Jurnalis Games, Pilihan Karir buat Anak yang Suka Bermain Game

Diposting oleh:

Bakat Anak – Apakah anak Ayah Ibu suka bermain game?

Saya rasa sebagian besar orang menikmati game, tentu dalam wujud yang berbeda-beda. Ayah Ibu mungkin mengenal berbagai permainan tradisional seperti engkle (berdiri dan melompat dari petak ke petak dengan satu kaki diangkat) atau congklak, sedangkan anak-anak sekarang mungkin lebih mengenal Angry Birds atau Minecraft.

Beberapa orangtua – mungkin termasuk Ayah Ibu – mencemaskan kebiasaan bermain game anak yang berlebihan. Mengapa sih anak bisa bertahan berjam-jam di depan layar konsol atau tabletnya? Selain karena mungkin mereka tidak pernah diperkenalkan dengan kegiatan lain yang sama menyenangkannya, kegiatan belajar jarang dibuat seasyik bermain, tulis Bukik Setiawan di buku Anak Bukan Kertas Kosong.

Belajar bisa seasyik bermain saat anak terpacu untuk menggali lebih jauh topik yang sedang dipelajarinya, memberi kebebasan anak untuk mengatur cara belajarnya sendiri, mengalami keseruan menempuh berbagai tantangan bertingkat yang menegangkan, hingga memaknai proses belajarnya. Sayangnya, proses belajar formal di sekolah seringkali tidak memenuhi prasyarat belajar seasyik bermain. Sampai para pendidik merumuskan apa yang disebut dengan gamifikasi: sebuah cara belajar seasyik bermain, yang terinspirasi oleh… bermain game.

bakat anak bermain game

 

Saya sendiri sangat suka bermain game, dan game yang berkualitas menawarkan banyak hal: cerita yang menggugah, pengalaman bermain yang seru, karakter yang menarik, tingkat kesulitan yang bisa disesuaikan dengan kemampuan pemain, dan sebagainya. Tentu tidak semua game cocok untuk semua anak; terdapat petunjuk usia yang Ayah Ibu perlu cermati saat membelikan/mengizinkan anak bermain game.

Salah satu hal paling menarik dalam bermain game adalah menceritakan keseruan bermain pada orang lain, dan meyakinkan mereka bahwa game yang kita sukai pantas mereka mainkan juga. Bagaimana kegembiraan bermain game disebarkan? Paling sederhana tentu dari mulut ke mulut, atau di era internet seperti sekarang, dari status ke status. Namun sering para pemain game tidak cukup puas dengan “apa kata para pemain”, sehingga mereka mencari sendiri informasi tersebut: dengan menyimak berbagai ulasan game.

Ulasan game yang keren memberikan gambaran yang memadai tentang game tersebut, berimbang dalam menjelaskan kekuatan serta kelemahan game, yang mana bertujuan sebagai bahan pertimbangan seseorang sebelum membeli dan bermain suatu game. Lebih dari sekadar bermain game, para pengulas game – yang secara umum disebut sebagai jurnalis game – juga adalah seorang penulis yang memiliki keahlian menilai bobot sebuah game.

Semangat seorang pengulas game adalah semangat berbagi informasi, pengalaman, serta keseruan bermain game. Mark Baldwin, seorang desainer game sekaligus pengajar desain game, mengungkapkan, “Jurnalis sebagai penyampai pesan dan penilai adalah salah satu dari berbagai peran penting dalam industri game. Tidak hanya bermain, menilai, dan menyampaikan penilaiannya secara tertulis kepada industri game sekaligus konsumennya, seorang jurnalis game harus memahami bagaimana rumitnya sebuah game dibuat sehingga ia sukses tampil sebagai sebuah hiburan.”

Saya sendiri juga adalah seorang jurnalis game di 3DS Pedia. Selama satu tahun lebih saya menulis, saya memahami bahwa kegiatan menulis tentang game lebih dari sekadar bermain game. Dengan semangat berbagi keseruan bermain game, seorang jurnalis game tidak cukup lihai bermain game, namun saya juga harus berlatih menulis, menyusun argumen, menilai secara objektif, sekaligus mengolah kata-kata yang menarik pembaca.

Bagaimana cara belajar menulis tentang game? Saya memulainya dengan membaca ulasan-ulasan game yang sudah ada. Saya sering mengunjungi Siliconera dan Kotaku, dan untuk yang berbahasa Indonesia, Tech In Asia Games (dulu bernama GamesInAsia). Perlu diingat bahwa situs-situs jurnalisme game biasanya mengulas semua jenis game, jadi dampingi anak bila anak perlu mengaksesnya.

Ayah Ibu dapat mengajak anak menceritakan keseruan game yang tengah dimainkannya, atau bahkan menulisnya dalam buku harian atau blog. Ini bisa menjadi jembatan belajar membuat tulisan konstruktif dari kegiatan yang disukainya, yakni kegemaran bermain game. Agar anak dapat lebih dari sekadar bermain game.

Apa kegiatan produktif lain terkait game yang dapat anak lakukan selain bermain game?

 

Foto oleh Elizabeth

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d