Belajar Bermakna itu Memberi: Anak-anak Buat Aplikasi untuk Kelas Inklusi

Diposting oleh:

Bakat Anak – Karena belajar tidak sekadar untuk mencari nilai bagus.

Tak dapat dipungkiri bahwa dunia kita memiliki banyak masalah. Tak perlu jauh-jauh, kota maupun kompleks tempat kita tinggal memiliki tantangan untuk diselesaikan bersama-sama. Anak kita mungkin sehari-hari belajar di sekolah, namun jarang sekali diajak untuk melihat tantangan apa yang sedang dihadapi lingkungan sekitarnya. Padahal, salah satu hal yang membuat belajar menjadi lebih bermakna bagi anak adalah saat anak bisa berkontribusi, membantu menyelesaikan masalah di sekitarnya.

Seorang enterpreneur sekaligus guru, Allen Brooks yang mengajar di Kelas Teknologi Dasar dan Menengah di San Elijo Middle School, San Diego, menyadari hal ini. Renjana (passion) sang guru terhadap teknologi dan pendidikan membuatnya tak ingin murid-muridnya hanya sekadar belajar di kelas. Ia ingin anak-anak didiknya membuat sesuatu yang memiliki nilai di luar kelas. Keinginannya kemudian terwujud saat berkolaborasi dengan seorang guru kelas inklusi, Shannon Dudley.

bakat anak aplikasi

Seperti dilansir dari HuffPost Education, minatnya terhadap teknologi membuat Allen Brooks mengenal teknologi bernama SMART Technologies’ SMART Table. Teknologi tersebut berupa ‘meja’ interaktif dengan permukaan LCD berukuran 42 inci yang menyediakan fitur multisentuh (sampai dengan 40 sentuhan), sehingga dapat digunakan banyak orang secara bersamaan. Saat mengetahui tantangan yang dihadapi anak-anak dengan disabilitas sedang hingga cukup parah di kelas inklusi rekannya, Allen Brooks berpikir untuk memanfaatkan teknologi SMART Table untuk menunjang pembelajaran di sana.

Idenya adalah sebagai berikut: Allen Brooks meminta Shannon Dudley mengizinkan para muridnya untuk mengembangkan aplikasi di SMART Table agar kebutuhan belajar murid-murid kelas inklusi lebih mudah terpenuhi!

allen-brooks-aplikasi

Kerja sama kedua guru untuk proyek ini sangatlah menarik. Awalnya, Allen Brooks meminta murid-muridnya di kelas Teknologi Menengah, dalam kelompok-kelompok, datang ke kelas inklusi untuk memahami bagaimana murid-murid di sana belajar. Mereka pun berinteraksi satu sama lain. Sang guru kelas inklusi, Shannon Dudley mengajar murid-murid Allen Brooks mengenai teknik mengajar adaptif – yakni mengamati salah satu aspek dari performa terbaik murid di kelasnya, dan menyesuaikan topik belajar sesuai hasil pengamatan tersebut.

Dengan cara belajar seperti ini, Allen Brooks melihat murid-muridnya kembali ke kelas dengan membawa banyak pengalaman baru, yang membuat mereka jauh lebih berkembang. Tantangan pun diterima: mereka mulai mengembangkan aplikasi SMART Table sesuai dengan kebutuhan belajar di kelas inklusi, dan minat tiap-tiap anak di kelas tersebut. Misalnya, salah satu murid kelas inklusi sangat menyukai topik geografi, sehingga dikembangkanlah sebuah materi geografi dengan menggunakan peta untuk mengenali mana laut, samudra, dan benua.

Apa yang kemudian terjadi? Ternyata tantangan belajar yang sedemikian rupa sangatlah menyenangkan dan memuaskan, sampai tugas membuat aplikasi untuk kelas inklusi ini diulangi di tahun berikutnya. Bayangkan, kalau biasanya gurulah yang menyiapkan materi untuk para murid, kini para murid bisa melakukan hal yang sama – bahkan lebih inovatif – agar murid di kelas lain belajar lebih mudah. Belajar yang bermakna itu memberi, saat anak bisa menggunakan secara langsung apa yang dipelajari untuk membantu menyelesaikan masalah di sekitarnya. Lagipula, membantu orang lain yang membutuhkan tak hanya bisa dilakukan orang dewasa saja. Saya percaya anak-anak kita pun sanggup!

Bagaimana Ayah Ibu mendorong anak untuk memberikan sesuatu dengan menekuni bakatnya?

 

Foto dicuplik dari video YouTube terkait

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye