Gemar Mendesain Baju? Intip Kisah Grace Rose, Pengusaha sekaligus Desainer Baju Cilik

Diposting oleh:

Bakat Anak – Karena berkarier dan berkarya bukan semata soal uang.

Grace Rose, seorang desainer baju cilik, dengan segala tantangan dalam hidupnya, memilih menjadi enterpreneur dan membuka toko bajunya sendiri di usia 12 tahun. Pilihan kariernya bukan semata-mata praktis karena uang, melainkan dari berbagai pamerannya, Grace Rose bisa berbagi wawasan seputar cystic fibrosis, penyakit genetis yang juga dideritanya. Seperti apa kisahnya?

Kisah Grace Rose, sang desainer baju cilik

bakat anak enterpreneur desainer baju cilik grace rose cystic fibrosis

Dua minggu setelah kelahirannya, Grace Rose didiagnosis menderita cystic fibrosis, penyakit genetis yang memengaruhi kerja paru-paru, selain beberapa organ lainnya. Jika Anda sekilas melihatnya, Grace Rose akan tampak seperti anak-anak sehat lainnya, namun keseharian desainer baju cilik ini tak lepas dari pengobatan, satu-satunya cara menyambung hidup.

Namun kehidupan selalu menemukan jalannya. Di usia 2 tahun, Grace Rose mendesain baju untuk pertama kalinya. Mengutip wawancara oleh Kidpreneur, Grace Rose menuturkan bahwa ia membuat baju berbahan denim dengan ornamen 65 mawar yang menghiasinya. Sang ibu, yang juga seorang desainer, kemudian membawanya ke toko kain agar Grace Rose bisa memilih sendiri bahan-bahan yang diinginkannya.

Mengetahui informasi tentang penyakit yang dideritanya, Grace Rose tidak berpangku tangan. Desainer baju cilik ini kemudian menyelenggarakan Fashion Fundraiser for Cystic Fibrosis setiap tahun. Dana yang dikumpulkan akan disisihkan sebagai sumbangan untuk penelitian tentang penyakit genetis terkait, yang saat ini belum ada obatnya. Grace Rose pun menuliskan misi hidupnya: menemukan obat CF dengan gaya – alias dengan bakat yang ditekuninya, yakni mendesain baju.

Dari desainer menjadi enterpreneur

Awalnya, sang desainer baju cilik ini memasukkan elemen desain busana dalam pengumpulan dana untuk Cystic Fibrosis Foundation. Yang Grace Rose lakukan adalah menggandeng toko-toko baju lokal, di mana sang anak kemudian dapat memdesain logo bahkan kaos oblong yang akan dilelang, seperti dikutip dari Forbes.

Pada Fashion Fundraiser for Cystic Fibrosis yang ke-10, Grace Rose meminta agar ia bisa mendesain seluruh baju yang akan dilelang nantinya. Momen tersebut menjadi batu loncatan dalam arah kariernya, karena ia tersadar betapa apa yang dikerjakannya selama ini, yakni mendesain baju anak, dapat membantu Grace Rose menyuarakan misinya mengenai kesadaran tentang cystic fibrosis.

Dan saat banyak orang meminta agar mereka tetap bisa membeli baju anak yang didesain Grace Rose, sang desainer baju cilik ini akhirnya membuka situsnya sendiri, yakni Rosie G Style untuk mendesain berbagai koleksi bajunya untuk dijual sebagai bagian dari pendanaan penelitian cystic fibrosis. Kini Grace Rose berperan sebagai CEO sekaligus kepala desainer untuk Rosie G Style. Ia juga kerap menjadi model dari desain-desain baju anaknya.

Menariknya, sang ibu yang juga seorang desainer, akhirnya memutuskan untuk membantu Grace Rose sebagai pekerjaan utamanya. Kutipan berikut adalah ungkapan jujur sekaligus mendamaikan dari sang ibu mengenai anaknya:

Ini (Rosie G Style) memberikan kesempatan pada saya untuk menyatukan hal-hal yang menjadi semangat hidup saya – Grace Rose, desain, dan pendanaan untuk CF – tetapi sekaligus menciptakan karier bagi anak saya, karena kami menemukan bahwa saat anak-anak dengan CF beranjak dewasa, mereka akan mengalami kesulitan dalam bekerja karena alasan kesehatan.

Berkarya sekaligus mengemban misi

bakat anak enterpreneur desainer baju cilik grace rose cystic fibrosis 2

Grace Rose (tengah) bersama kawan-kawannya menjadi model desain baju anak yang dikembangkannya

Salah satu hal yang membuat seorang anak tetap tekun belajar dan mengembangkan bakatnya, adalah saat sang anak mulai memiliki tujuan yang bermakna. Tujuan tersebut dapat sebesar impian Grace Rose dalam memberikan sumbangsih terhadap penemuan obat cystic fibrosis, atau sekecil lingkup rumah, yakni membuat keluarga tersenyum. Pertanyaannya bukanlah besar atau kecilnya tujuan, namun apakah tujuannya sudah ada atau belum.

Belajar, mengembangkan bakat, dan berkarya, jadi bermakna apabila anak bahagia melakukannya, sekaligus dapat membahagiakan orang lain. Saat kebahagiaan tersebut dapat diraih, anak akan terus mengembangkan bakat dan berkarya karena ia tahu ia bisa menciptakan kebahagiaan. Bukan semata-mata karena uang.

Tanyakan pada anak:

(1) Apakah anak ingin terus belajar dan mengembangkan bakat yang sedang ditekuninya (sebutkan kegiatan spesifiknya, semisal menari)?

(2) Jika ya, apakah anak senang melakukan hal tersebut? Apa yang membuat anak senang?

(3) Jika tidak, apa yang membuat anak enggan terus belajar?

 

Apa inspirasi yang bisa Ayah Ibu dapatkan dari kisah Grace Rose?

 

Dokumentasi dari Rosie G Style dan Forbes

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye