Belajar Pemrograman dari Kecil? Inilah Manfaatnya

Diposting oleh:

Bakat Anak – Mengapa anak patut mencoba belajar pemrograman alias ngoding?

Saya menemukan saat-saat yang patut mendapatkan perhatian. Di saat anak-anak SMA yang lain menyiapkan diri untuk Ujian Nasional dan tes masuk perguruan tinggi, beberapa teman saya malah asyik mengulik komputer. Apa yang mereka kerjakan? Belajar bahasa pemrograman. Dari yang sesederhana HTML sampai sekompleks PHP, mereka tampak asyik mendiskusikan temuan-temuan mereka. Saya sendiri penasaran, “Apa sih asyiknya belajar pemrograman?”

Istilah kerennya adalah koding atau coding. Tidak, tentu saja pemrograman tidak berkaitan dengan spionase atau menghapalkan sandi. Saya yang awam dengan koding di masa SMA, memahami bahwa koding adalah semacam kegiatan menulis perintah untuk dijalankan oleh komputer. Ayah Ibu mungkin tidak pernah ‘menemukan’ perintah-perintah ini, namun semua situs, aplikasi, dan game dibuat dengan melakukan koding.

codys-app-academy-1

Mitchel Resnick, profesor MIT Media Lab yang berkecimpung dalam riset tentang belajar menyandingkan koding dengan kegiatan menulis. Ia menyebutkan bahwa seperti halnya menulis, koding membuat anak belajar untuk menyusun, memperbaiki, dan merefleksikan ide-ide mereka. Tidak hanya belajar tentang bahasa pemrograman, seorang anak ngoding untuk belajar.

Belajar yang bagaimana yang dimaksud? Kalau Ayah Ibu pernah belajar Microsoft Excel atau pengolah angka lainnya, Anda pasti pernah ngoding. Misalnya, kita diminta untuk mengelompokkan beberapa hotel berdasarkan harganya. Dengan mengetikkan fungsi IF, THEN secara tepat dan dilengkapi dengan simbol-simbol matematika seperti <, >, atau =, kita dapat meminta komputer untuk mengelompokkan hotel-hotel tersebut.

Ada dua hal yang kemudian dipelajari anak saat ngoding: pertama, anak belajar bahasa pemrograman, seperti mengenal berbagai fungsi dan simbol matematika. Kedua, anak ngoding untuk belajar menalar, menuliskan perintah dengan runtut dan tepat agar komputer dapat menjalankan perintah tersebut. Singkatnya, anak belajar penyelesaian masalah alias problem solving, membuat desain, dan seperti menulis pada umumnya, menyampaikan idenya.

Mungkin Ayah Ibu bertanya, apakah dengan gemar ngoding otomatis anak Anda nanti berujung menjadi seorang pemrogram (programmer). Jawabannya adalah “ya” dan “tidak”, karena semua tergantung pilihan karier yang anak Anda pilih. Belajar menalar tak hanya dibutuhkan oleh seorang yang berkecimpung dalam pengembangan perangkat lunak, namun semua orang di bidang apapun. Salah satu cara belajar menalar adalah dengan belajar pemrograman.

Seperti yang juga diungkapkan Mitchel Resnick, Brian Heese menegaskan bahwa belajar pemrograman bukan perkara profesi semata. Ayah Ibu mungkin pernah berpikir untuk mengajak anak mengikuti kursus seni musik – apakah Anda membayangkan anak menjadi seorang musisi? Tidak selalu. Anak belajar tentang musik untuk mengapresiasi keindahan, dan seperti yang desainer situs Teman Takita sekaligus rekan saya, Mohammad Zulkarnain pernah katakan, bahasa pemrograman itu sama nyeninya dengan puisi. Dengan belajar pemrograman, anak bisa belajar untuk mengapresiasi kegiatan menalar melalui ngoding.

Pun dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, prinsip-prinsip dalam belajar pemrograman tak pernah pupus. Brian Heese menuliskan bahwa dengan ngoding, anak belajar mengerjakan sesuatu dengan detil (memeriksa bug) maupun menggunakan kecerdasan logika, termasuk belajar bertanya secara tertulis. Tak hanya itu, seringkali proyek-proyek pembuatan aplikasi melibatkan banyak orang, yang berarti kesempatan bagi anak untuk belajar berkolaborasi.

bahasa pemrograman

 

Setiap kegemaran punya sisi kerennya sendiri, termasuk gemar belajar pemrograman. Kita mengenal Thomas Suarez yang di usia 12 tahun, sudah mengembangkan beberapa aplikasi iPhone karena kecintaannya pada teknologi. Mendiang Satoru Iwata, presiden Nintendo yang baru saja meninggal bulan lalu, juga mengawali kariernya di dunia game sebagai seorang pemrogram. Beliau tetap menggunakan keahliannya tersebut bahkan setelah memimpin salah satu perusahaan game terbesar di dunia.

Apa kegiatan yang Ayah Ibu tawarkan agar anak berkesempatan belajar menalar selain belajar bahasa pemrograman?

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye