Inilah Bukti Bahwa Anak Kecil Pun Mampu Berpikir

Diposting oleh:

Seringkali kita menganggap anak kecil ibarat kertas kosong yang bisa dijejali dengan berbagai nasehat. Padahal anak kecil pun sudah mampu berpikir. Ini buktinya  

Berpikir adalah kemampuan awal yang dimiliki anak. Sayangnya, kemampuan itu sering diabaikan karena ada anggapan anak adalah kertas kosong. Di bawah ini ada ilustrasi dan kajian yang menunjukkan bahwa anak usia 3 tahun pun mempunyai kemampuan berpikir. Karena anak bukan kertas kosong.

“Yah, terang…”

Anka kecil mengamati lampu ruang keluarga yang baru saja ayahnya nyalakan. Matanya yang penuh rasa penasaran tak lepas dari benda berbentuk donat yang memendarkan cahaya putih tersebut. Ia berpikir. Sang ayah yang menyadari hal ini kemudian menggendong Anka agar anaknya lebih puas mengamati dari jarak yang lebih dekat.

“Kenapa Anka sayang? Itu lampu. Seperti katamu, lampu membuat rumah kita menjadi terang. Kamu bisa lebih jelas melihat sesuatu dengan lampu menyala.”

“Lampu? Anka mau coba lampu, Yah,” timpal Anka. Kini ia menoleh-noleh melihat sekeliling, lalu menunjuk-nunjuk suatu arah dengan jari kecilnya. Awalnya sang ayah tak paham apa yang dicari anaknya, namun kemudian sang ayah menduga kalau Anka ingin mencoba menyalakan lampu. Benar, mungkin karena anakku melihat aku menyalakan lampu, ia ingin melakukannya juga, pikir sang ayah.

“Anka mau mencoba menyalakan lampu seperti Ayah? Yuk deh, tapi karena letaknya tinggi, Ayah tetap gendong kamu ya sayang,” jawab sang ayah. Sambil menggendong anaknya, ayah Anka mendekati saklar yang ia gunakan untuk menyalakan lampu di ruang keluarga, agar jari Anka mampu meraihnya.

bakat anak menalar berpikir

 

“Sekarang, kamu boleh mencoba memadamkan dan menyalakan lampu sendiri. Coba kamu pencet tombol ini,” ajak sang ayah. Anka kecil pun mencoba memencet saklar dengan jarinya.

Belum berhasil. Anka berpikir mengapa belum berhasil

“Kurang ditekan, sayang. Coba lagi deh, hmm, coba dengan telapak tanganmu bagaimana?” pancing sang ayah. Anka sekali lagi menekan saklar; kali ini ia melakukannya ebih kuat dengan telapak tangannya. Ctek. Lampu keluarga pun padam.

“Yah, sekarang jadi gelap,” respon Anka kecil. Ia lalu sekali lagi memencet saklar dan tentu saja, lampu di ruang keluarga tersebut kembali menyala. Mungkin merasa takjub dan asyik karena bisa membuat ruangan berkelap-kelip, Anka kecil melakukannya berkali-kali sambil tertawa-tawa.

“Eh, ada apa ini… Eh, Anka lagi belajar nyalain lampu, Yah?” Sang ibu datang dari ruangan sebelah, mungkin karena menyadari ada yang byar-pet byar-pet dari ruang keluarga. Mendengar suara ibunya, Anka langsung meronta dari gendongan sang ayah, tanda minta turun dan digendong sang ibu.

“Kamu lagi belajar apa, sayang?” tanya sang ibu pada Anka kecil yang gembira dalam gendongan ibunya. Karena terakhir Anka membuat lampunya mati, Anka pun meminta ibunya untuk membawanya ke dekat saklar.

“Anka mau menunjukkan ke Ibu cara menyalakan lampu!!!” sahut Anka dengan girang. Setelah posisinya sudah cukup dekat dengan saklar, Anka pun memencetnya agar lampu menyala. Kini ruang keluarga kembali terang, cukup terang terutama karena hari sudah cukup sore.

“Wah, sekarang ruangannya jadi lebih terang, ya?” timpal sang ibu setelah Anka kecil menyalakan lampu. Anka lalu menunjuk lampu ruang keluarga, kemudian saklar yang digunakannya untuk menyalakan dan memadamkan lampu.

“Begini Anka melakukannya, Bu. Jika Anka memencet… Yah, ini apa ya?” tanya Anka. Ah iya, sang ayah belum memperkenalkan nama benda yang baru saja dipencet-pencet anaknya.

“Itu saklar, Anka,” jawab sang ibu duluan. “Sa-klar. Sa-ke-lar. Sa-klar.” Anka dengan segera menirukan apa yang baru saja diajarkan ibunya, lalu mengulang kata-kata tersebut.

“Sakelar! Lampu! Jadi kalau Anka memencetnya sekali, lampu dapat menyala. Kalau Anka memencetnya sekali lagi, lampu akan mati. Begitu,” tukas Anka kecil. “Yah, berarti Anka bisa menyalakan dan mematikan lampu lain di rumah dengan cara yang sama?”

“Tepat sekali Anka sayang. Kalau di rumah kita, tiap lampu punya saklarnya masing-masing. Jadi kamu harus menyalakan atau mematikannya satu per satu,” jawab sang ayah. Menyadari kata-katanya sendiri, sontak sang ayah mengingat artikel yang dibacanya tadi pagi. Michele Mazzocco, seorang profesor di bidang perkembangan anak, mengatakan bahwa anak-anak di usia pra-sekolah, seperti Anka, sudah mampu berpikir – sebuah kemampuan di bidang sains, sekaligus bentuk kecerdasan logika – dalam hukum sebab-akibat. Anka yang baru saja menyimpulkan bahwa ia dapat menyalakan lampu-lampu lain di rumah dengan cara yang sama, membuktikan bahwa anaknya sudah mampu berpikir, memahami hukum sebab-akibat.

Mungkin Anka belum bisa mengerjakan soal matematika, namun usianya yang masih 3 tahun ternyata tak menghambatnya untuk berpikir, memahami hukum sebab-akibat seperti tadi, simpul sang ayah dalam hati. Ia pun berencana untuk membagikan artikel tersebut pada istrinya agar mereka berdua sebagai orangtua mendapat pemahaman mengenai membantu anaknya berpikir dan mengenal sains sejak dini.Karena anak bukan kertas kosong.

Apa tips Ayah Ibu untuk membantu anak berpikir memahami prinsip-prinsip sains sejak kecil?

 

Foto oleh James Jordan

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d