Dibimbing Rasa Ingin Tahu, Anak SD ini Ciptakan Alat Deteksi Beban Tas

Diposting oleh:

Bakat Anak – Apa yang membuat anak ini terpikir untuk menciptakan alat deteksi beban tas?

Salah satu kekuatan rasa ingin tahu adalah mengantarkan anak pada upaya problem solving, atau penyelesaian masalah. Baru-baru ini, seorang anak SD kelas 5 melahirkan inovasi dengan menciptakan alat deteksi beban tas. Bagaimana sang anak dibimbing oleh rasa ingin tahu untuk mengurangi pegal-pegal akibat beban tas yang berat? Kita simak kisahnya, yuk.

bakat anak memelihara keingintahuan

Kita semua tentu tahu bahwa semakin lama, tas anak sekolah semakin berat saja. Ibu saya misal, seringkali mengomentari isi tas saya yang sedemikian penuh, yang konon membuat saya sulit menambah tinggi badan. Beliau sampai membandingkan dengan masa sekolahnya dulu, ketika para siswa kebanyakan hanya membawa buku catatan ke sekolah, sehingga tas bukan barang wajib seperti sekarang.

Zaman memang sudah berubah. Buku teks – terlepas kualitas isinya – wajib dimiliki para siswa. Belum ditambah Lembar Kerja Siswa plus buku catatan untuk tiap mata pelajaran. Alhasil, tas anak jadi penuh dengan buku; buku yang belum tentu dipakai dalam sekian jam pelajaran. Kalau saja boleh tidak membawa beberapa buku… tapi pasti rasanya aneh kalau semua teman membawa, sedangkan aku tidak?

Berangkat dari rasa ingin tahu

Rafi Yudha Hidayat (10), siswa kelas 5 SD Al-Azhar 29 Semarang, ternyata juga kewalahan dengan beban tas yang dibawanya ke sekolah. Dibimbing rasa ingin tahunya, anak yang gemar membaca dan berselancar di dunia maya tersebut akhirnya menemukan bahwa sebaiknya isi tas tidak lebih dari 10% berat badan – atau tepatnya massa – si pembawa tas, demikian seperti dilansir dari detikcom.

Rafi ternyata tak puas hanya dengan mengetahui hal tersebut. Ia kemudian berkeinginan untuk membuat suatu alat deteksi beban, yang bisa memberitahu dirinya saat isi tas yang dibawanya melebihi batas yang dianjurkan. Seperti cara kerja lift, alat ciptaan Rafi yang dinamainya Bag Overweight Sensor tersebut akan mengeluarkan suara saat beban yang dibawa dalam tas melebihi 10% berat badan anak.

Banyak teman-teman yang mengalami masalah karena tasnya berat, punggung jadi sakit. Saya juga merasakan. Saya terus cari lewat Google, di The American Occupational Therapy Association.

Kegagalan, keberhasilan, dan belajar berkelanjutan

Didampingi oleh sang guru, Rafi melakukan serangkaian percobaan untuk membuat idenya menjadi kenyataan. Beberapa alat dan bahan dikumpulkan bersama sang guru untuk kemudian dirakit sesuai alat deteksi beban bayangan Rafi. Proses pembuatannya tak semudah yang dibayangkan, karena dua percobaan pertama Rafi mengalami kegagalan.

Pertama, saat Rafi mencoba memasang neraca pegas di tiap tali sandang, kedua neraca pegas tersebut ternyata tidak berhasil menunjukkan angka yang sama – alias tidak akurat. Percobaan kedua alat deteksi beban Rafi dilakukan dengan meletakkan sensor di bagian bawah tas. Ternyata hal tersebut tak berhasil, karena beban tas paling berat berada di tali sandang yang menyentuh pundak.

bakat anak alat deteksi beban tas rafi yudha hidayat

Pada akhirnya, Rafi berhasil merakit versi terkini dari alat deteksi beban atau Bag Overweight Sensor ciptaannya. Ia masih ingin menyempurnakan alat tersebut karena sampai saat ini, pendeteksi beban berlebih pada tas yang ia kembangkan masih harus dipasang bersatu dengan tas. Namun, terobosannya sudah membawanya memenangkan lomba Kalbe Junior Scientist Award di Jakarta. Alat buatannya tersebut akan dipasang di PP Iptek selama setahun ke depan, dan sedang direncanakan pematenannya dengan pihak LIPI. Keren, ya?

Memelihara Keingintahuan

Apa yang dilakukan oleh Rafi bisa menginspirasi, dan bahkan dilakukan oleh anak-anak lain di Indonesia, termasuk anak Ayah Ibu. Setiap anak dilahirkan dengan rasa ingin tahu di berbagai bidang yang diminatinya, seperti yang dialami oleh Rafi. Saat anak belajar peka terhadap suatu masalah, rasa ingin tahu yang terpelihara akan membuat anak berpikir untuk mencari tahu jalan keluarnya. Anak tidak berhenti dengan mengeluhkan masalah yang dihadapinya saja.

Salah satu cara memelihara keingintahuan, menurut Elizabeth Svoboda, seorang jurnalis sains dan penulis buku What Makes a Hero, adalah dengan mengalahkan rasa takut atas keinginan mencoba hal baru. Terkadang bukan sang anak yang tak berani mencoba hal baru, melainkan para orangtuanya, seperti telah saya tulis di 4 Cara Praktis Mengurangi Kecemasan Orangtua atas Kegagalan Anak.

Ingin sang anak sukses, banyak orangtua terlalu berhati-hati menjaga anak agar ‘berjalan di jalur yang aman’, dan tidak mencoba hal-hal berbeda, semisal hal-hal yang tidak terkait dengan sekolah. Padahal, bisa jadi anak menaruh minat terhadap apa yang tidak dipelajarinya di kelas.

Jadi, Ayah Ibu juga berperan dalam memelihara keingintahuan anak… setuju, ya?

 

Apa yang selama ini Ayah Ibu lakukan dalam menumbuhkan dan turut memelihara rasa ingin tahu anak?

 

Dokumentasi Rafi Yudha Hidayat dicuplik dari sini

Foto oleh Tommy Wong

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss