5 Alasan Pentingnya Belajar Berwirausaha buat Anak Anda

Diposting oleh:

Bakat Anak – Bagaimana belajar berwirausaha berdampak dalam pengembangan bakat anak?

“Kini masanya entrepreneurship!” Slogan tersebut mungkin sudah sering kita dengar beberapa tahun ini, diikuti dengan berbagai seminar dan pelatihan. Memang, tak semua harus jadi pengusaha, namun belajar berwirausaha punya kekuatannya sendiri, karena kita bisa belajar langsung dari kehidupan. Ini penting karena dalam pengembangan bakat anak, anak akan selalu bersentuhan dengan dunia di sekitarnya.

Ayah Ibu mungkin pernah mendengar pepatah bahwa sekolah adalah laboratorium kehidupan bagi anak. Ya, anak disiapkan selama bertahun-tahun (kini setidaknya 12 tahun) sebelum terjun ke masyarakat. Ibarat laboratorium sesungguhnya, apa yang dipelajari anak disekolah idealnya merupakan sampel yang memang mencerminkan kondisi dunia dan masyarakat di sekeliling anak. Sayangnya idealisme tersebut sulit diwujudkan.

bakat anak belajar berwirausaha

Kalau belajar di sekolah kian jarang berkenaan dengan hal-hal yang terjadi di masyarakat, sejatinya anak hanya belajar di ruang kosong. Ibarat membaca buku petunjuk berkeliling Eropa padahal kita sedang berada di Indonesia; pasti tersesat, bukan? Tetapi tidak semua pendidik diam saja melihat kenyataan yang demikian. Anak butuh bersentuhan, belajar langsung dari kehidupan.

Berpikir desain adalah sebuah metode cerdas sekaligus empatik, yang digunakan dalam berbagai latar, termasuk dalam belajar berwirausaha. Sebelumnya kita sudah menyimak bagaimana Singgih Susilo Kartono mendesain Radio Magno yang mendunia dari sebuah desa di Temanggung, Jawa Tengah. Berwirausaha membuatnya peka akan kondisi masyarakat di sekitarnya, potensi dari sumber daya yang bisa digunakannya, untuk menghidupi diri dan orang-orang di sekitarnya.

Bagaimana belajar berwirausaha membuat anak belajar langsung dari kehidupan? Simak video inspirasi yang sempat viral beberapa tahun lalu. Saya sendiri masih suka menontonnya:

Dalam menggemari dan menekuni wirausaha – bahkan sekecil apapun produk maupun jasa yang ditawarkan – anak belajar banyak hal, termasuk hal yang tidak dipelajari di sekolahnya, seperti kisah anak penjual es nanas dalam video di atas. Tokoh Ibu yang tak bersekolah memang tak tahu apa yang bisa diajarkan kepada sang anak, kecuali mencontohkan bagaimana memotong buah, sebagai bagian dari profesinya.

Setidaknya, ada lima pelajaran dari kehidupan yang dipetik anak dengan belajar berwirausaha. Pertama, ide bagus saja belum cukup. Sang ibu yang iba melihat anaknya menginginkan es krim namun tak sanggup membelinya, punya ide bagus dengan memberi sang anak es nanas – potongan nanas yang didiamkan dalam es agar terasa lebih dingin dan segar. Anaknya bahkan mengakui bahwa es nanas buatan ibunya lebih enak dari es krim yang dijual di depan sekolahnya.

Dalam menekuni dan mengembangkan bakat, ada saat anak harus mulai menunjukkan hasil belajar dan melangkah masuk ke dalam ekosistem bakat. Puas bisa makan es nanas saja tidak cukup, karena saat tokoh anak bisa ‘menjual’ kepuasannya, teman-temannya pun bisa merasakan es nanas yang enak. Sama dengan hal tersebut, ada saat anak tak cukup berkarya sebagai kegemaran, namun melangkah lebih jauh, dengan ide yang menjual, sebagai arah kariernya kelak.

Kedua, belajar berwirausaha melibatkan tantangan yang sebenarnya. Sekolah menyajikan berbagai tes dan ujian bagi siswa, namun tokoh anak yang berusaha menjual es nanas menghadapi tantangan sebenarnya di dunia usaha: kalau berjualan, ya harus laku. Ada penjual es krim lain sebagai kompetitor, pula tokoh anak harus memikirkan bagaimana cara berjualan dengan tepat, karena dalam percobaan pertamanya, ia gagal menjual satu pun es nanasnya.

Belajar berwirausaha langsung berkaitan dengan diri anak, dan jika anak kelak menjadikan bakat sebagai arah kariernya, ia harus bersiap menghadapi tantangan seperti yang dihadapi tokoh anak penjual es nanas. Tantangannya bukan lagi nilai ujian, namun langsung berkenaan dengan diri dan kemajuan dalam berkarier.

Ketiga, anak belajar langsung dari komunitas, bahkan kompetitornya. Seperti pesan sang ibu, tokoh anak yang gagal menjual es nanas disarankan untuk kembali ke pasar, untuk melihat bagaimana orang berjualan. Dengan belajar berwirausaha, anak bisa langsung belajar dari pelaku, tak hanya dari sudut kelas saja. Ia melakukan praktik, sekaligus belajar dari praktik sukses orang-orang yang lebih dulu berkarier di bidang bakat yang anak tekuni.

Keempat, anak antusias belajar tanpa perasaan terpaksa. Setelah mengamati bagaimana orang-orang berjualan di pasar, tokoh anak mengambil inisiatif untuk mengubah cara ia berjualan. Apakah ia terpaksa melakukan semua ini? Tidak, karena tokoh anak tahu bahwa dengan belajar, ia bisa membantu menghidupi keluarganya. Belajar jadi bermakna, dan sama seperti pengalaman tokoh anak, menjadikan bakat sebagai arah karier pada akhirnya menjadikan anak antusias belajar untuk terus maju dan tidak ketinggalan. Semua dilakukan karena anak menyadari kebutuhannya.

Terakhir, anak belajar memaknai lompatan-lompatan keberhasilan. Kalau kita berpatokan pada nilai ujian, apakah definisi keberhasilan anak dalam belajar? Tentu mendapat nilai bagus, seratus, atau A, bukan? Dalam belajar berwirausaha, keberhasilan seringkali dimaknai secara berbeda, karena anak lebih mudah mengapresiasi kemajuan belajarnya, sekecil apapun.

Apakah berjualan es nanas keren? Bagi sebagian orang mungkin tidak, tetapi bagi tokoh anak, ini merupakan sebuah pencapaian yang sangat besar, yang tidak bisa diukur oleh ujian apapun maupun angka berapapun. Karena ia telah belajar banyak dari kehidupan.

Bagaimana Ayah Ibu mempersiapkan anak berkarier dalam bidang bakat yang ditekuninya?

 

Foto oleh Julian Partridge

 

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss