#IStandWithAhmed, Hentikan Prasangka Buruk pada Usaha Anak

Diposting oleh:

Bakat Anak – Gerakan #IStandWithAhmed membuktikan pentingnya prasangka baik dan apresiasi atas usaha anak. Sudahkah kita juga berprasangka baik?

Baru-baru saja sebuah tagar bertajuk #IStandWithAhmed menjadi viral di Twitter. Usut demi usut, semua dilatarbelakangi oleh sebuah kejadian mencengangkan. Ahmed Mohamed, siswa 14 tahun, diamankan polisi di sekolahnya di Irving, Texas, Senin 14 September waktu setempat. Pasalnya, jam rakitan Ahmed yang dibawa ke sekolah dicurigai seorang guru sebagai sebuah bom.

Ahmed Mohamed, seorang remaja Muslim yang bersekolah di MacArthur High School, sangat menyukai robotika dan hal-hal berbau teknik. Dilansir dari Hufftington Post, suatu kali tercetus dalam pikirannya untuk berkarya, dan Ahmed pun akhirnya membuat sendiri sebuah jam digital yang dikemas dalam semacam kotak pensil. Ia menghubungkan papan sirkuit, pengisi daya, dan jam digital, kemudian membawa hasil belajarnya tersebut di sekolah untuk ditunjukkan kepada guru tekniknya.

bakat anak #istandwithahmed

Sayangnya, bukan respon baik yang diterima oleh Ahmed, namun sebuah prasangka buruk. Guru pertama yang melihat hasil karya Ahmed seketika memintanya untuk tidak menunjukkan jam tersebut pada guru lainnya.

Tak hanya itu saja, di hari yang sama, Ahmed diminta keluar dari kelas dan dibawa ke ruang kepala sekolah untuk diinterograsi. Ahmed ditekan dan ditanya apakah ia sedang belajar membuat bom. Prasangka yang demikianlah yang mengantarkannya ke sebuah pusat penahanan remaja di kota yang sama. Bahkan, remaja tersebut sempat diborgol sebelum dibawa ke kantor polisi. Sekolahnya juga memberi skors selama tiga hari.

Prasangka buruk atas identitas Ahmed, baik karena ras maupun agama, membuat usaha dan hasil belajarnya tidak mendapatkan apresiasi. Setelah dua hari menjalani masa penahanan, pada akhirnya ia dibebaskan karena tak terbukti memiliki niat yang mengancam orang lain maupun sedang belajar membuat bom. Tentu saja, karena Ahmed hanya ingin berkarya tentang topik yang digemarinya.

ahmed-mohamed

Mengutip The Verge, Ahmed berujar, “Jangan biarkan orang-orang mengubahmu, bahkan saat kamu mendapatkan konsekuensi dari hal tersebut.” Ahmed masih ingin berkarya, dan ia mendorong anak-anak muda seperti dia untuk terus membuat inovasi. Ditambah, prasangka buruk yang dikenakan pada Ahmed akhirnya mendapat lawan tanding yang kuat, yang dimulai dari dunia maya.

Berbagai apresiasi sebagai solidaritas mendukung Ahmed untuk terus berkarya datang dari berbagai kalangan. Dimulai dengan tagar #IStandWithAhmed di Twitter, banyak orang yang menyampaikan pendapatnya, bahwa kita perlu menghentikan prasangka buruk pada usaha anak. Sebaliknya, terlepas dari identitas maupun atribut yang menempel pada diri anak, kita harus memberikan apresiasi pada usaha mereka untuk belajar dan berkarya.

https://twitter.com/twitter/status/644261776146632704

Kisah #IStandWithAhmed memperlihatkan pada kita potensi bahaya dari prasangka buruk yang kita kenakan pada anak saat ia mencoba untuk berkarya, entah itu karena identitas, maupun anggapan bahwa anak bodoh dan tidak mampu. Syukurnya, Ahmed Mohamed menjadi teladan bahwa anak itu berdaya, memiliki kemampuan untuk melampaui berbagai prasangka buruk dalam berkarya dan menampilkan hasil belajarnya di bidang teknik dan robotika.

Ia juga menginspirasi kita bahwa apresiasi sekecil apapun pada usaha anak, dapat mendorong anak untuk berusaha lebih keras dalam belajar dan mengembangkan bakatnya. Nah, bagaimana dengan kita, para orangtua? Sudahkah kita berhenti berprasangka buruk pada usaha anak, dan mulai mengapresiasi tiap kemajuan anak dalam belajar?

Apa inspirasi yang Ayah Ibu dapatkan dari kisah #IStandWithAhmed?

 

Foto oleh The Dallas Morning News

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye