Belajar Mengatur Diri Sendiri, Anak-anak Jalanan ini Bahagia (1)

Diposting oleh:

Bakat Anak – Apa resep agar anak dapat berbahagia?

David Gribble, seorang guru yang menghabiskan lebih dari 30 tahun untuk mengajar di berbagai sekolah di Inggris, menyimpulkan bahwa salah satu jawaban dari pertanyaan di atas adalah memberi kesempatan pada anakuntuk mengatur dan mengarahkan diri mereka sendiri dalam proses belajar.

Sekolah-sekolah yang menawarkan kesempatan tersebut mengizinkan David Gribble melihat anak dengan beragam kepribadian dan bakat merasa sejahtera saat dapat mengarahkan diri sendiri dalam belajar. Namun saat itu, kebanyakan murid Gribble berasal dari keluarga kelas menengah. Apakah hal ini juga berlaku bagi anak-anak yang kurang beruntung?

bakat anak jalanan 1

 

Asia Selatan dan Asia Tenggara menjadi salah satu penyumbang jumlah anak jalanan terbesar yang terpaksa bekerja di bawah umur untuk bertahan hidup. Seringkali juga mereka terlibat dengan masalah hukum dan dianggap sebagai sampah masyarakat – hal yang sama terjadi di Indonesia.

Rita Panicker, seorang pekerja sosial, menghela napas saat melihat bahwa kebanyakan organisasi sosial di India juga memandang anak-anak jalanan sebagai penerima bantuan yang pasif. Anak-anak ini hanya ditawarkan serangkaian pembelajaran yang hanya sedikit sekali berkontribusi dalam penyelesaian masalah mereka di jalanan.

“Saya ingin memahami mereka. Saat itu untuk pertama kalinya saya mencoba memanggil dan mengajak seorang anak jalanan mengobrol, namun ia justru melarikan diri. Saya mencoba mengejarnya, namun justru orang-orang yang melihat saya di stasiun ikut mengejar anak tersebut sambil berteriak, ‘Copet! Copet!’ Saya pun mencoba menjelaskan, ‘Tidak, dia bukan pencuri!’ Saya tak berhasil menemukan anak tersebut, malah seorang polisi mendatangi saya dan meminta saya untuk tidak membuat masalah seperti barusan.”

Pengalaman Rita tersebut membuktikan bahwa anak-anak jalanan seringkali tidak mendapat kepercayaan dari orang dewasa. Itu sebabnya mereka tidak pernah merasa aman, apalagi merasa berharga. Namun Rita Panicker tak berhenti di sana – ia belajar berinteraksi dengan anak-anak jalanan, lebih dekat dan mendalam, yang mengantarkannya untuk mengembangkan sebuah program pendidikan alternatif bernama Butterflies. Program yang dimulai pada 1989 tersebut ditujukan untuk membantu anak-anak berusia 8-15 tahun ‘mengembangkan sayap’ mereka untuk ‘terbang bebas’ ke manapun mereka ingin.

Salah satu prinsip utama Butterflies adalah partisipasi anak, sehingga mereka benar-benar dilibatkan dan dipercaya untuk mengambil keputusan. Para pendidik menghabiskan hari-hari mereka di jalan, mengobrol dengan anak-anak jalanan, menanyakan apa yang ingin anak-anak ini lakukan, dan dalam hal apa mereka membutuhkan bantuan.

Rita mengisahkan salah satu pengalaman bersama anak-anak jalanan, bahwa mereka kesulitan mengatur keuangan, sehingga mereka bersepakat untuk membuat bank sendiri. Melalui diskusi, terdapat dua aturan yang harus dipenuhi seorang anak yang ingin meminjam uang: (1) tidak boleh memiliki ketergantungan pada obat terlarang, dan (2) jika uang tersebut dipergunakan untuk bisnis, bisnis yang dilakukan tidak boleh terkait hal-hal yang melanggar hukum. Dua aturan ini muncul dari ide anak-anak tersebut, yang memperlihatkan kedewasaan mereka jika diberikan kesempatan!

Artikel ini bersambung ke bagian kedua.

 

Foto oleh Georgle Pauwels

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss