Hari Ayah dan Bagaimana Menjadi Pendidik yang Menumbuhkan

Diposting oleh:

Bakat Anak – Bagaimana rasanya menjadi seorang Ayah?

Meskipun tidak terlalu dikenal di Indonesia, namun Hari Ayah diperingati di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat yang memperingatinya pada 21 Juni lalu. Indonesia sendiri memperingati Hari Ayah pada 12 Nopember, yang biasa diperingati dengan cara anak memberikan sesuatu pada ayah mereka – kartu ucapan, hadiah, kejutan, dan masih banyak lagi. Anak mungkin menulis atau merekam pengalaman paling berkesan bersama ayahnya.

Hari Ayah memang diperingati anak sebagai pengingat pada sang ayah, namun bisa juga menjadi saat yang tepat bagi para ayah untuk becermin tentang perjalanan menjadi seorang ayah bagi anak-anak. Apakah anak punya pengalaman yang membanggakan bersama ayahnya? Apakah perilaku sang ayah memiliki kesan positif dalam benak anak?

Sudahkah kita sebagai para ayah mulai terlibat dalam pendidikan yang menumbuhkan?

bakat anak hari ayah

Hal ini sederhana, namun seringkali dilupakan seiring kehadiran sekolah yang cukup menggeser keluarga. Bertahun-tahun lalu Ki Hajar Dewantara telah mengingatkan kita, bahwa penanggung jawab terbesar pendidikan anak adalah keluarga, bukanlah sekolah. Keluarga justru ‘sekolah pertama’ anak, dan anak pertama kali belajar berbagai nilai dari keluarganya. Salah satunya, dengan melihat perilaku sang ayah.

Nah, bagaimana kita sebagai para ayah dapat menjadi teladan bagi anak?

Kita sebagai para ayah akan sangat berbahagia saat anak dapat mengingat kerja keras kita sebagai ayah dalam keluarga, termasuk dalam mendidik anak. Meskipun tak selalu diekspresikan anak dalam Hari Ayah, anak yang banyak belajar dari sang ayah punya banyak cerita mengenai ayahnya. Selain perilaku ayah yang dapat diamati oleh anak, tentu ada hal-hal yang tak dapat ditangkap langsung oleh anak. Kita sebagai para ayah perlu bercerita tentang diri kita – kegagalan, usaha, maupun keberhasilan kita – pada anak kita. Kita dapat bercerita tentang profesi kita, perjalanan karier kita, yang bisa menjadi bekal bagi anak merumuskan arah kariernya sendiri di masa depan.

Meskipun seringkali para ayah tidak memiliki banyak waktu bersama anak karena pekerjaan, jangan biarkan kesibukan membuat kita tidak mengenal anak, minat dan kegemaran mereka, serta bidang bakat yang mereka tekuni. Sediakan waktu untuk ikut terlibat dengan kegiatan anak, dan apresiasi usaha anak dalam meningkatkan kemampuan dalam bidang bakat yang ditekuninya. Saat anak melihat usahanya untuk belajar diapresiasi dan didukung sang ayah, anak akan semakin terdorong untuk menjadi semakin ahli.

Menjadi teladan sebagai seorang ayah berarti menjadi bermakna sebagai orangtua. Memang, menjadi orangtua adalah ‘profesi’ yang tak memiliki sekolah formalnya. Kita belajar menjadi para ayah dari pengalaman kita sebagai seorang anak, dan tak dapat dipungkiri, beberapa pengalaman tersebut bisa jadi merupakan pengalaman yang negatif, yang mungkin secara tidak sadar kita ulangi dalam mendidik anak. Itulah sebabnya, sebagai para ayah kita pun perlu belajar dari anak, mendengarkan pendapat mereka – termasuk perilaku ayah yang mereka sukai maupun tidak.

Memang tidak ada ayah yang sempurna, namun setiap ayah itu istimewa. Ayah yang istimewa mau belajar bersama anak yang istimewa, yang melahirkan gaya mendidik yang istimewa, yang khas di dalam keluarga. Nah, momen Hari Ayah yang masih hangat ini dapat menjadi kesempatan kita mendengarkan apa kata anak tentang ayah mereka. Mau mencoba?

Apa tiga kata dari anak yang menggambarkan diri Anda sebagai para ayah?

 

Foto oleh Axel Hartmann

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d