Empati, Bekal Berkarya yang Bermakna: Inspirasi Stephen Marsh

Diposting oleh:

Bakat Anak – Bagaimana empati membantu anak membuat karya yang bermakna?

Tentu saja, berkarya menjadi salah satu patokan pengembangan bakat anak. Berkarya mencerminkan pilihan fokus belajar anak, usaha anak untuk belajar mandiri, sekaligus sebagai bentuk hasil belajar anak. Kita sendiri juga berkarya di bidang maupun profesi yang kita tekuni sekarang. Pertanyaannya adalah, seberapa bermakna karya yang telah kita hasilkan selama berkarier? Apakah sekadar menghasilkan uang, atau sebagai tuntutan pekerjaan semata?

Salah satu pokok penting yang digagas Bukik Setiawan dalam buku Anak Bukan Kertas Kosong adalah bagaimana proses belajar bisa mencapai kebermaknaan. Saat anak mulai menguasai suatu keahlian, menyanyi misalnya, anak bisa merasa bangga saat orangtuanya menikmati lagu-lagu yang dinyanyikannya. Suasana rumah menjadi tenang dan damai. Memang bukan hal yang muluk-muluk, jika dibandingkan dengan bisa menyanyi di ajang bakat tingkat nasional, namun anak bisa merasakan bahwa apa yang ia tekuni selama ini bisa membuat baik diri sendiri maupun orang lain senang.

Oleh karena itu, untuk bisa menghasilkan karya yang bermakna, penguasaan suatu keahlian saja tidak cukup. Anak harus belajar memperhatikan sekeliling dan kebutuhan orang lain agar ia dapat mewujudkannya melalui kegiatan berkarya. Memang, seringkali berkarya dalam bentuk apapun biasanya bertujuan untuk memuaskan diri sendiri. Namun pada akhirnya, saat anak belajar untuk menampilkan hasil belajar, mau tidak mau ia akan bersinggungan dengan orang lain, bahkan masyarakat luas.

Bagaimana agar kegiatan berkarya dapat lebih terhubung dengan kebutuhan orang lain? Belajar memahami kebutuhan orang lain, tentu saja bisa dilatih, dengan berempati.

bakat anak empati 2

 

Stephen Marsh adalah seorang inovator yang membuktikan bahwa empati bekerja dengan sangat baik dalam berkarya, bahkan berinovasi. Ia menciptakan sebuah peralatan yang membantu para penderita gangguan tidur, yakni sleep apnea, untuk bernapas lebih lega saat terlelap. Sleep apnea sendiri merupakan gangguan tidur saat laju napas seseorang tidak teratur, bahkan terkadang berhenti tanpa disadari. Bayangkan, karena gangguan tersebut, seseorang bisa berhenti bernapas saat tidur sampai beberapa menit!

Sebenarnya, sudah ada alat yang membantu para penderita gangguan tidur ini. Namun alat yang bernama CPAP ini cukup ribet untuk dipakai karena ia berbentuk seperti masker pilot pesawat tempur. Hal tersebut membuat banyak penderita sleep apnea tidak nyaman saat harus menggunakannya, bahkan memilih untuk tidak menggunakannya sama sekali. Hal ini, ternyata juga dialami oleh kakak Stephen Marsh.

Stephen Marsh yang menyaksikan sendiri ketidaknyamanan yang dialami sang kakak, berujar, ”Sebagai seseorang dengan anggota keluarga yang menderita sleep apnea, saya menyadari potensi dampak kesehatan yang dapat dialaminya. Menelusuri berbagai studi, saya menyadari bahwa peralatan yang saat ini ada justru memiliki kekurangan yang membuat penggunaannya kurang efektif – dan melihat kesempatan untuk membuat desain baru yang dapat digunakan lebih bebas.”

Saat beberapa produk kesehatan diciptakan hanya untuk meraup keuntungan semata, Stephen justru berfokus pada orang yang ingin ditolongnya – sebuah bentuk empati. Ia tidak berfokus pada uang yang akan dihasilkannya dengan membuat desain baru, tetapi berfokus pada apakah desain baru yang dibuatnya disukai banyak orang. Di titik itulah, inovasi muncul: Stephen Marsh menciptakan alat bernama Airing, yang jauh lebih sederhana; tanpa masker dan selang.

Saat anak mulai dapat menghasilkan uang dengan berkarya, Ayah Ibu sebagai orangtua perlu berdiskusi dengannya, dan mengingatkan anak bahwa uang bukanlah tujuan utama berkarya. Apa yang membuat kegiatan berkarya menjadi lebih bermakna, justru datang saat orang lain merasakan dampak positif dari hasil belajar anak. Saya percaya, anak akan lebih bahagia saat ia bisa melihat sekelilingnya bahagia saat menikmati karyanya. Dan saya percaya pula, uang akan mengikutinya.

Bagaimana Ayah Ibu memfasilitasi anak untuk peka pada kebutuhan orang lain dalam berkarya?

 

Foto dicuplik dari sini

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye