Yang Harus Dipahami Orangtua sebelum Memasukkan Anak ke Kursus Bakat

Diposting oleh:

Bakat Anak – Mengapa pengembangan bakat anak tak cukup hanya dengan mengikutkan anak di kursus bakat?

Dalam mengembangkan bakatnya, anak Ayah Ibu mungkin mengikuti les bakat, seperti teman-temannya yang lain.
Atau mengikuti kursus daring (online) untuk meningkatkan kemampuan di bidang bakat yang anak tekuni. Namun, tahukah Anda bahwa ada hal-hal yang belum tentu ditawarkan lembaga pengembangan bakat anak?

Adalah sangat mungkin saat bakat anak berbeda dengan kita, orangtua mereka. Hal tersebut menimbulkan beberapa konsekuensi, semisal kita tidak bisa (atau, tidak sempat) mengajari anak kita sendiri. Kalau sudah begitu, Ayah Ibu akan mendelegasikan tugas tersebut kepada lembaga pengembangan bakat tertentu.

Namun sama halnya dengan sekolah, mendelegasikan tugas pengembangan bakat anak bukan berarti menyerahkan tanggung jawab orangtua kepada lembaga atau tempat les bakat anak. Apa artinya? Meskipun Ayah Ibu tak memiliki keahlian terkait bidang bakat yang ditekuni anak, kita sebagai orangtua punya peran penting dalam proses belajar mereka. Peran tersebut belum tentu dijalankan, bahkan mungkin tak tergantikan oleh lembaga bakat tempat anak belajar.

pengembangan bakat anak

Syahdan, sebuah keluarga memutuskan untuk mengikutkan anaknya di sebuah lembaga musik. Tentu saja hal tersebut dilatarbelakangi oleh pengamatan ayah ibu terhadap minat anak yang besar pada musik, dan keinginan anak untuk belajar lebih jauh.

Karena tak satupun dari kedua orangtua mahir bermain musik, diputuskanlah agar putri mereka ikut les piano, alat musik dasar yang banyak disarankan. Lembaga bakat tempat sang anak belajar piano pun mengikutkannya dalam berbagai kontes, dan beberapa kali meraih juara. Namun suatu kali, diketahui bahwa ia tak menguasai not balok, sebuah kemampuan dasar dalam bermusik.

Usut demi usut, tempat les bakat tersebut lebih mendorong anak untuk menghapal lagu atau menggunakan not angka. Meskipun sang anak meraih juara, proses belajar yang dilakukannya tidak tepat, dan hanya berfokus pada hasil belajar, yakni menang. Kedua orangtua akhirnya memutuskan untuk memindahkan putri mereka ke lembaga lain yang lebih berfokus pada proses belajar anak. Kisah pengembangan bakat anak tersebut dialami Damai, putri Bukik Setiawan, yang selengkapnya bisa dibaca di sini.

Cerita di atas memperlihatkan kepada kita bahwa pengembangan bakat anak bukan hal main-main yang dapat dengan mudah diserahkan ke tempat les bakat semata. Selain berperan dalam memilih kursus bakat yang berfokus pada proses belajar dan usaha anak, ada hal penting lain yang bisa jadi tidak diajarkan di tempat-tempat tersebut. Apakah itu?

Tentu bukan kemampuan bermain alat musik atau menggambar atau memasak, karena ini adalah jasa utama yang ditawarkan oleh lembaga pengembangan bakat anak. Lembaga tersebut menyediakan konten belajar yang tidak selalu bisa orangtua bagikan dengan anak. Namun seperti kisah di atas, ada kesadaran yang perlu kita tangkap sebagai pendidik pertama dan utama anak. Yakni bahwa di manapun anak belajar, pada akhirnya pengembangan bakat anak itu bersifat pribadi.

Tidak peduli apakah anak belajar di lembaga yang terkemuka, atau diajar oleh maestro di bidang bakat tertentu, pengembangan bakat adalah milik anak dan perlu dikembalikan kepada anak. Anak bisa jadi belajar hal yang sama dengan anak-anak lainnya, tetapi ialah yang paling merasakan kepuasan atau kebosanan dalam menekuni bakat tertentu. Anak pulalah yang nantinya memutuskan bagaimana ia akan menggunakan bakatnya di masa depan, dan hal ini sifatnya personal, tidak akan bisa dibandingkan dengan anak lain, maupun dipaksakan ke dalam diri anak.

Lembaga pengembangan bakat boleh jadi menutup mata akan fakta tersebut, namun sebagai pendidik utama anak, kita tidak bisa mengabaikan bahwa proses belajar anak dalam mengembangkan bakat sifatnya sangat personal. Sebagai pemandu dalam pengembangan bakat mereka, Ayah Ibu perlu mengembangkan kepekaan terhadap kebutuhan dan tantangan yang anak alami secara pribadi.

Maka sembari anak memperdalam konten belajar di lembaga bakat terkait, kita perlu sadar bahwa anaklah yang menempuh beribu langkah dalam perjalanan mengembangkan bakatnya. Bukan tempat kursus, bukan juga kita sebagai orangtuanya. Karena mengeleskan anak saja tak cukup.

Apa peran spesifik Ayah Ibu dalam pengembangan bakat anak?

 

Foto oleh Stephan Hochhaus

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss