Apa Pentingnya Belajar Seasyik Bermain bagi Anak?

Diposting oleh:

 Bakat Anak – Apa beda TK di zaman Ayah Ibu dengan TK untuk generasi sekarang?

“Sampai juga di rumah!” sahut Krevi girang. Ia yang baru seminggu duduk di kelas nol besar baru saja pulang sekolah bersama ibunya. Taman kanak-kanak tempat Krevi bersekolah tak terlalu jauh dari rumah, sehingga mereka berdua hanya perlu berjalan kaki.

“Oya, Vivi tadi belum cerita Ibu lho. Apa yang paling seru di sekolah hari ini?” tanya Ibu sambil membantu Krevi melepas sepatunya. Vivi adalah nama panggilan Krevi di rumah.

“Hmm, apa ya… Tadi sih Krevi belajar penjumlahan, lalu membaca kalimat pendek,” jawab gadis kecil itu.

“Jadi mana yang paling seru?” ulang sang ibu.

“Nggak tahu… hehehe. ” jawab Krevi sambil meringis, lalu masuk ke dalam rumah mendahului ibunya. Sang ibu masih bertanya-tanya, apa betul anaknya hanya melakukan kegiatan berhitung dan membacanya di bangku TK. Rasanya, kegiatan di TK zaman ia kecil dulu jauh berbeda dengan kegiatan di TK anaknya sekarang. Kalau dulu TK identik dengan bermain, sekarang TK lebih identik dengan belajar. Apa iya begitu?

bakat anak belajar seasyik bermain

Selepas makan siang dan menidurkan Krevi, sang ibu masih saja penasaran dengan apa yang terjadi di TK hari-hari ini. Ia memang sempat menyimak perdebatan yang dibaca di laman Facebooknya mengenai apakah anak sudah boleh belajar secara formal di bangku TK atau tidak. Belajar membaca, menulis, dan berhitung agar anak lebih siap saat melanjutkan ke bangku SD. Ada yang mengatakan itu wajib, ada juga yang menolak belajar formal tersebut mentah-mentah.

Sang Ibu kemudian memutuskan untuk melakukan pencarian di internet. Ternyata, apa yang terjadi di TK hari-hari ini tak hanya terjadi di Indonesia saja. Negara maju seperti Amerika Serikat pun, masih banyak menekankan belajar formal di TK, dengan porsi bermain yang semakin sedikit. Namun beberapa negara bagian seperti Vermont, Minnesota, dan Washington mulai mengembalikan bermain ke dalam kurikulum TK.

Carolyn Pillow, seorang guru TK yang telah mengajar selama 15 tahun lebih mengungkapkan, “Saya merasa kami telah menyetir kendaraan ke arah yang salah dalam waktu yang cukup panjang. Kita tak dapat melupakan hal mendasar yang anak-anak butuhkan: kesempatan untuk bergerak, bermain, dan menjelajah.”

Negara-negara bagian tersebut mengadakan pelatihan bagi guru-guru untuk menekankan pentingnya permainan yang bertujuan, di mana tujuan belajar dapat dicapai dengan kegiatan-kegiatan seru seperti bermain, membuat prakarya, atau kegiatan menyenangkan lainnya. Sebelumnya, kurikulum Common Core diterapkan di sekolah-sekolah, yang menyebabkan anak belajar lebih keras. Bermain peran, kotak pasir dan ember digantikan oleh lembar kerja siswa dan buku membaca dan berhitung. Sang ibu lalu berpikir, agaknya belajar dan bermain semakin menjadi dua hal yang terpisahkan. Padahal dulu ia sangat mengenal istilah bermain sambil belajar.

Melihat Krevi tertidur lelap, sang ibu melanjutkan artikel yang sedang dibacanya. Ada hal menarik yang ia temukan: beberapa guru TK di daerah miskin menilai bahwa kegiatan belajar dan bermain sama pentingnya, karena sebagian besar anak-anaknya tak belajar berhitung dan membaca bersama orangtuanya di rumah. Kenyataan ini berbeda dengan keluarga-keluarga yang lebih mampu secara finansial.

Krevi sendiri tertarik belajar membaca karena melihat kedua orangtuanya biasa melakukannya di rumah. Sehingga saat anaknya meminta untuk diajari membaca, sang ibu paham kalau anaknya sendirilah yang ingin mencoba memahami cerita di buku-buku bergambar yang selama ini dibacakan oleh ibu atau ayahnya.

Sang ibu bersama suaminya pun mengajak Krevi belajar membaca melalui buku-buku cerita favoritnya, tanpa mendikte maupun menyuruh terus belajar saat Krevi bosan dan ingin melakukan hal lain. Ia yakin bahwa anak tertarik untuk belajar, dan dengan cara yang seru, anak bisa belajar apapun, belajar seasyik bermain. Termasuk belajar membaca, menulis, dan berhitung. Sebagai orangtua, yang bisa ibu dan ayah Krevi lakukan adalah memfasilitasi keseruan belajar seasyik bermain, sehingga anaknya tak perlu dipaksa belajar. Ia yakin bahwa Krevi dan anak-anak lainnya adalah pembelajar yang alami.

Bagi sang ibu, anak-anak, seperti dirinya dulu, identik dengan bermain. Sehingga ia ingin melihat Krevi pulang sekolah dengan gembira, karena di sekolah ia bisa menyanyi, berlarian bersama teman-temannya, maupun membuat prakarya dari kertas. Sehingga, saat ditanya apa yang paling seru di sekolah hari ini, Krevi tak kebingungan menjawabnya.

Apa kegiatan seru di rumah yang membuat anak dapat belajar seasyik bermain?

 

Foto oleh Mats Eriksson

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

One thought on “Apa Pentingnya Belajar Seasyik Bermain bagi Anak?”

  1. Bahkan hingga anak-anak saya udah SD pun belajar seperti bermain juga masih diterapkan. Terbukti, anak-anak lebih cepat menangkap pelajaran kalau prosesnya dibikin asyik

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d