Geradi, Sudah Saatnya Berkolaborasi

Diposting oleh:

Bakat Anak – “Ayah, kenapa timku seringkali kalah, ya?”

Geradi yang duduk di bangku kelas 6 SD, menghabiskan akhir pekannya di rumah bersama ayahnya. Ia sedang asyik memainkan sebuah game berjudul “Chrono Trigger” di sebelah ayahnya yang sedang membaca koran. Mendampingi anaknya bermain selagi menjelaskan apabila ada kata-kata yang Geradi kurang pahami, sang ayah menimpali.

“Eh, kenapa Di? Sulit, ya, permainannya?”

“Iya Yah, Geradi sudah dua kali kalah melawan si Magus, nih,” ungkapnya sembari menunjukkan layar handheld yang sedang digenggamnya. “Nih, coba Geradi load lagi ya, lalu tolong Ayah cek apa ada yang salah dengan susunan tim Geradi, ya.”

Geradi pun memindahtangankan handheld-nya ke ayahnya. Sang ayah memulai permainannya kembali dan mengecek susunan tim yang sudah disiapkan Geradi untuk melawan musuh yang dua kali belum anaknya bisa kalahkan.

“Wah, karakter berambut jabrik ini levelnya sedikit di atas teman-temannya yang lain, ya Di?” ujar sang ayah. Sang ayah kemudian memperlihatkan susunan tim yang dibuat Geradi dan menunjuk ikon salah satu karakter yang memiliki lima level lebih tinggi ketimbang rekan-rekannya.

“Kupikir dia karakter yang paling kuat, Yah, sehingga Geradi paling sering menggunakannya dalam pertempuran. Geradi ingin melihatnya menjadi karakter paling oke dalam permainan ini. Menurut Geradi, Crono juga memiliki berbagai kemampuan yang menonjol dibanding karakter yang lain. Geradi rasa dia spesial.”

kolaborasi

Sang ayah tersenyum mendengar cerita Geradi, dan kemudian menimpali, “Oh, jadi si Crono ini karakter yang paling kamu andalkan, ya Di? Coba bayangkan, seandainya seluruh anggota timmu adalah Crono, apakah kemungkinan mengalahkan Magus jadi lebih besar?”

 

“Hmm,” Geradi tampak mengernyitkan dahi seraya berpikir. “Rasanya sih tidak, Yah. Crono agak payah dalam menyembuhkan, jadi kalau semua karakter yang kugunakan adalah Crono, siapa yang bertugas menyembuhkan jika salah satu terluka?” tanya Geradi lalu menunjuk ikon karakter lainnya, “Karakter yang ini, meskipun serangannya sedikit lemah, Geradi rasa andal dalam penyembuhan. Hanya saja, Geradi tidak berpikir untuk sering melibatkannya dalam pertempuran.”

Mendengar jawaban anaknya, sang ayah tersenyum. “Nah, kalau begitu apakah karakter tersebut tidak spesial?”

“Geradi jadi berpikir ulang, nih. Mungkin Geradi tetap akan menyukai Crono, namun karakter lainnya tidak kalah penting, karena mereka memiliki peran dan kemampuan masing-masing. Kalau begitu, mereka semua didesain untuk bekerja sama, ya, Yah?”

“Tepat sekali, itulah sebabnya tidak ada suatu jenis kemampuan yang kurang penting. Oleh karena itu, melatih beragam karakter itu penting, karena pada saatnya nanti, tiap-tiap karakter dalam game ini akan berkontribusi dalam kemenanganmu,” jelas sang ayah.

Sang ayah kemudian mengembalikan handheld yang dipegangnya pada Geradi. Sontak ia sadar, bahwa percakapannya dengan sang anak barusan memperjelas keyakinannya bahwa setiap orang itu istimewa, termasuk anaknya sendiri. Anaknya sangat cekatan dalam menggunakan perkakas, namun ia tak pernah berpikir untuk mengenalkan anaknya kepada anak-anak lain dengan kemampuan yang berbeda. Kalau berbagai keistimewaan tak pernah berkesempatan berjumpa satu sama lain, bagaimana kolaborasi dapat tercipta?

Tentu, Geradi, juga anak-anak lainnya perlu menekuni dan memperdalam kegemaran yang mereka pilih. Kemahiran dalam suatu bidang bakat memang perlu diasah, namun sang ayah yakin bahwa beberapa masalah tidak dapat diselesaikan dengan satu macam keistimewaan saja. Setiap anak tak dapat berhenti belajar seorang diri saja, karena mereka pun dapat berkolaborasi.

“Sepertinya liburan yang akan datang perlu dimanfaatkan. Akan kucoba menghubungi teman-temanku, siapa tahu Geradi dan anak-anak mereka dapat membuat semacam proyek bersama,” pikir sang ayah. Ia pun mengambil ponselnya untuk mengecek beberapa orang yang dapat ia hubungi.

Nah, sudahkah Ayah Ibu menyadari bahwa apapun kecerdasan yang menonjol pada anak-anak kita, mereka semua istimewa? Sudah saatnya kita mempertemukan berbagai keistimewaan yang mereka miliki, agar mereka dapat belajar satu sama lain, dan siapa tahu, mereka dapat berkolaborasi menciptakan karya bersama suatu hari nanti?

Apa tips Ayah Ibu untuk mengasah kemampuan anak dalam berkolaborasi?

 

Foto oleh Chris Lott

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d