Apa Bekal Penting untuk Pengembangan Bakat Anak?

Diposting oleh:

Bakat Anak – Apa bekal penting yang harus dimiliki anak dalam mengembangkan bakatnya?

Sebagai orangtua, kita tentu memiliki harapan yang besar pada anak dalam berbagai aspek kehidupannya. Termasuk misalnya, keberhasilan di sekolah maupun luar sekolah. Beberapa orangtua memisahkan kedua hal tersebut, meskipun sejatinya keduanya sama-sama berkontribusi pada masa depan dan arah karier anak nanti.

Keberhasilan anak dalam hal apapun, termasuk dalam pengembangan bakat anak, tentu tak lepas dari bagaimana kita sebagai orangtua membekali anak dalam menemukan fokus belajarnya dan menekuni bidang pilihannya. Namun kita juga seringkali dilanda kebingungan dalam memfasilitasi belajar anak. Pertanyaan seperti “Apakah saya harus mengikutkan anak dalam kursus?” atau keraguan semacam “IQ anak saya hanya rata-rata saja, tidak seperti teman-temannya,” seringkali menghantui benak kita.

Demi keberhasilan anak nanti, kita rela melakukan apapun – bahkan secara tak sadar, melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak disukai anak.

bakat anak bermakna

 

 

Pendiri Intrinsic Institute, Dr. Brian Davidson, adalah salah satu orang yang menaruh perhatian pada tema ini. Sebagai seorang guru pula, ia tertarik untuk menjawab pertanyaan tentang apa bekal penting yang harus dimiliki murid-muridnya untuk berhasil dalam studinya. Alih-alih fokus pada faktor-faktor yang secara umum kita kenal dapat memicu keberhasilan anak, seperti IQ dan kemampuan kognitif, ia justru mengungkapkan bahwa banyak kemampuan non-kognitif yang patut menjadi bekal anak. Misalnya, ia menunjukkan hasil penelitian Angela Duckworth dan Martin Seligman bahwa disiplin diri dua kali lebih baik ketimbang IQ dalam memprediksi keberhasilan akademik seorang anak.

Ini seperti banyak kasus yang sering kita dengar – anaknya nggak terlihat pintar, namun karena dia tekun, sang anak lalu jadi terampil di bidang bakat yang anak tekuni.

Apa sih kemampuan non-kognitif yang dimaksud oleh Dr. Brian? Yang dimaksud adalah berbagai bekal yang berkontribusi dalam pengembangan bakat anak, yang sulit diukur dalam berbagai tes, termasuk tes IQ. Ketekunan belajar, pantang menyerah, growth mindset yang akhir-akhir ini kita sering dengar, kemampuan untuk bangkit dari kegagalan, jelas lebih sulit diukur dalam berbagai tes kecerdasan. Namun tes kecerdasan maupun ujian lebih sering dijadikan patokan dalam menentukan ‘nasib’ anak. Paradigma ini pula yang menyebabkan kita seringkali lebih fokus pada hasil ketimbang proses belajar.

Padahal, proses belajar dan pengembangan bakat anak seringkali akrab dengan tantangan, hambatan, dan kegagalan. Namun sistem persekolahan misalnya, membuat kita malu melihat seorang anak tidak naik kelas, meskipun hal tersebut mungkin menjadi pembelajaran yang berharga bagi anak. Itu sebabnya, selain membekali diri dengan konten belajar – membaca, berhitung, menulis, memasak, atau bakat apapun yang ditekuni anak – anak perlu belajar dan membekali dirinya dengan berbagai kemampuan non-kognitif yang telah disebutkan di atas.

Misalnya, anak yang sering juara lomba melukis, lalu kemudian tidak mendapat juara di lomba berikutnya, mungkin merasa kecewa. Hidup memang bukan hanya perlombaan, namun perlombaan juga menjadi bagian dari hidup dan pengembangan bakat anak. Dalam kejadian ini, Ayah Ibu bisa mengobrol dengan anak tentang bagaimana bangkit dari kegagalan. Atau sebaliknya, anak yang tak pernah dapat juara lomba melukis pun bisa belajar bagaimana menumbuhkan sikap pantang menyerah. Tidak dapat juara bukan berarti anak harus berhenti melukis, bukan?

Itu sebabnya, Ayah Ibu tak cukup mendukung proses pengembangan bakat anak dengan memberikan berbagai sumber belajar maupun melibatkannya dalam berbagai kursus, saat bidang bakat yang ditekuni anak bukanlah cakupan Ayah Ibu. Sama seperti tanggung jawab pendidikan tak bisa dititipkan pada sekolah, pengembangan bakat anak tidak dapat dititipkan pada lembaga kursus. Dampingi dan bekali anak untuk belajar berbagai kemampuan yang tidak diajarkan di ruang-ruang kelas.

Bagaimana Ayah Ibu mendukung anak membekali diri dengan berbagai kemampuan dalam mengembangkan bakatnya?

 

Foto oleh Pabak Sarkar

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d