Ini Budi, dan Ini Cara agar Belajar lebih Mudah Dicerna

Diposting oleh:

Bakat Anak – Masih ingatkah Ayah Ibu dengan pelajaran membaca ‘Ini Budi’?

Iya, ‘Ini Budi’ sudah tak ada lagi dalam buku-buku pelajaran masa kini. Tentunya dengan berbagai alasan, seperti saat nama ‘Budi’ menjadi personifikasi suku tertentu di tanah air, sehingga diperlukan lebih banyak nama untuk keberagaman. Pun kini banyak orangtua, mungkin juga Ayah Ibu yang membaca tulisan ini, yang tak lagi mempertimbangkan Budi sebagai nama anak lelaki mereka. Zaman memang sudah berubah, demikian pula nama yang kita gunakan.

Namun pada suatu hari, Katanya menjumpai ‘Ini Budi’.

bakat anak belajar ini budi

 

Perjumpaan tersebut terjadi kira-kira seminggu setelah Katanya menyelesaikan buku teka-teki matematika yang dipinjamnya. Ia tak menyangka bisa jatuh hati pada matematika – bukan karena pelajaran di kelas atau karena gurunya – setelah membaca buku teka-teki tersebut. Belajar matematika jadi mengasyikkan saat ceritanya menantang rasa ingin tahu Katanya untuk menemukan jawabannya.

Namun beberapa cerita sempat menjadi kendala buat Katanya. Bukan karena pertanyaannya yang terlalu sulit, melainkan karena Katanya asing dengan latar cerita yang digunakan dalam teka-teki tersebut. Salah satunya mengisahkan tentang anak-anak pramuka yang membuat jembatan dengan tongkat pramuka mereka. Memang, di sekolah ada pelajaran pramuka, namun karena ingin tahu lebih lanjut, Katanya sempat berkonsultasi dengan sang ayah.

“Acara pramuka di tingkat paling kecil ya Persami. Perkemahan Sabtu Minggu. Itu aja sudah sangat seru, bisa menginap bersama teman-teman kelasmu di tenda,” jelas sang ayah singkat pada Katanya, saat Katanya menunjukkan salah satu teka-teki tentang pramuka.

“Dalam pramuka kita diajar untuk mandiri dan menggunakan berbagai peralatan yang ada dengan cekatan. Membuat kemah, mengamati tanda-tanda alam, membuat dan membaca sandi, dan sebagainya. Waktu zaman Ayah sih terasa keren, seperti petualang gitu,” tambahnya. “Kalau buat anak-anak zaman sekarang, apa ya kegiatan yang keren di mata mereka?”

“Entahlah, Yah, tapi buat Tanya, membaca itu keren,” jawab Katanya dengan bangga.

“Ih, anak Ayah keren deh,” tukas sang ayah sambil mencubit gemas pipi anaknya yang satu itu. “Ngomong-ngomong tentang membaca, Ayah ingat betul kalau dulu pelajaran membaca pertama yang Ayah dapat waktu SD itu ‘Ini Budi’. Ibu juga belajar ‘Ini Budi’ juga.”

Katanya mengernyitkan dahinya, lalu menukas, “Budi itu siapa, Yah? Tanya sih tahu ada pergerakan nasional yang bernama Budi Utomo, apa berasal dari nama itu? Lalu kenapa harus Budi? Pakai nama Tanya dong, biar keren, hehehe.”

Sang ayah bingung juga menjawab pertanyaan Katanya, karena ia sendiri hanya sekadar belajar membaca apa yang diajarkan gurunya di sekolah dulu. Ini Budi… Ini Ibu Budi… Ibu Budi pergi ke pasar… Sang ayah, dan generasi pelajar saat itu, duganya, belajar hal yang sama, dengan mengeja sebuah nama yang sama, yakni Budi. Bagaimana kalau pelajaran membaca tersebut diajarkan di masa kini, pikir sang ayah.

“Tanya,” sahut Ayah, “Lucu juga ya, kalau dipikir-pikir. Ayah dulu belajar mengeja ‘Ini Budi’, “Ini Ibu Budi’, ‘Ibu Budi pergi ke pasar’. Kalau pelajaran membaca tersebut digunakan di masa Tanya bersekolah, apakah Tanya bisa benar-benar paham, ya?”

“Maksud Ayah gimana? Apa karena Tanya jarang mendengar nama Budi sekarang?” balas Katanya.

“Salah satunya itu. Coba sekarang Tanya sebutkan nama teman-teman lelaki Tanya.”

“George. Christopher. Michael. Bonnie. Hehe, Tanya rasa nggak ada yang namanya Budi. Eh tunggu, guru olahraga Tanya namanya Budi!” Tanya akhirnya sadar kalau salah satu gurunya bernama Budi. Tentu saja, sang guru yang jauh lebih tua lahir lebih dulu – mungkin lahir di saat nama Budi adalah nama yang keren.

“Selain itu, kalau Tanya diminta mengeja ‘Ibu Budi pergi ke pasar’, apakah Tanya dan teman-teman yang lain langsung paham apa itu pasar? Sedangkan sekarang yang keren bagi kebanyakan orang itu kalau belanja di mall. Bahkan mungkin kalaupun harus pergi ke pasar, bukan para ibu yang melakukannya, melainkan para asisten rumah tangga.”

“Iya juga ya, Yah. Tanya sih sudah pernah ke pasar sama Ibu, tapi Tanya ragu kalau teman-teman Tanya yang lain pernah diajak ibu mereka mengunjungi pasar. Jadinya nggak nyambung dong, Yah. Kalau diganti ‘Ibu Michael pergi ke mall’, pasti semua anak langsung ngerti,” timpal Katanya.

Itulah sebab mengapa Katanya cukup kesulitan menjawab teka-teki bertema pramuka. Bukan karena soalnya sulit, namun saat ‘dunia’ yang ditawarkan dalam teka-teki tersebut masih asing bagi Katanya, butuh waktu lebih lama untuk mencerna apa yang dipelajarinya. Pembelajaran sendiri tak pernah terjadi tanpa konteks, dan hal terdekat yang cocok menjadi konteks belajar anak tak lain adalah keluarganya. Konteks yang akrab di telinga maupun pengetahuan anak mempercepat proses belajar maupun pengembangan bakatnya.

Apa konteks yang Ayah Ibu sering gunakan saat belajar bersama anak dan membantu mengembangkan bakatnya?

 

Foto diambil dari sini.

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d