Ternyata, Jadi Anak Keren itu tak harus Mengikuti Tren!

Diposting oleh:

Bakat Anak – Apa dampak saat anak berusaha menjadi anak keren dan mengikuti tren di sekolah?

Jadi anak keren dan terkenal, dikelilingi banyak orang di sekolah? Siapa yang tak ingin? Setidaknya, pasti pernah sedikit terbersit dalam benak kita – sewaktu sekolah dulu – untuk menjadi salah satu dari mereka.

Tentu, definisi anak keren dan populer di sekolah selalu berubah dari zaman ke zaman. Biasanya, ada atribut maupun kebiasaan-kebiasaan tertentu yang mereka lakukan. Dan seperti halnya bergabung di suatu kelompok, anak yang ingin ikutan keren pun harus melakukan hal-hal serupa. Seperti apa anak keren di sekolah di zaman Ayah Ibu?

bakat anak keren

Masa remaja memang adalah saat-saat yang krusial bagi seorang anak untuk mendapatkan banyak teman dan memperoleh posisi tertentu dalam pertemanan. Kalaupun Ayah Ibu merasa kurang update dengan kehidupan remaja keren dan gaul di sekolah, selain bertanya ke anak, Ayah Ibu juga bisa menyempatkan diri ke toko buku dan mengintip satu-dua novel teenlit dan chicklit yang tersedia. Ada cara yang lebih mudah lagi: tontonlah sinetron remaja di televisi (yang mungkin sudah menjadi tontonan wajib di rumah Anda).

Tentu, siapa sih yang tidak ingin menjadi pusat perhatian, atau bahkan menjadi pembuat tren, diikuti oleh banyak anak di sekolah? Setidaknya, di masa saya SMP dulu ada hal yang dianggap keren oleh sebagian besar remaja laki-laki: telepon genggam dan game online. Tidak seperti sekarang di mana kedua hal tersebut bisa ditemui di hampir semua kalangan, telepon genggam dan game online saat itu adalah hal yang cukup eksklusif dan tak dimiliki semua orang. Banyak yang berlomba-lomba untuk mendekati dan menjadi seperti mereka. Saya hanya bisa mendengarkan dari jauh 😀

Nah, buat Ayah Ibu yang memiliki anak remaja, bisa jadi anak mengalami hal yang sama dengan saya. Jauh di dalam lubuk hatinya, anak sebenarnya ingin juga seperti teman-teman yang dianggap keren, bisa bercerita hal ini-itu di sekolah. Mungkin anak Ayah Ibu mulai meminta beberapa barang atau hal, yang kalau dipikir-pikir, tidak terlalu berhubungan dengan kegiatan di sekolah. Namun, secara ekonomi Ayah Ibu tidak berkeberatan untuk membelikannya.

joseph-allen-anak-keren

Hanya saja, ternyata (selalu berusaha) menjadi anak keren di sekolah memiliki dampak panjang. Setahun lalu, Joseph Allen, profesor psikologi di Universitas Virginia mempublikasikan hasil penelitiannya mengenai ‘menjadi remaja populer di sekolah’. Penelitian bertajuk Whatever Happened to the Cool Kids? tersebut menunjukkan bahwa remaja yang berusaha menjadi keren dan populer di antara teman-temannya, justru berisiko lebih tinggi mengalami masalah saat dewasa. Tidak main-main, masalah-masalah yang mungkin muncul tergolong berat, seperti penyalahgunaan obat terlarang dan alkohol, serta tindak kejahatan.

Mengapa demikian? Ada dua argumen kuat yang disampaikan dalam penelitian tersebut. Pertama, remaja yang mengejar popularitas dan berusaha menjadi anak keren tak memiliki waktu untuk mengembangkan diri, dan seiring teman-temannya ‘meninggalkannya’ dengan urusan masing-masing, mereka akan semakin berusaha mendapatkan perhatian, dengan cara apapun, termasuk kenakalan remaja. Kedua, argumen lain menyatakan bahwa remaja-remaja yang berusaha keren di mata teman-temannya ini terbebani oleh banyak tuntutan – apa yang harus mereka pakai, perilaku apa yang harus mereka tunjukkan, dan sebagainya.

Apa yang bisa Ayah Ibu lakukan sebagai orangtua saat menghadapi anak remaja yang terpapar oleh fenomena ini? Tentu, adalah sebuah keinginan yang wajar untuk menjadi pusat perhatian dalam pertemanan. Namun, ternyata menjadi anak keren itu tidak harus mengikuti tren.

Mitchell J. Prinstein, profesor psikologi dari Universitas North Carolina, menyatakan dalam hasil penelitiannya bahwa saat anak ingin diterima oleh teman-temannya, kita sebagai orangtua dapat mendorong anak untuk menjadi diri sendiri. “Menjadi remaja,” ujar sang profesor, “berarti mengapresiasi keunikan dan rasa percaya diri yang timbul dari dalam diri. Remaja yang memilih menjadi diri sendiri tetap dapat dianggap keren, meskipun tidak mengikuti apa yang teman-temannya lakukan.”

Bagaimana kita sebagai orangtua dapat mendorong anak agar mereka menjadi diri sendiri? Cara terbaiknya adalah menerima dan mengapresiasi apapun kekuatan dan bakat anak. Saat anak melihat bahwa orangtua menilai bahwa apa yang selama ini ditekuninya keren – anak akan lebih percaya diri dalam mengembangkan, apapun bakatnya.

Apa pengalaman berkesan Ayah Ibu dalam mengenal, menerima, dan mengapresiasi kekuatan anak?

 

Foto oleh Seth Dickens

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye