Ide Solutif Anak, Lahirnya dari Empati

Diposting oleh:

Bakat Anak – Setiap gagasan yang muncul dalam kerangka berpikir desain pasti berlandaskan empati.

Sebelum berkarya, anak perlu mengumpulkan segenap keyakinan bahwa mereka mampu. Creative confidence, self-efficacy, keyakinan diri – apapun bahasanya – sangat perlu ditumbuhkan dalam setiap diri anak yang hendak berkreasi. Namun apakah semudah itu anak kemudian dapat turut menyelesaikan masalah di sekitarnya?

Dalam berpikir desain, ide kreatif yang lahir dari kepercayaan diri anak bukan sekadar ide, namun ide yang berlandaskan empati.

bakat anak empati

Kita melihat banyak orang berkarya, baik dalam bentuk produk maupun jasa. Namun kita juga mengetahui bahwa tidak semua karya bisa berdampak, atau bahkan membawa perubahan positif pada lingkungan sekitarnya. Alhasil, menawarkan ide inovatif maupun solusi kreatif yang bisa membantu orang lain (termasuk diri sendiri) menjadi lebih baik terdengar lebih sulit. Mungkinkah hal tersebut dapat dilakukan oleh anak-anak?

Jawabnya adalah: ya! Gagasan Kiran Bir Sethi, yakni Design for Change, memperlihatkan bahwa anak-anak di seluruh dunia pun mampu menggagas ide sebagai solusi atas permasalahan di sekitar mereka, seperti yang dilakukan orang dewasa. Perubahan yang dilakukan anak bisa jadi besar atau kecil, namun terlepas dari hal tersebut, anak pun dapat membawa perubahan positif di sekitar mereka. Bagaimana mereka bisa melakukannya? Karena anak pun memiliki kemampuan yang juga dimiliki kita, orang dewasa: empati.

Ayah Ibu sudah menyimak bagaimana anak-anak di Kamerun berinisiatif untuk bergembira tanpa melukai temannya – dan hal tersebut membuat mereka belajar membuat bola sepak dari bahan bekas. Atau, Anda mungkin mengingat bagaimana anak-anak SMP membuat aplikasi – yang bukan sekadar tugas sekolah – agar memudahkan teman-teman di kelas inklusi belajar. Darimana semua ide tersebut berawal? Dari sikap empati, alias kemauan untuk peka terhadap kebutuhan orang di sekitar kita. Berempati berarti mau mendengar, menyimak apa yang dirasakan oleh orang lain.

Carl Rogers, seorang psikolog humanistik yang terkenal dengan terapi berpusat pada klien (person-centered therapy) menjelaskan empati sebagai “kemampuan yang membuat kita dapat memahami situasi dan sudut pandang orang lain, baik secara imajinatif maupun afektif”. Prinsip terapinya jelas: dengan berpusat pada klien, klienlah (yang memiliki kebutuhan psikologis) yang memandu psikolog untuk memberikan penanganan yang tepat.

Berpikir desain yang berlandaskan empati, memiliki cara kerja yang sama dengan model terapi yang ditawarkan Carl Rogers. IDEO, konsultan ternama berbasis berpikir desain, menyebutnya human-centered design, alias desain yang berorientasi pada penggunanya. Artinya, sebuah desain sebagai solusi kreatif yang akan ditawarkan haruslah berpijak pada pengalaman pengguna. Empati bekerja agar ‘sang desainer’, baik anak maupun orang dewasa, mampu mendengarkan motivasi dan kebutuhan lingkungan sekitar mereka. Ingat kisah Stephen Marsh yang menciptakan alat bantu pernapasan yang nyaman bagi penggunanya? Inovasinya lahir tak lain dari kemauan untuk memahami ketidaknyamanan yang dirasakan oleh kakaknya yang menderita gangguan tidur.

Anak yang belajar berpikir desain, menumbuhkan sekaligus menggunakan empatinya untuk mendengarkan dan memahami kebutuhan orang lain. Anak tidak harus langsung memahami hal-hal sedemikian besar yang diperbincangkan orang dewasa. Justru anaklah yang seringkali lebih peka dengan hal-hal kecil atau hal-hal yang dekat dengan dunia anak, semisal membuang sampah di tempatnya atau tentang bermain dengan aman. Tentu saja, menumbuhkannya sikap ini dalam diri anak membutuhkan peran Ayah Ibu untuk mengajak anak lebih sering menyimak apa yang sedang terjadi di sekeliling mereka.

Oleh karena itu, solusi kreatif yang ditawarkan anak dengan berpikir desain tidak memandang besar-kecilnya perubahan yang akan terjadi. Perubahan positif, sekecil apapun dapat membawa kebahagiaan – dan kebahagiaan-kebahagiaan kecil berujung pada kebahagiaan yang lebih besar. Hal ini tentu sangat bisa dilakukan oleh anak kita, berawal dengan creative confidence dan berlandaskan empati. Empati yang menjadi teropong anak dalam berpikir desain dan menggagas ide-ide kreatif, agar anak dan orang-orang di sekelilingnya hidup lebih baik.

Bagaimana Ayah Ibu memandu anak dalam menumbuhkan empati terhadap dunia di sekitar anak?

 

Foto oleh Quinn Dombrowski

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d