Akso, Ini Cara Cerdas Berlatih Sepak Bola

Diposting oleh:

Bakat Anak – Kapan terakhir kali Ayah Ibu menemani anak mengikuti perlombaan atau pertandingan?

Saat perhelatan sepak bola antar sekolah diadakan, Akso pun tak enggan mengajak ibu dan kedua adiknya ikut menonton. Bermain sepak bola adalah kegemaran Akso dan kedua adiknya, dan kini giliran adik pertamanya yang duduk di bangku kelas 4 SD, Aksi bertanding.

Saat babak pertama usai dan waktu turun minum berjalan, Akso iseng mengajari adik paling kecilnya, Aksa cara melakukan tendangan sudut. Akso mempraktikkan cara mengayunkan kaki, menunjukkan sudut telapak kaki saat menendang, dan tentu saja, menendang bolanya ke mulut gawang.

“Lihat posisi kaki kakak, Sa. Dengan mengayunkan kaki dengan kemiringan seperti ini–“

Bola milik Akso meluncur kencang ke mulut gawang. Tidak ada siapapun di sana, jadi Akso yang mengambil bolanya sendiri. “–kamu dapat menembakkan bola di daerah kotak penalti, untuk siap disambut temanmu yang lain,” jelas Akso pada adiknya yang paling kecil. Aksa manggut-manggut, lalu meminta sang kakak melakukannya sekali lagi, langkah demi langkah.

bakat anak sepak bola

 

Saat bola kembali menggelinding di mulut gawang, kini Aksalah yang mengambilnya sembari terburu-buru. Terutama karena peluit babak kedua telah ditiup. Akso dan Aksa kemudian menepi ke pinggir lapangan, di mana sang ibu sudah menunggu mereka dari tadi.

“Bu, aku tadi diajari Kakak cara melakukan tendangan sudut,” tutur Aksa kepada sang ibu. “Jadi awalnya, Aksa  harus melakukan ancang-ancang, lalu sedikit berlari menuju bola dan menyepaknya dengan bagian telapak kaki Aksa yang ini,” lanjut Aksa sambil menunjukkan bagian telapak kaki yang harus digunakannya untuk melakukan tendangan sudut. “Nendangnya harus keras, biar bisa sampai ke kotak penalti,” tegasnya.

“Daripada kamu cuma menjelaskan ke Ibu, rasanya mendingan Aksa latihan beneran, deh,” timpal sang ibu kepada Aksa. “Biar beneran jago melakukan tendangan sudut seperti Kak Akso.”

“Aksa cuma ingin menjelaskan apa yang sudah diajarkan sama Kak Akso ke Ibu, sih, biar lega. Pastinya nanti Aksa latihan juga biar semakin jago,” tukas Aksa. “Biar lebih ingat aja apa yang sudah ditunjukkan sama Kakak.”

“Betul sekali, Bu,” terdengar sebuah suara di belakang sang ibu. Ternyata suara tersebut milik pelatih bola Akso dan Aksi, sekaligus guru olahraga di sekolah mereka berdua. “Apa yang anak Ibu barusan katakan itu benar. Memang, bermain bola itu membutuhkan latihan. Tetapi tidak ada salahnya mengulas kembali  tips-tips yang sudah diajarkan oleh Akso barusan, kok,” ujarnya.

“Saya sempat baca sebuah penelitian bahwa memikirkan kembali apa yang barusan dipelajari, bisa meningkatkan pemahaman tentang topik yang sedang ditekuni. Coba saya carikan artikelnya ya,” ungkap Pak Pelatih. Sembari mencarikan artikel di perambah (browser) ponselnya, Pak Pelatih melanjutkan, “Itu sebabnya saya menganjurkan anak-anak untuk selalu memikirkan kembali teknik bermain bola yang baru mereka pelajari. Entah dicatat dalam buku, atau bahkan diceritakan ke sesama pemain. Nah, ini, coba Ibu baca sekilas.”

Ibu meminjam ponsel Pak Pelatih untuk membaca penelitian yang baru saja dibicarakan. Pada artikel tersebut, dituliskan bahwa refleksi memang meningkatkan pemahaman mengenai apa yang telah dipelajari seseorang. Penelitian bertajuk “Learning by Thinking: How Reflection Aids Performance’ tersebut menunjukkan bahwa setelah menyelesaikan suatu persoalan matematika, beberapa kelompok diberi waktu untuk mengulas strategi yang baru saja atau akan mereka gunakan berikutnya, sementara kelompok yang lain tidak.

Saat menyelesaikan persoalan matematika selanjutnya, kelompok yang mengulas strategi menunjukkan hasil 18% lebih baik dibandingkan kelompok yang tidak melakukannya. Peningkatan pemahaman tersebut bahkan tidak bersifat sementara, namun lebih lama bertahan dalam diri seseorang.

Penelitian tersebut juga menguji pepatah bahwa cara belajar terbaik adalah dengan mengajarkannya, seperti yang baru saja Aksa tuturkan pada sang ibu. Ternyata cara tersebut sama efektifnya dengan melakukan refleksi, dan menceritakan kembali atau mengajarkan sesuatu yang baru saja dipelajari juga merupakan hasil refleksi, cara seseorang belajar mendalam.

Sang ibu yang baru saja tercerahkan oleh artikel tersebut, mencatat judul penelitian yang baru saja dibacanya untuk dicari di rumah. Setelah menyerahkan kembali ponsel dan berterima kasih kepada Pak Pelatih, sang ibu berkata pada Akso dan Aksa, “Kini Ibu tahu cara berlatih sepak bola, bahkan belajar apapun dengan cerdas. Nanti Ibu kasih tahu di rumah, deh.”

“Siap, Bu!” sahut kedua anaknya.

Apa tips Ayah Ibu agar anak terbiasa melakukan refleksi dalam proses pengembangan bakatnya?

 

Foto oleh Chip Griffin

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d