Katanya, Cerita Membuat Belajar Matematika Lebih Menyenangkan

Diposting oleh:

Bakat Anak – “Ya, dan waktu habis. Silakan mengumpulkan lembar jawaban kalian ke depan kelas, anak-anak.”

Bapak guru meminta anak-anak mengumpulkan lembar jawaban ulangan matematika ke mejanya, tak terkecuali milik Katanya, seorang siswi kelas 6 SD. Sambil menggaruk-garuk kepalanya, Katanya pun ikut maju ke depan untuk menyerahkan pekerjaannya. Tampaknya hari ini bukan hari keberuntungan untuk Katanya – tepatnya, ia merasa kesulitan mengerjakan ulangan matematika hari ini.

bakat anak belajar matematika

 

Berakhirnya waktu ulangan sekaligus menandakan jam istirahat. Tidak merasa lapar, Katanya memutuskan untuk menyegarkan pikiran yang penat belajar matematika dengan pergi ke perpustakaan. Di sana ia bisa melanjutkan membaca cerita kelompok detektif yang kebetulan lupa dipinjam untuk dibawa pulang ke rumah. Hari ini Katanya memutuskan untuk meminjamnya, karena Sabtu besok ia punya lebih banyak waktu untuk membaca.

Begitu membuka pintu perpustakaan, Katanya disapa oleh seorang penjaga perpustakaan yang tak asing dengan wajahnya.

“Hai, Tanya,” sapa Bu Ika, “Hari ini kita kedatangan buku-buku baru, lho. Kamu bisa mengeceknya di rak sebelah sana, yang berlabel ‘Buku Hari Ini’.”

“Wah, ada buku baru, ya?” Katanya langsung sumringah. Mendadak penat yang dirasakannya hilang seketika, saat mengetahui bahwa perpustakaan sekolahnya kedatangan beberapa buku baru. Membaca menjadi kegemaran Katanya sejak lama, dan ia membaca berbagai macam buku, baik buku cerita maupun buku pengetahuan. Sebulan ini ia sedang keranjingan membaca kisah kelompok detektif, yang kata Bu Ika, sebenarnya sudah ada sejak Bu Ika masih remaja.

Namun saat sudah berada di depan rak berlabel ‘Buku Hari Ini’, pikiran Katanya kembali penat. Ia menjumpai sebuah buku baru berjudul ‘Teka-teki Matematika yang Seru dan Asyik’. Lagi-lagi ketemu dengan angka, keluhnya. Namun rasa ingin tahunya tetap berbisik, berharap Katanya mengintip buku baru tersebut.

“Selama ini belajar matematika di kelas kurang menyenangkan, sih. Baiklah, kita lihat apakah isinya benar-benar seru dan asyik, seperti apa yang dikatakan judulnya,” tutur Katanya pada dirinya sendiri. Ia pun mengambil sebuah tempat untuk duduk dan membuka salah satu halaman secara acak.

“Akso adalah seorang penggemar wafer cokelat, dan pada bulan ini produk wafer cokelat kesayangannya, Kokoa Koala mengadakan promo hadiah langsung. Akso dapat menukarkan delapan kemasan Kokoa Koala dengan satu bungkus Kokoa Koala untuk dinikmati. Nah, semingguan ini Akso berburu kemasan Kokoa Koala – termasuk dengan membeli sendiri – untuk bisa menukarkannya dengan wafer cokelat gratis. Berkat bantuan dari teman-teman di lingkungan rumah dan sekolah, Akso berhasil mengumpulkan 71 kemasan Kokoa Koala. Berapa cokelat gratis yang bisa didapatkannya?”

Usai membaca paragraf tersebut, Katanya mengernyitkan dahi – pertanda heran sekaligus penasaran. Ia heran karena selama ini lebih sedikit soal matematika berbentuk soal cerita yang disodorkan oleh sekolah. Katanya pun penasaran, penasaran bagaimana menjawab pertanyaan tersebut, serta cukup tertantang karena ia juga seorang penggemar cokelat. Ia mulai membagi jumlah kemasan yang saat itu dimiliki Akso, namun ternyata terdapat sisa kemasan yang tidak dapat digunakannya.

Bel berbunyi lagi, pertanda Katanya harus kembali ke kelas. Namun Katanya heran, mengapa ia bisa menghabiskan waktu selama 30 menit untuk memecahkan teka-teki yang dibacanya, dan tepat saat bel berbunyi, ia akhirnya menemukan jawabannya. Padahal Katanya sendiri kurang menyukai matematika, dan ia baru pertama kali menghabiskan waktu selama itu untuk mengerjakan satu soal matematika. Ia tersenyum, lalu membawa buku teka-teki matematika tersebut ke meja Bu Ika karena ia hendak meminjamnya.

“Lho, katanya kamu mau meminjam buku detektif yang kemarin?” tanya Bu Ika.

“Hmm, nanti dulu deh Bu. Katanya baru saja menemukan cara belajar matematika dengan menyenangkan. Belajar matematika lebih menyenangkan kalau ada ceritanya seperti ini,” jawab Katanya sambil menunjuk buku yang akan dipinjamnya, seraya melanjutkan, “Sehingga Katanya lebih merasa terlibat dalam menjawab pertanyaan yang ada, padahal matematika bukan pelajaran yang Katanya minati.”

Setelah menandatangani formulir peminjaman buku yang dimaksud, Katanya melenggang ke dalam kelas sambil tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia kembali tertarik untuk belajar matematika. Semua gara-gara cerita yang membuatnya tertantang mengetahui lebih jauh, untuk terus belajar matematika.

NB: Oya, apakah Ayah Ibu juga bisa menjawab pertanyaan yang dihadapi oleh Katanya?

Kapan terakhir kali Ayah Ibu bercerita agar anak lebih tertarik pada suatu hal?

 

Foto oleh Florian Groß

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d