3 Inspirasi Bon Jovi dalam Merawat Ketekunan Berkarier

Diposting oleh:

Bakat Anak – Apa yang terjadi saat seseorang justru berhenti berkarya saat menjalani fase berkarier?

Namun memang, ada kalanya kita tercebur dalam sebuah titik nadir. Titik di mana kita terlalu sibuk melihat nama kita terpampang di berbagai kota, menghadiri berbagai pertemuan, dan memastikan diri agar bertemu si ini dan si itu, demi keberlangsungan karier kita. Saking sibuknya, kita lupa caranya berkarya seasyik saat menulis novel pertama, mengunggah lagu pertama di YouTube, membuat resep orisinil pertama di dapur…

Kita kehilangan kegiatan yang bermakna, justru saat menjalani karier kita.

Bukik Setiawan dalam buku Anak Bukan Kertas Kosong, sempat menyinggung bahwa terdapat tantangan bagi orangtua agar tidak menampilkan hasil belajar anak secara berlebihan, maupun terlalu sedikit. Ikut lomba di sana-sini, atau menggelar konser ke sana-kemari, seringkali justru menghabiskan energi, tanpa adanya waktu untuk mundur, berefleksi, dan mulai berkarya lagi.

Memang ada godaan untuk memastikan bahwa diri anak ‘tetap di atas’ saat berkarier dengan terus menampilkan hasil belajarnya. Namun saat anak terlalu sibuk tampil dengan karyanya yang sudah-sudah, anak tidak punya kesempatan untuk belajar berkelanjutan, dan menghasilkan karya baru yang relevan, lebih segar, dan bermakna bagi perjalanan kariernya. Ini membuat saya teringat pada seorang musisi yang menyalahkan media YouTube, yang menurut dia membuat orang enggan membeli karyanya.

bakat anak bon jovi

 

Itulah sebabnya, merawat ketekunan dalam berkarier diperlukan agar anak nanti tidak tercebur dalam titik nadir. Perjalanan Jon Bon Jovi – vokalis dan gitaris dari band Bon Jovi – meniti karier bermusik bersama rekan-rekan satu band selama 30 tahun lebih, bisa menginspirasi Ayah Ibu untuk membantu anak dalam menjalani fase berkariernya nanti.

Pertama, pastikan perjalanan karier tetap bermakna bagi diri anak. Langkah-langkah awal dalam berkarier biasanya ditempuh dengan penuh semangat, penuh energi. Lambat laun, dorongan dalam diri untuk berkarya mulai berkurang, yang bertambah justru kegiatan-kegiatan sampingannya – termasuk mengejar uang. Agar perjalanan karier tetap bermakna, kegiatan berkarya haruslah menjadi fokus utama anak.

Jon Bon Jovi menjelaskan, “Uang itu benar-benar produk sampingan dari sebuah karya. Namun saya tidak bermain gitar untuk mendapatkan uang. Saya sangat suka belajar bagaimana bermain dan tampil di atas panggung, dan saat saya memilihnya sebagai arah karier saya, keputusan tersebut diambil atas dasar gairah (passion) saya. Hasil sampingannya adalah kesuksesan kami, yang tak hanya menghasilkan, namun juga menjaga uang tetap ada.”

Kedua, menjadikan kegiatan berkarya anak relevan dengan kondisi saat ini. Inilah yang membuat band Bon Jovi bisa mempertahankan dan memperluas fansnya selama perjalanan karier mereka. Membuat karya yang relevan bukan berarti sekadar mengikuti tren, ungkap Jon Bon Jovi, sehingga ia menambahkan, “Saya mencoba untuk tidak menjauh dari apa yang nyaman untuk saya kerjakan.” Lanjutnya, “Saya selalu menyemangati setiap anggota band, dan diri saya sendiri, untuk mencoba hal-hal berbeda. Pergi dan jelajahi apapun dalam hidup yang menggerakkanmu. Namun ketahuilah saat kita harus kembali bekerja, mari kembali ke ‘rumah kita’.” Tidak salah untuk mencoba hal-hal baru, namun untuk tidak menjadi diri sendiri karena mengikuti tren, bukanlah pilihan yang bijak.

Ketiga, belajar berkelanjutan. Sekali lagi karier bukanlah tanda titik, bukan tempat mendaratkan perahu perjalanan hidup untuk terakhir kalinya. Pun bergelimang dengan ketenaran, di usianya yang kelima puluh, Jon Bon Jovi masih mengaku perlu lebih banyak belajar. “Saya tidak pernah belajar memainkan gitar dengan serius. Jadi saya memutuskan untuk mengambil kursus gitar di usia saya yang ke-50 untuk menjadi gitaris yang lebih baik.”

Fase berkarier bukanlah saat anak menghabiskan waktunya berada di atas panggung, maupun memamerkan kebolehannya, namun juga mundur sejenak dan mengambil waktu untuk belajar lagi. Berdiam diri dan berefleksi tentang diri anak yang selama ini menjalani fase berkarier. Apakah ia sudah cukup merawat ketekunannya dalam berkarier?

Apa pengalaman berharga Ayah Ibu dalam berkarier yang dapat diceritakan kepada anak?

 

Foto oleh The Jakarta Post

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d