Jadi Juara atau Bermakna? Belajar dari Ki Hajar Dewantara

Diposting oleh:

Bakat Anak – Bagaimana jika anak Ayah Ibu diberi kesempatan menunjukkan bakat yang ditekuninya di depan banyak orang? Pastinya bangga, bukan?

Dan saat kesempatan itu bermunculan bak cendawan, melalui berbagai perlombaan dan kompetisi bakat, banyak orangtua yang tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk mengajak anaknya mengikuti acara tersebut. Dengan tampil di layar televisi, anak dapat dikenal lebih banyak orang dan membuat para orangtua bangga.

Namun bisa jadi, apa yang bermakna bagi kita, belum tentu bermakna bagi si anak. Meskipun apa yang dilakukan oleh anak adalah aktivitas kegemarannya, bisa jadi kegiatan memamerkan hasil belajar anak lebih merupakan tuntutan dari orangtua, bukan merupakan keinginan anak. Terlebih, upaya menunjukkan hasil belajar memerlukan bekal keterampilan sosial karena anak akan berinteraksi dengan orang lain.

Jadi, bagaimana sebuah aktivitas dalam bidang bakat yang ditekuni menjadi aktivitas yang bermakna?

bakat anak bermakna

 

 “Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya.”

Kutipan di atas merupakan salah satu tulisan Ki Hajar Dewantara yang paling terkenal semasa menjadi wartawan. Lho, bukannya KHD itu Bapak Pendidikan Nasional? Memang, namun pendiri Taman Siswa ini memulai kariernya dengan menjadi seorang jurnalis. Sebelum menjadi jurnalis, KHD yang bernama asli Suwardi Suryaningrat ini bahkan belajar di STOVIA, sebuah sekolah dokter pada masa penjajahan Belanda.

Tumbuh sebagai anak yang hidup di keluarga keraton tentu membuat Suwardi tak terkena banyak imbas dari penjajahan Belanda. Namun pun tak kekurangan secara finansial, Suwardi yang seharusnya bisa hidup dengan santai memilih untuk ikut pergerakan. Hatinya terbakar saat ia melihat kekejaman Belanda terhadap rakyat jelata, suatu hal yang tidak turut ia alami.

Akhirnya, setelah sembuh dari sakit yang membuatnya tidak lulus STOVIA, Suwardi menjadi seorang penulis sekaligus wartawan – sebuah keputusan yang lahir dari api yang membara di dalam dirinya. Selain menulis di berbagai surat kabar, termasuk De Expres pimpinan Douwes Dekker, Suwardi juga tergabung dengan Budi Oetomo, organisasi pergerakan yang tanggal berdirinya kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Nah, kutipan di atas merupakan bagian dari tulisan Suwardi berjudul “Seandainya Aku Seorang Belanda”, yang ditujukan kepada pemerintah Belanda yang hendak merayakan kemerdekaannya dari Perancis pada 1913 dengan meminta sumbangan pada rakyat Hindia Belanda yang dijajahnya sendiri. Kritik ini dimuat di De Expres tertanggal 13 Juli 1913. Tentu saja orang Belanda sangat geram dengan tulisan tersebut, dan alhasil, Suwardi bersama Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo diasingkan ke Belanda.

Diasingkan ke Belanda justru mengubah misi hidup Suwardi, dan ini menjadi keuntungan tersendiri karena ia dapat bertemu dengan pemikiran berbagai pendidik Barat seperti Froebel dan Montessori, serta pemikiran pendidik Timur seperti keluarga Tagore dari India. Kesempatan ini tidak disia-siakan, dan berbekal perjumpaan tersebut, Suwardi bercita-cita memajukan pendidikan rakyat Hindia Belanda. Itulah mengapa sekarang kita mengenalnya sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

Ki Hajar Dewantara mengawali kariernya dengan menulis, dan dengan terus mengolah kecerdasan aksaranya, ia terus menulis meski bidang yang digelutinya berubah menjadi pendidikan – sebuah aktivitas yang tetap bermakna baginya, karena dilakukan searah dengan misi hidup.

Anak pun memiliki misi hidupnya sendiri selagi menekuni bidang bakatnya. Orangtua tak bisa memaksakan standar sukses orang dewasa untuk diterapkan pada anak. Anak memiliki tugas perkembangan bakatnya sendiri, seperti yang telah dibahas dalam buku Anak Bukan Kertas Kosong, sehingga kepuasan saat berhasil menemukan fokus belajar bisa sudah bermakna bagi anak. Ayah Ibu dapat menanyakan apakah anak bahagia dengan bidang bakat yang ditekuninya sekarang.

Apa tips Ayah Ibu menstimulasi anak untuk mempelajari hal yang bermakna? 

 

Foto oleh Pabak Sarkar

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d