang lomba atau jumlah piala. Bakat adalah aktivitas atau karya yang dihasilkan anak yang memberi manfaat pada masyarakat sehingga masyarakat pun menghargainya.

Bakat adalah perpaduan antara potensi anak dengan kesempatan yang tersedia di lingkungan. Bakat selalu melekat pada suatu sistem budaya. Suatu bakat bisa jadi tidak dihargai di suatu daerah tapi dihargai di daerah lain. Aktivitas menyelam dihargai di daerah pantai tapi tidak ada gunanya di daerah gunung. Album piano akan lebih dihargai di kota dibandingkan di desa.

Apakah anak desa butuh pengembangan bakat? Anak desa jauh lebih membutuhkan pengembangan bakat dibandingkan anak kota. Tanpa pengembangan bakat, anak desa belajar pengetahuan dan keterampilan umum yang seringkali tidak relevan dengan potensi dan kesempatan di desanya. Tak heran bila banyak lulusan sekolah atau perguruan tinggi cenderung memilih meninggalkan desanya untuk mencari kelompok masyarakat yang menghargai pengetahuan dan keterampilan umum tersebut.

Sebaliknya bila anak desa mengembangkan bakatnya. Dengan potensinya, anak desa akan mengenali berbagai potensi di sekitar desanya dan mengubahnya menjadi karya yang dihargai masyarakat desa itu sendiri maupun masyarakat daerah lain.

Semisal di daerah yang mempunyai hutan bambu. Bayangkan paduan kecerdasan musik dengan alat musik bambu menghasilkan musik bambu yang merdu. Bayangkan paduan kecerdasan alam dengan beragam bambu menghasilkan kajian jenis-jenis bambu. Bayangkan paduan kecerdasan imaji dengan bahan bambu yang menghasilkan lukisan atau prakarya bambu yang indah. Bayangkan paduan kecerdasan diri dengan bambu sebagai bahan renungan menghasilkan tulisan mengenai refleksi bambu.

Bayangkan paduan kecerdasan tubuh dengan peralatan bambu menghasilkan olahraga bambu. Bayangkan paduan kecerdasan aksara dengan bambu sebagai metafor akan menghasilkan puisi bambu. Bayangkan paduan kecerdasan sosial dengan bambu akan menghasilkan pebisnis yang memahami industri bambu. Bayangkan paduan kecerdasan logika dengan bambu akan menghasilkan perangkat bambu yang penting bagi kehidupan. Bayangkan bila paduan tersebut digabung atau dikolaborasikan maka kemungkinan kombinasinya menjadi tidak terbatas.

Apa contohnya? Anda bisa membaca kisah William Kamkwamba dengan kecerdasan logika membangun kincir pembangkit listrik dan irigasi di desa. Anda bisa membaca kisah Mikail Kaysan yang menekuni bakat sebagai pengamat burung. Anda bisa membaca kisah Sang Puan Daulat yang mempunyai kegemaran Menggambar untuk Petani.

Lalu siapa guru yang akan memfasilitasi pengembangan bakat anak desa? Berbeda dengan sekolah formal, pengembangan bakat dapat difasilitasi oleh siapapun selama mempunyai pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan anak desa dalam mengembangkan bakatnya. Sumber pengetahuan dan “ahli” desa yang selama ini diabaikan justru bisa menemukan kembali peran pentingnya.

Pengembangan desa yang selama ini hanya memperhitungkan potensi alam, mendapat kemungkinan unik yang lebih kaya bila mempertimbangkan keunikan bakat, sumber pengetahuan dan “ahli lokal” yang ada di suatu desa. Kemungkinan unik yang bisa digunakan sebagai dasar untuk membangun “brand” dari suatu desa.

Dengan pengembangan bakat anak yang mengacu pada buku Bakat Bukan Takdir, anak desa justru lebih cepat dan lebih fokus menemukan kecerdasan dirinya, menemukan bakat yang ingin dikembangkan dan menghasilkan karya yang bermanfaat. Pengembangan bakat dibutuhkan baik oleh anak kota maupun anak desa.

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

One thought on “Pengembangan Bakat Hanya Untuk Anak Kota? Keliru, Anak Desa Juga Butuh”

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss