Saat Pilihan Arah Karier Anak dan Harapan Orangtua Berbeda

Diposting oleh:

Bakat Anak –  Apakah dalam pengembangan bakat anak, kita sering memaksakan harapan pada anak?

Saya ingat saat-saat duduk di bangku TK, sang guru suatu kali bertanya tentang cita-cita. Saya sendiri lupa apa jawaban saya waktu itu, namun seperti banyak anak-anak lain, kita bisa mendaftar beberapa profesi yang dicita-citakan mereka. Dokter, polisi, pilot, guru, presiden, dan masih banyak lagi. Anak Ayah Ibu pasti juga pernah mendapat pertanyaan yang sama, bukan? Apa jawaban mereka?

Terlepas dari apakah di usia tersebut anak benar-benar memahami profesi tersebut, setidaknya mereka melihat bahwa profesi itu keren. “Pilot bisa menerbangkan pesawat! Dokter bisa menyembuhkan orang sakit! Guru bisa berbagi ilmu! Presiden bisa memimpin rakyat!” Memasuki masa SD, saya pun menumbuhkan ketertarikan saya pada dunia prasejarah. Inginnya sih, jadi arkeolog, sampai-sampai pernah merengek pada ayah saya untuk diajak ke museum.

Namun impian dan cita-cita tersebut berubah, kala anak hendak menginjak bangku perguruan tinggi. Saya yakin anak-anak ini masih punya cita-cita yang terpendam dalam diri mereka, namun saat ditanya, jawaban mereka bisa saja lain.

bakat anak arah karier

 

“Ayah dan ibu saya dua-duanya dokter. Keluarga besar saya juga sebagian besar meniti karier di dunia kedokteran. Mereka ingin saya meneruskan jejak tersebut.”

“Kata ayah, musik dijadikan hobi saja. Sulit mencari uang dengan bermusik. Ayah menyarankan saya untuk mengambil jurusan ekonomi.”

“Orangtua saya berharap saya mengambil jurusan hukum, meskipun saya lebih suka menggambar dan mendesain sesuatu. Apa yang harus saya lakukan? Saya takut pilihan saya melukai hati mereka.”

Banyak sekali kisah-kisah seperti ini – mungkin kisah yang juga Ayah Ibu alami sewaktu remaja dulu, ketika dihadapkan pada pilihan apakah harus mengikuti apa yang sudah kita tekuni, atau mendengarkan harapan orangtua. Buku William Deresiewicz yang berjudul “Excellent Sheep: The Miseducation of the American Elite and the Way to a Meaningful Life” menuliskan kisah serupa, dengan cuplikan yang menggetarkan hati – yang saya terjemahkan bebas sebagai berikut:

Apa hutang budimu pada orangtuamu?

Kasih sayang, dan jika mereka membutuhkannya nanti, perhatian. Namun bukan sikap menyerah. Tidak menyerahkan hidupmu pada mereka. Apa hutang budi kita pada orangtua? Sebenarnya, tidak ada. Keluarga bukanlah bisnis. Kita tidak berhutang pada orangtua kita. Sebagai anak, kita menjalin hubungan dengan mereka. Saat masih kecil, hubungan tersebut bisa jadi melibatkan kepatuhan.

Namun saat dewasa hubungan tersebut selayaknya melibatkan kemandirian.

Banyak sekali anak yang terjebak dalam dilema ini. Saat bertumbuh, orangtua mengizinkan mereka mengembangkan bakat mereka: memberi kesempatan mengikuti kursus, berlatih, dan sebagainya. Namun kala anak menghadapi pilihan untuk menentukan arah kariernya, beberapa orangtua justru memaksakan harapan, ego mereka kepada anaknya. Harapan tersebut ditekankan tanpa melihat keistimewaan sang anak; atau seperti yang Bukik Setiawan sering kritik, anak dianggap kertas kosong.

Dan saat anak ditekan, mereka tidak bahagia. Sang penulis, William Deresiewicz bertutur bahwa banyak mahasiswa yang terlihat baik-baik saja, bercerita padanya bahwa hidup mereka tidak bahagia. Dan orangtua sering jadi yang terakhir mengetahui ketidakbahagiaan anak.

Tentu, pasti Ayah Ibu ingin melihat anak tumbuh dan berkembang menjadi orang yang bahagia, termasuk dalam menentukan dan menjalani arah kariernya. Nah, sudahkah kita bertanya tentang arah karier yang sedang ditekuni anak?

Orangtua memang seringkali ragu mengenai apakah bidang bakat yang ditekuni anak bisa menjadi kariernya di masa depan. Namun Ayah Ibu dapat menghapus keraguan tersebut. Ajukan pertanyaan-pertanyaan tentang pilihan karier anak yang membantu anak menyadari konsekuensi dari pilihan tersebut. Ajak anak berpikir optimis, sekaligus menjadi seorang realis saat membahas rencana arah karier.

Tantang anak agar anak bisa meyakinkan Ayah Ibu tentang pilihan arah kariernya – termasuk rencana dan perilaku yang menunjukkan komitmen belajar berkelanjutan di bidang bakat yang dipilih sebagai arah kariernya. Berkarier di bidang musik misalnya, berarti anak harus memahami bagaimana industri musik bekerja, apakah nantinya mereka ingin berkarier di jalur indie atau mainstream, pula teknologi pemasaran musik semisal YouTube dan SoundCloud.

Kapan terakhir kali Ayah Ibu mengobrol dengan anak tentang arah karier yang dipilihnya?

 

Foto oleh Benjamin Watson

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye