Mengapa Bakat Anak saja Tidak Cukup?

Diposting oleh:

Bakat Anak – Apakah Ayah Ibu mengetahui bakat anak? Apakah pernah mengamati saat anak merasa kesulitan untuk berkarya?

Sivisi tidak merasa puas dengan hasil pekerjaannya. Dua minggu lagi batas pengumpulan gambar ilustrasi untuk kontes yang diikutinya berakhir, namun Sivisi merasa gambar yang dibuatnya belum ada gregetnya. Gadis berumur 14 tahun itu lalu keluar kamar dan mengetok pintu kamar kerja sang ayah yang merupakan seorang arsitektur lepas.

“Yah, ini Visi. Adek mau nanya sesuatu.”

“Sayang masuk saja, pintunya nggak dikunci,” sahut ayahnya dari dalam kamar.

Sang ayah sedang duduk di sofa kecil, mencari beberapa model bangunan melalui tabletnya. Sivisi langsung duduk di sebelahnya dan bertanya, “Yah, gimana Adek bisa menggambar dengan bagus? Konsep gambar yang kukerjakan belum memuaskan, dan Adek hanya punya waktu 2 minggu lagi sebelum pengumpulan.”

“Oh ya?” sang ayah bertanya balik. “Ayah boleh dong, lihat gambar yang Visi kerjakan barusan.”

bakat anak ilustrasi

 

Sivisi langsung menyodorkan selembar kertas berisikan gambar seekor hewan fantasi berbulu. Gambar tersebut masih berupa konsep arsiran dengan pensil, karena belum diwarnai oleh Sivisi. Namun setelah setengah jalan ia lakukan, Sivisi sudah tidak puas dengan hasilnya.

“Adek yakin konsep gambar ini nggak ada gregetnya? Mungkin karena belum diwarnai, kali…” tanggap sang ayah.

“Entahlah Yah… Adek merasa tak sanggup melanjutkan gambar ini. Coba Adek bisa menggambar seluwes ilustrator-ilustrator terkenal itu, ya. Mereka begitu produktif, rasanya ide bisa keluar terus-menerus begitu aja deh. Apa bakat Adek nggak berkembang, ya?” komentar Sivisi.

“Inget nggak, kalau Adek Ayah minta mendokumentasikan ilustrasi terkeren Adek setiap tiga bulan sekali? Coba Ayah lihatkan hasilnya.”

Sivisi dan ayahnya kemudian mencari bersama gambar-gambar Sivisi yang telah didokumentasikan di tablet sang ayah. Mereka berdua lalu menemukan gambar Sivisi yang pertama kali didokumentasikan, yakni saat Sivisi berusia 10 tahun.

“Ini salah satu gambar terkeren yang Adek buat 4 tahun lalu. Kita bandingkan dengan gambar-gambar keren Adek di tahun-tahun berikutnya, ya,” tukas sang ayah.

“Eh, ini kan gambarku dua tahun lalu, Yah. Wah, kalau ini Adek ingat sekali, ini digambar untuk merayakan Hari Bumi, tahun kemarin…” Sivisi lalu melihat-lihat gambar ilustrasi yang dibuatnya selama 4 tahun ini.

“Gimana sekarang? Dari teknik menggambar, pewarnaan, maupun tema yang Adek pilih selama ini, apakah Adek masih merasa bakatnya nggak berkembang?” tanya sang ayah sambil tersenyum.

Sivisi termenung. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat bahwa goresan-goresan pensil yang dibuatnya semakin cantik dari tahun ke tahun. Meskipun ia juga melihat ada beberapa ilustrasi yang kurang memuaskan, namun secara umum bakat menggambarnya berkembang pesat. Sivisi lalu mengoreksi keputusasaannya.

“Baiklah, Adek akan mencoba melanjutkan konsep gambar yang Adek telah buat. Mungkin Adek akan lebih puas saat ilustrasinya benar-benar selesai,” sahut Sivisi yang kembali bersemangat, lalu berlari kembali menuju kamarnya. Sang ayah kemudian teringat pada masa mudanya saat memulai kariernya sebagai arsitektur. Ia pun pernah mengalami pengalaman serupa dengan anak bungsunya, saat ia menyerah karena merasa belum maksimal dalam berkarya – tidak seperti arsitektur handal lainnya.

Lalu mentornya saat itu menganjurkan agar sang ayah membaca buku seorang psikolog ternama, Carol Dweck. Sang psikolog menuliskan dalam bukunya, Mindset: The New Psychology of Success bahwa penguasaan bidang bakat adalah sebuah pola pikir. Saat seseorang berpikir bahwa hanya yang terlahir dengan talentalah yang akan sukses, ia lebih sulit berkembang karena melihat banyak orang yang lebih mahir ketimbang dia. Namun saat seseorang berpikir bahwa bakat bisa dikembangkan melalui kerja keras, ia akan memiliki energi lebih untuk meningkatkan kemampuan dalam bidang bakat yang ditekuninya.

Itulah sebabnya, pengembangan bakat anak tak serta-merta dilandasi kepercayaan bahwa bakat anak itu bawaan lahir semata. Ketekunan dalam belajar mutlak diperlukan untuk mengembangkan bakat anak. Apapun bakat anak yang menonjol, anak tidak cukup membekali diri dengan keyakinan bahwa ia secara alami berbakat. Ayah Ibu perlu memberi kesempatan anak untuk terus berlatih dan menunjukkan hasil belajarnya.

Philip Roth, penulis 31 buku serta pemenang Pulitzer Prize pun selalu bergelut dengan kegiatan menulis, seperti dicerminkan dalam ungkapannya: “The struggle with writing is over.” Tak ada karya yang begitu mudah dihasilkan, karena yang berbakat pun bekerja keras.

Bagaimana Ayah Ibu memandu anak untuk dapat mengevaluasi perkembangan hasil belajarnya?

 

Ingin mengetahui bakat anak anda? Baca Mengenal Bakat Anak Melalui 5 Langkah Praktis

Foto oleh Erich Ferdinand

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d