Mengapa Buku Cerita dapat Melejitkan Empati Anak?

Diposting oleh:

Bakat Anak – Berapa jumlah buku yang telah anak Ayah Ibu baca di tahun ini?

Pertanyaan di atas memang menarik, namun akan lebih menarik jika saya menambahkan pertanyaan ini: apakah anak lebih banyak membaca buku teks ketimbang buku cerita atau literatur?

Tentu saja, kesempatan anak untuk membaca jenis buku tertentu tergantung pada akses – salah satunya adalah ketersediaan berbagai jenis buku di rumah. Orangtua mungkin lebih terpikir untuk membelikan anak buku teks atau lembar kerja siswa, karena buku-buku tersebut memang akan dipakai anak untuk belajar. Namun pernahkah kita terpikir untuk membelikan anak buku cerita atau novel, seperti kita membelikan mereka buku pelajaran?

Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa membaca buku cerita, novel, bahkan kisah hidup seseorang dapat menumbuhkan empati dalam diri anak maupun orang dewasa yang membacanya. Buku menjadi jendela dunia, karena di dunia fisik yang keluarga kita tinggali sekarang, kita belum tentu berkesempatan mengenal orang-orang yang berbeda. Mereka yang tinggal di pegunungan mungkin kesulitan memahami perjuangan nelayan, sebaliknya yang tinggal di pesisir belum tentu menjiwai kerasnya hidup di pegunungan.

Tanpa cerita, hidup anak akan kering tanpa makna.

bakat anak empati

 

Kewajiban membaca buku cerita di sekolah mungkin jauh berkurang di masa kini – dan itu bukanlah masalah anak Indonesia semata. Sekolah-sekolah di Amerika Serikat pun mengalaminya, saat mereka lebih mementingkan buku-buku informatif ketimbang buku cerita. Bahkan, lebih umum, seperempat orang dewasa di Amerika Serikat tak menghabiskan satu pun buku pada tahun 2014.

Mengutip John Medina, otak manusia lebih mudah merespon informasi yang menyentuh emosi, bukan informasi yang netral. Seringkali, literatur, buku cerita, bahkan video game lebih mampu menyodorkan informasi yang emosional, yang memikat – oleh sebab itu anak lebih tahan lama bermain video game ketimbang membaca buku paket untuk ujian keesokan harinya.

Dengan mengolah informasi yang menyentuh emosi, anak dapat membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang budak, menjadi pengangguran, menjadi orang kaya, bahkan menjadi presiden – hal-hal yang belum tentu anak dapat rasakan langsung setiap hari. Saya sendiri menikmati membaca buku-buku fiksi; membaca “The Winner Stands Alone” karya Paulo Coelho misalnya, membukakan mata saya bahwa dunia selebritis itu tak serta-merta indah, atau membaca “The Catcher in the Rye” karya J.D. Salinger, membuat saya memahami perasaan seorang remaja yang dicap nakal. Ya, saya belajar berempati pada hidup yang tidak saya jalani.

Saat anak belajar berempati, anak sedang menggunakan salah satu dari delapan kecerdasan majemuknya, yakni kecerdasan relasi. Bukik Setiawan dalam buku Anak Bukan Kertas Kosong menerjemahkan kecerdasan relasi sebagai kemampuan dalam mengolah informasi mengenai orang lain. Saat anak memahami keadaan orang lain, anak mampu mengomunikasikan pesan secara efektif kepada orang lain – dari merespon kesedihan saudaranya, sampai mengambil sikap saat salah satu teman di kelasnya dijauhi karena berbeda dari kawan-kawan sekelasnya.

Apa tips Ayah Ibu memilihkan buku cerita yang cocok untuk anak?

 

Foto oleh Quinn Dombrowski

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d