Gadget dalam Keluarga: Ini Kata Anak-anak

Diposting oleh:

Bakat Anak – Apa peran smartphone dalam keluarga Ayah Ibu?

Seiring murah dan maraknya gawai (gadget), kini hampir semua lapisan masyarakat bisa mengaksesnya. Rasanya, hidup tak lengkap tanpa kehadiran telepon pintar alias smartphone atau tablet. Sifat gawai menjadi integral dalam kehidupan seseorang – saya sendiri tidak memungkiri hal tersebut.Sampai saat muncul berbagai kampanye untuk membatasi penggunaannya bagi anak-anak.

Memang banyak sekali penelitian yang mengungkapkan dampak gawai alias gadget bagi anak-anak, terutama anak-anak yang masih perlu mengembangkan kemampuan kognitif dan motoriknya. Hal ini banyak digembar-gemborkan – dari pembatasan waktu penggunaan hingga pelarangan secara mutlak. Sampai-sampai ada artikel yang menceritakan bahwa anak-anak bos Google dan Apple justru main tanah, tidak main tablet. Tentu saja hal tersebut merupakan perbandingan yang sama sekali tidak setara, seperti telah diungkapkan Bukik Setiawan di sini.

Namun bukan hal itu yang menjadi perhatian saya kali ini. Bagaimanapun, menghamba ataupun menidak pada teknologi secara ekstrem bukanlah pilihan yang bijak. Pengelolaan penggunaan gadget berbentuk telepon genggam atau tablet dalam keluargalah yang menjadi titik beratnya, seperti telah tertulis pada pembuka artikel di atas: “apa peran smartphone dalam keluarga Ayah Ibu?”

bakat anak gadget

 

Kalau para orangtua kini tengah berusaha membatasi penggunaan perangkat digital tersebut oleh anak-anak, bagaimana dengan kita sebagai orangtua sendiri? Adapun sebuah survei baru saja dilakukan AVG Technologies untuk mengetahui pendapat anak-anak tentang kebiasaan orangtua mereka dalam menggunakan gadget. Survei daring tersebut ditujukan kepada baik orangtua maupun anak-anak berusia 8-13 tahun di delapan negara berbeda: Australia, Brazil, Kanada, Republik Czech, Perancis, Jerman, Selandia Baru, Inggris, dan Amerika Serikat. Sebanyak 6.117 responden telah mengisi survei tersebut bulan Juni kemarin. Nah, penasaran dengan apa kata anak-anak?

Ternyata, sejumlah 54% anak merasa bahwa orangtua mereka terlalu sering mengecek gawai. Yang lebih mengejutkan adalah sebanyak 32% anak menyatakan bahwa diri mereka merasa kurang penting saat orangtua terdistraksi dengan gawai di tangan mereka. Meskipun Indonesia tidak termasuk dalam delapan negara yang disurvei, ini cukup mencerminkan berbagai peristiwa yang cukup marak di Indonesia: saat orangtua sibuk dengan gawai dan ‘menitipkan’ anaknya kepada asisten rumah tangga. Saya sendiri kerap kali menyaksikannya saat sedang makan di restoran.

Nah, bagaimana pendapat orangtua tentang kebiasaan ‘berdua’ dengan gadget mereka? Sebanyak 52% orangtua setuju bahwa mereka terlalu sering mengecek gawai mereka. Sedangkan, sejumlah 28% orangtua merasa bahwa mereka tidak memberikan teladan yang baik dalam menggunakan smartphone atau tablet. Lalu sebanyak 25% orangtua ingin anak mereka mengurangi frekuensi penggunaan gadget.

Saya rasa Ayah Ibu bisa membuat kesimpulan sendiri berdasarkan data di atas. Kita sebagai orangtua tentu ingin anak tumbuh dan berkembang dengan optimal, baik dengan menggunakan gawai sebagai sumber belajar, maupun melakukan kegiatan lain yang sama serunya tanpa perlu menatap layar monitor. Oleh karena itu, terdapat tiga pengingat bagi kita semua sebagai orangtua: pertama, sudahkah orangtua menyediakan akses dan menawarkan kegiatan lain yang sama asyiknya dengan bermain game di tablet? Kedua, bagaimana orangtua memberi teladan bagi anak untuk memanfaatkan perangkat digital sebagai sumber belajar yang penting bersama anak? Dan ketiga, sudahkah orangtua juga membatasi penggunaan gadget di depan anak, dan menyediakan waktu bersama untuk berkegiatan bersama mereka?

Saat Ayah Ibu bisa menjadi teladan dan sahabat yang mengasyikkan dalam berkegiatan bersama anak, tidak ada yang akan merasa tergantikan oleh gadget. Orangtua tak perlu menyita tablet, karena anak paham kapan mereka bisa bermain dan kapan mereka bisa berinteraksi dengan saudara dan anggota keluarga yang lain. Sedangkan anak tak perlu merasa kurang penting di mata orangtua, karena pandangan ayah ibu mereka tak selalu jatuh di layar smartphone. Anak tidak perlu sampai tantrum untuk mencari perhatian orangtua mereka.

Bagaimana Ayah Ibu dan anak bekerja sama menggunakan gadget sebagai sumber belajar?

 

Foto oleh Japanexperterna.se

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss