Alata, Pekarangan juga Tempat Belajarmu

Diposting oleh:

Bakat Anak – “Alata bosan belajar, nih,” keluhnya sambil meregangkan badannya. Ia pun menutup buku paket IPA yang baru saja dibacanya. Suaranya meraih ruang tamu tempat ayahnya menikmati kopi ditemani salah satu buku kesayangannya.

“Kenapa, Al?” tanya sang ayah yang melihat anaknya keluar dari kamar. Alata kemudian mengambil tempat untuk duduk di dekat ayahnya.

“Lagi bosan aja, sih. Alata lagi belajar untuk ulangan IPA besok Senin, cuma ya gitu deh, Yah. Masak baca buku terus di dalam kamar?” Ia lalu menguap. Jam dinding menunjukkan pukul empat sore, dan saat itu Alata hanya berdua saja dengan sang ayah karena ibunya baru saja berangkat untuk arisan RT. Kakak Alata seharian sudah pergi bersama temannya.

“Ya sudah, kalo gitu, kamu siram-siram tanaman sana,” usul sang ayah, seraya menambahkan, “Hitung-hitung cari suasana baru sambil melihat banyak warna hijau. Konon warna hijau bisa bikin hati adem, lho.”

“Emang bener begitu, Yah?” tanya Alata penasaran.

“Ya kalau nggak percaya, buktikan saja sendiri. Ayah aja kalau lagi suntuk, bakal ngopi di teras sambil lihat tanaman-tanaman kesayangan Ibu. Ayo deh Ayah temani, ada beberapa pot tanaman yang harus Ayah pindahkan, sih, hehehe.”

Alata bersama ayahnya lalu melangkah keluar rumah. Pekarangan rumah Alata sendiri tak seberapa luas, namun ada berbagai tanaman yang dipelihata ibunya. Sebagian besar adalah tanaman yang bisa sekaligus jadi bahan masakan, sisanya berupa tanaman hias. Setelah membuka keran, Alata lalu mulai mengarahkan selang, berjalan mendekati tanaman-tanaman yang disirami.

“Wah, sekarang tanaman-tanamannya kelihatan lebih segar ya setelah disiram,” komentar Alata. Ayahnya masih sibuk menata pot-pot kecil bertanamkan anggrek. Tidak ditanggapi oleh sang ayah, Alata kemudian melempar sebuah usulan.

“Alata sekalian kumpulkan daun-daun kering yang sudah berjatuhan, ya?”

Tanpa menoleh ke arah Alata, ayahnya pun mengiyakan usul sang anak. “Kumpulkan sebanyak-banyaknya, ya, tapi jangan langsung dibuang ke tong sampah. Sisihkan saja dulu ke lantai teras rumah,” tambah sang ayah. “Biar nanti diolah Ibu untuk pupuk.”

bakat anak pekarangan

 

“Oke, Yah,” jawab Alata. Alata lalu mulai mengumpulkan dedaunan kering manapun yang bisa ia raih dengan berjongkok. Ia lalu mendapati bahwa ada berbagai macam bentuk tulang daun, baik yang lurus, bercabang seperti jari tangan, maupun berbentuk seperti duri ikan mujair kesukaannya. Alata merabanya satu-satu sembari berhati-hati agar tangannya tidak terkena duri.

Setelah semua dedaunan kering berhasil terkumpul, Alata membawanya dalam kantong plastik bening ke lantai teras rumah. Di sana sang ayah ternyata sudah menunggunya sambil duduk selonjor sambil membaca buku.

“Sudah selesai mengumpulkan dedaunan, nih? Mumpung belum dijadikan pupuk oleh ibumu, mari kita sedikit bermain-main dengan daun-daun ini,” ajak sang ayah. Mereka berdua lalu mengeluarkan daun-daun itu, menjejerkannya dalam kolom dan baris agar dapat diamati lebih jelas.

“Eh, daun yang ini bentuknya mirip yang itu, ya,” sahut Alata spontan. “Ada tiga jenis yang Alata hitung sih tadi selama mengumpulkan dedaunan ini. Ada yang seperti tulang ikan, seperti ini,” kata Alata sambil menunjukkan selembar daun mangga, “ lalu yang bercabang seperti jari tangan Alata,” lanjut Alata sambil menunjukkan selembar daun pepaya, “dan tadi Alata melihat kalau rumput-rumputan liar itu cenderung punya daun yang lurus aja gitu, Yah.”

“Betul sekali,” balas sang ayah. “Yang barusan kamu lakukan, dalam ilmu biologi, disebut klasifikasi. Bahasa mudahnya, pengelompokan. Semakin dekat hubungan keluarga beberapa jenis tanaman, biasanya ciri-ciri mereka cenderung sama. Seperti keluarga kita nih Alata, banyak kan yang bilang kalau muka Alata mirip Ibu, sedangkan muka kakakmu mirip Ayah. Rambut keriting Ayah sebaliknya, Ayah turunkan ke Alata, sedang rambut lurus Ibu dimiliki juga oleh kakakmu.”

“Wah, Ayah pintar deh! Gitu-gitu tahu dari mana, Yah?”

“Kan Ibumu hobi merawat tanaman. Alata sendiri juga bisa membaca di buku pelajaran, namun tadi katanya Alata bosan belajar, jadinya Ayah ajak menata pekarangan rumah, deh,” jelas Ayah sambil tersenyum lebar. “Bedanya, di pekarangan kamu bisa melihat, meraba, dan mencium langsung tanaman-tanaman yang ada. Di buku, kan hanya ada gambarnya. Jadi nggak cuma kamar, pekarangan juga bisa jadi tempat belajarmu.”

“Siap Yah! Kalau begitu, Alata mau mandi dulu, ya! Gerah, nih!” Alata langsung lari ke dalam rumah, namun sebelum mandi, ia mencatat kata baru di buku catatannya – klasifikasi.

Apa media belajar yang dapat Ayah Ibu tawarkan ke anak, agar anak dapat berinteraksi langsung dengan sumber belajarnya?

 

Foto oleh wwworks

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye