Anak Belajar Lebih Banyak Dengan Bongkar Pasang Barang

Diposting oleh:

Bakat Anak – Berapa barang yang pernah Ayah Ibu rusak saat kecil?

Saya rasa kita semua pernah melakukannya, dan pun setelah mendapat omelan dari orangtua kita, kita tak berhenti melakukannya… mungkin sampai di titik kita lebih banyak disibukkan dengan PR dan tugas sekolah.

Lagipula, memahami bagaimana sebuah perkakas bekerja menjadi minat tersendiri bagi anak-anak. Mereka akan membongkar sesuatu dan kemudian memasangnya kembali sekehendak mereka – dan tidak selalu kembali ke bentuk semula – namun dari sanalah muncul pertanyaan dan ide. Jam weker Ayah Ibu mungkin tak lagi berdering, atau malah jarum jamnya hanya bergerak maju-mundur, namun anak akan puas melihat roda gigi yang saling menggerakkan satu sama lain.

Dan jangan bayangkan ayah ibu menjelaskan bagaimana sebuah jam bergerak dengan kata-kata – anak-anak yang lebih kecil akan lebih tertarik memainkannya secara langsung, sesuai usia perkembangan mereka yang lebih banyak menggunakan perkakas dan mengeksplorasi berbagai benda untuk belajar.

bakat anak bongkar pasang 2

Alkisah, minat anak untuk melakukan bongkar pasang ini dimanfaatkan oleh seorang pendidik bernama Brent Hutcheson dan timnya, Hands on Technologies, untuk lebih memberdayakan anak-anak dengan disabilitas di sebuah kota nun jauh di Afrika Selatan, Atteridgeville. Alih-alih hanya memberi instruksi, anak-anak diberikan balok-balok dengan berbagai bentuk, ukuran, dan warna, untuk mereka bongkar dan pasang. Guru sesekali melempar pertanyaan dan pancingan, namun selebihnya, anak-anak bermain bongkar pasang sesuai kreasi mereka.

Kalau ayah ibu pernah mendengar taksonomi Bloom – yang menunjukkan tingkatan kemampuan kognitif seseorang – ayah ibu dapat melihat bahwa mencipta merupakan tingkatan tertinggi dari kognisi manusia. Tingkatan tersebut seakan memperlihatkan bahwa menciptakan sesuatu dan membuat karya memiliki kesulitan paling tinggi, namun tunggu… kita baru saja membaca bahwa anak-anak juga dapat menciptakan sesuatu dengan bongkar pasang. Mereka mungkin membuat bangunan sederhana, namun mereka dapat bercerita banyak tentang kreasi mereka, mengapa mereka memilih warna-warna tertentu, dan sebagainya.

Eksperimen yang dilakukan Brent Hutcheson juga mengejutkan para guru di sana – bermain bongkar pasang ternyata benar membuat anak-anak lebih mengekspresikan diri, menjelaskan model-model yang mereka buat dengan kosakata yang lebih kaya. Jauh lebih kaya ketimbang sekadar diajarkan mengenal kata-kata yang baru saja mereka gunakan saat bermain bongkar pasang. Nilai tambah bongkar pasang juga terdapat pada benda fisiknya, karena berinteraksi dengan barang-barang menggunakan tangan adalah stimulus kecerdasan tubuh untuk anak.

Mencipta dan berkarya juga mencerminkan proses memecahkan masalah, bahkan di tingkat yang paling sederhana: anak menginginkan sesuatu, dan ia membuat sendiri apa yang dibayangkan dalam benaknya – sebuah stimulasi kecerdasan logika. Newton muda pun lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menciptakan berbagai perkakas – seperti jam air – sebelum ia menekuni dan menemukan berbagai teori terkait gravitasi.

Ingin anak ayah ibu seperti Newton? Tidak, saya bercanda; anak-anak kita bisa menjadi diri mereka sendiri di bidang bakat yang mereka tekuni. Namun kita bisa memberikan kesempatan sedini mungkin pada anak agar dapat menciptakan sesuatu, yang bisa dimulai dengan bongkar pasang. 

Apakah Ayah Ibu tertarik memfasilitasi anak belajar melalui bongkar pasang barang? Silakan unduh dan pelajari modul Hands of Technologies.

 

Foto oleh Davitydave

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d