Tahukah Anda 3 Dampak Positif Belajar Mandiri buat Anak ini?

Diposting oleh:

Bakat Anak – Apa yang terjadi saat anak berkesempatan untuk belajar mandiri?

Apa perbedaan anak yang belajar karena disuruh dengan belajar karena kemauan dalam diri? Eksperimen self-directed learning yang dilakukan seorang remaja berusia 17 tahun, yang akan saya bagikan dalam artikel ini, akan memperlihatkan dampak belajar mandiri buat anak.

Konon, sekolah adalah tempat paling oke buat para remaja. Nick Bain, juga seorang remaja, mengaku sangat menyukai sekolah. Namun, di sisi lain ia juga menyadari bahwa sekolah juga menyodorkan setumpuk rutinitas, yang membuatnya tak dapat merenungkan pendidikan sebagai bagian yang lebih besar dalam proses belajarnya.

bakat anak belajar mandiri

Apa yang Nick Bain kemudian lakukan? Ia yang bersekolah di Colorado Academy, Denver ini memutuskan untuk mencatat apa yang ia lakukan di sekolah tiap 15 menit. Remaja ini kemudian menemukan fakta bahwa dari 7 jam kehadirannya tiap hari di sekolah, waktu efektif untuk belajar di kelas hanyalah 2,5-3 jam saja, termasuk untuk mendengarkan dan mendapat instruksi dari guru. Sisanya? Ya ke kantin, baca buku, dan melakukan kegiatan yang biasanya dianggap tak berkaitan dengan sekolah.

Nick Bain kemudian secara tak sengaja menonton video TED Sugata Mitra tentang Hole in the Wall, atau Lubang di Tembok. Ia menyaksikan anak-anak India yang tak perlu dipaksa belajar dan terjebak rutinitas belajar. Mereka saling mengajar untuk mengoperasikan komputer. Nick Bain takjub melihat bagaimana kekuatan motivasi intrinsik mampu mendorong anak untuk belajar dengan kemauan sendiri sekaligus merasakan dampak belajar mandiri.

Menyadari hal ini, Nick Bain kemudian memutuskan untuk melakukan sebuah eksperimen. Dengan membujuk orangtua dan sekolahnya, sang remaja ini ingin mencoba menghabiskan trimester akhir di kelas juniornya untuk belajar seorang diri, alias self-directed learning. Ia tetap mengikuti ujian dan mengerjakan tugas seperti teman-temannya yang lain, namun ia tak masuk kelas. Sembari bereksperimen, Nick Bain menuliskan perjalanannya dalam sebuah jurnal, seperti yang saya cuplikkan sebagai berikut:

belajar-mandiri

6 Maret 2015

“Ternyata aku berada di bawah tekanan. Meskipun kebebasan ini seharusnya tidak memberikan banyak tekanan, ternyata justru menekanku. Aku terus berpikir: apakah apa yang kulakukan sekarang sudah menunjukkan pengelolaan waktu yang baik, dan sepertinya justru memperlihatkan tidak efisiennya diriku. Ini lebih sulit ketimbang yang kuduga, dan kurang efisien ketimbang yang kuduga. Ternyata aku merasa bahwa aku tak pernah benar-benar menyelesaikan sesuatu, dan ada saja hal yang bisa aku kerjakan.”

Apa dampak belajar mandiri pertama yang dirasakan Nick Bain? Sang remaja awalnya mencoba mengelola waktu belajarnya dengan membagi porsi tiap topik sedikit-sedikit untuk dipelajari dalam satu hari. Ternyata hal ini kurang efektif. Ia akhirnya membuktikan bahwa menghabiskan satu hari untuk menekuni satu topik membuatnya lebih banyak belajar. Fakta ini ditemukannya saat berusaha membaca sebuah novel berbahasa Perancis, yang ternyata dapat dihabiskannya dalam sehari.

Kini, Nick Bain tahu bagaimana kemampuan mengendalikan proses belajarnya sendiri, termasuk mengelola waktu, membuatnya belajar lebih efektif.

2 Juni 2015

“Hari ini adalah hari terakhir sekolah. Namun tidak terasa demikian buatku. Aneh juga, ya. Aku mengayuh sepedaku pulang ke rumah, makan buah (saat itu masih tengah hari), dan menulis esai 3 halaman tentang Kant dan Voltaire. Kalau aku melakukan hal yang sama seperti ini di hari terakhir sekolah di tahun sebelumnya, aku pasti sudah menertawakan diriku sendiri.”

Apa dampak belajar mandiri kedua yang dirasakan Nick Bain? Selain akhirnya bisa melihat sekolah dan para gurunya sebagai sebuah hal yang berbeda – yakni rekan yang dapat memandu proses belajar – Nick merasa bahwa ia bisa belajar itu tidak terikat oleh waktu dan usia. Ia bisa menentukan fokus belajar dan mengembangkan bakat di umur berapa saja, dan yang menarik, ia tidak harus ikut berhenti belajar saat musim sekolah berakhir.

Kini, Nick Bain tahu bahwa gemar belajar membuatnya belajar kapan saja, bahkan saat semua orang berhenti belajar.

18 Maret 2015

“Aku sebenarnya ragu untuk menuliskan ini (karena mungkin ini tidak benar), namun aku merasakan hal yang sama yang dirasakan Nate Newman di Stanford: ‘Ini adalah saat paling membahagiakan dalam hidup.’ Adalah berisiko untuk mengatakan hal tersebut, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian. Namun satu hal, aku tak pernah merasakan bahwa belajar bisa seasyik ini. Aku hanya berharap aku bisa belajar seperti ini untuk seterusnya.”

Apa dampak belajar mandiri ketiga yang dirasakan Nick Bain? Ia merasakan bahwa saat berkesempatan untuk mengelola proses belajarnya sendiri – termasuk memilih topik yang disukainya – belajar jadi lebih memuaskan. Belajar jadi terasa lebih bertujuan, dan ia bisa belajar mendalam. Nick Bain menjadi lebih rileks belajar, dan karena eksperimen yang dilakukannya melibatkan penilaian ‘lulus/tidak lulus’, sang remaja tak perlu khawatir harus mengejar nilai sempurna. Sebaliknya, ia benar-benar menekuni suatu hal karena ia memang ingin melakukannya.

Kini, Nick Bain tahu bahwa belajar jadi lebih bermakna saat ia punya dorongan dari dalam diri untuk melakukannya – dengan demikian ia tak perlu benci belajar.

Apa inspirasi dari eksperimen self-directed learning Nick Bain yang bisa dirasakan juga oleh anak Ayah Ibu? Dengan memberi kesempatan pada anak untuk mengelola proses belajarnya sendiri, anak bisa merasakan, setidaknya tiga dampak belajar mandiri: dari kemampuan mengendalikan proses belajar, menumbuhkan sikap gemar belajar, sampai belajar yang bermakna.

Kesempatan ini bisa kita mulai berikan dengan memberi kesempatan pada anak untuk menemukan fokus belajar dan mengembangkan bakat yang dipilihnya, bukan yang kita pilihkan untuk mereka.

Apa kesempatan pertama yang Ayah Ibu beri pada anak untuk menumbuhkan belajar mandiri?

Foto oleh Phalinn Ooi

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye