Cody’s App Academy, dari Asyik Bermain jadi Asyik Membuat Game

Diposting oleh:

Bakat Anak – Kegemaran anak bermain game dapat menjadi produktif saat anak dikenalkan dengan kegiatan membuat game sendiri.

Dengan teknologi yang begitu pesat, tak jarang kita menjumpai anak-anak menggenggam tablet ke mana-mana. Apa yang mereka lakukan? Yang paling sering saya amati, ya bermain game. Kehadiran telepon pintar dan tablet kemudian menjadi perdebatan yang cukup sengit: apakah teknologi yang demikian membawa lebih banyak dampak positif atau negatif buat anak? Saya sendiri secara umum tidak mengambil sikap ekstrem, baik mengisolasi anak dari gawai (gadget) karena para orangtua juga menggunakannya, maupun memberi anak akses sepenuhnya ke gawai tanpa kontrol orangtua.

Tentu saja, anak yang terlampau kecil patut diberikan waktu penuh untuk mengembangkan kemampuan motorik kasar dan halusnya. Namun bagaimana dengan anak-anak yang lebih besar? Apakah secara umum bermain game sama sekali tidak bermanfaat bagi anak? Saya sendiri gemar bermain game, dan menyadari bahwa bermain game memiliki berbagai dampak positif. Bahkan walikota Surabaya saja belajar tentang manajemen kota dengan mengambil inspirasi dari game SimCity.

codys-app-academy-2

Jika kita mau berpikir lebih jauh, kegemaran bermain game sebenarnya memiliki dua tantangan: pertama, bagaimana anak dapat berbagi waktu untuk bermain game dan melakukan kegiatan lain, dan kedua, bagaimana kegemaran bermain game, yang merupakan kegiatan mengonsumsi suatu produk, bisa berkembang menjadi kegiatan yang lebih produktif. Misalnya, menjadi pengulas game seperti yang saya sedang lakoni, atau lebih jauh, membuat sendiri sebuah game yang asyik.

Mungkinkah anak berubah dari sebagai penikmat game, menjadi pembuat game? Saya kemudian berjumpa dengan Cody’s App Academy, sebuah wahana yang memberi kesempatan anak belajar pemrograman. Tidak semata-mata belajar pemrograman, tetapi pemrograman yang asyik, karena anak-anak yang pada dasarnya gemar bermain game diajak belajar pemrograman dengan membuat game.

Menemui Stella Sjahli, salah satu anggota tim Cody’s App Academy, ia mengiyakan bahwa wahana berupa kursus ini tercetus sebagai gagasan bahwa anak tak cukup berhenti sebagai penikmat game. Mereka bisa belajar membuat game dan animasi – bentuk hiburan yang menarik buat anak-anak – melalui pemrograman, sebagai fokus belajar anak. Dengan mengambil tema yang disukai anak-anak, anak diajak belajar dengan cara yang menyenangkan, sekaligus bahwa pemrograman itu mudah.

codys-app-academy-3

Dengan rentang usia yang cukup besar – dari kelas 1 SD hingga SMP – anak bisa belajar pemrograman di Cody’s App Academy sesuai dengan kecepatannya masing-masing. Jadwal belajar yang bisa diambil anak pun fleksibel, karena Cody’s App Academy buka dari hari Senin hingga Minggu. Sabtu menjadi hari kesukaan anak-anak yang belajar di sana. Satu sesi belajar yang dihadiri maksimal tujuh anak, dan saat saya datang ke Cody’s App Academy, Wisnu dan Okky sedang memandu anak-anak mencoba materi fisika (physics) dalam game (misalnya, mengatur gerakan meluncur burung-burung Angry Birds).

Stella kemudian menjelaskan bahwa materi pemrograman di Cody’s App Academy diajarkan dengan pendekatan yang menghargai keberagaman dan jerih payah anak. Dengan pendekatan yang demikian, guru tak hanya cukup membekali diri dengan ilmu pemrograman. Dua guru di Cody’s App Academy, Wisnu Sanjaya (yang juga berperan sebagai CEO) dan Okky Permatasari, berasal dari dua latar belakang yang berbeda: desain dan pemrograman, namun sama-sama menyadari elemen penting sebagai pengajar di Cody’s App Academy: menyukai anak-anak dan mau belajar bersama mereka.

codys-app-academy-1

Menghargai jerih payah anak menjadi prinsip yang dipegang oleh Cody’s App Academy. Beberapa anak mungkin lebih jago dalam pemrograman, sedangkan yang lain lebih jago membuat ilustrasi. Namun, keduanya diajarkan – dan apapun hasilnya, anak diajak mengapresiasi usaha mereka: bahwa itu adalah hasil karya mereka sendiri, dan mereka telah berusaha membuatnya.

Jerih payah anak tersebut tak hanya dinikmati anak saja, karena Cody’s App Academy juga berusaha membina hubungan baik dengan para orangtua sebagai pendidik utama anak. Menjelang akhir sesi, para ayah dan ibu yang sudah menjemput anak diajak untuk melihat hasil karya mereka, dan diajak mengobrol untuk membicarakan perkembangan belajar anak. Kalaupun orangtua tak bisa hadir, mereka akan mendapatkan kabar melalui telepon dan dapat menikmati hasil karya anak yang dikirim melalui e-mail. Yang menarik menurut penuturan Stella adalah, para orangtua yang memberi kesempatan anak belajar pemrograman di Cody’s App Academy merespon baik saat mereka mengajak orangtua mengapresiasi usaha anak.

allen-brooks-aplikasi

Cody’s App Academy yang terletak di Bintaro Entertainment Center Lantai 3, CBD, Bintaro Jaya ini juga mengadakan Kids Coding Competition yang kedua, yang akan diselenggarakan pada 29 Agustus. Menariknya, acara yang diadakan untuk anak SD dan SMP ini tidak wajib memiliki kemampuan pemrograman. Anak akan diajak belajar terlebih dahulu sebelum menyelesaikan tantangan yang diberikan. Wahana ini bisa menjadi kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kegemaran bermain game – dari asyik bermain menjadi asyik membuat game, yang mengingatkan saya bahwa saat anak mencipta, anak dapat memberikan sesuatu kepada orang lain.

Situs Cody’s App Academy | Facebook Cody App Academy

Apa tips Ayah Ibu untuk mendorong anak mulai berkarya sesuai kegemarannya?

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss