Jika Anak Punya Waktu Kosong di Sekolah, Anda Berharap Anak Belajar Apa?

Diposting oleh:

Bakat Anak – Mampukah Ayah Ibu menjawab kuis sederhana dari Obama berikut ini?

Baru-baru saja sebuah video diluncurkan Gedung Putih dengan sang presiden Amerika Serikat, Barack Obama, sebagai bintangnya. Sang presiden mengajukan sebuah kuis sederhana dengan 4 pilihan jawaban kepada para orangtua. “Apabila anak punya waktu kosong di sekolah, Anda berharap anak belajar apa?”

bakat anak waktu kosong di sekolah anak belajar apa obama white house

Anak-anak yang terlalu sibuk belajar

Tak hanya di Indonesia; di Amerika Serikat pun, banyak orangtua mengeluhkan panjangnya jam sekolah yang harus ditempuh anak. Selain itu, kegiatan anak pun jadi kurang beragam dan lebih fokus pada kegiatan belajar yang sifatnya akademik. Hal ini disebabkan dua hal yang saling bersambut: (1) Common Core, kurikulum nasional yang lahir di era Obama, dan (2) banyaknya ujian dan tes terstandardisasi yang mendampinginya.

Saya sudah pernah membahas bagaimana Common Core membuat anak-anak yang duduk di bangku Taman Kanak-Kanak kehilangan waktu bermainnya. Mereka lebih banyak diminta untuk duduk di kelas, menghadap meja, dan belajar ini-itu agar saat masuk Sekolah Dasar, anak-anak sudah cukup mahir membaca, menulis, dan berhitung – dan tentunya, agar bisa mengerjakan ujian. Kalau di tataran Taman Kanak-Kanak saja anak-anak hanya punya sedikit ‘waktu bersenang-senang’, bagaimana mereka yang berada di jenjang selanjutnya?

Anak belajar untuk apa?

Ironisnya, Obama sendiri menyekolahkan anaknya di sekolah yang tidak menjadikan ujian sebagai fokus belajar anak. Dengan demikian, lebih sedikit tes terstandardisasi yang harus anak tempuh – kebalikan dari efek kebijakan pendidikan yang dilahirkan pemerintahan era Obama melalui Common Core. Kebijakan tersebut menyebabkan banyaknya ujian yang harus ditempuh anak, serta menilai kinerja guru berdasarkan nilai ujian anak, seperti dilansir dari Washington Post.

Bayangkan, jika kinerja para guru dinilai dari hasil ujian anak, mau tidak mau guru akan mengajar demi kepentingan ujian. Anak-anak kemudian diminta belajar demi lulus ujian juga!

Meskipun bisa dibilang terlambat, Obama menyadari bahwa anak-anak seharusnya tak lagi perlu menempuh terlalu banyak ujian. Waktu di sekolah menjadi lebih berharga buat belajar lebih banyak hal. Anak tak perlu merasa terpaksa belajar, karena harus lulus ujian nantinya, dan guru tak perlu merasa terpaksa mengajar materi tertentu, karena materi tersebut akan diujikan dalam tes. Dengan demikian, belajar tak lagi didefinisikan sebagai kegiatan anak untuk persiapan ujian semata.

Apa kata para orangtua dan guru?

Video yang dibawakan Obama berikut mengajak para orangtua untuk memilih jawaban dari kuis sederhana: “Jika anak punya waktu kosong di sekolah, Anda berharap anak belajar apa?” Yuk tonton dan jawab pertanyaannya!

Terdapat empat pilihan jawaban yang disediakan dalam kuis tersebut, yakni (A) belajar memainkan alat musik, (B) belajar bahasa baru yang belum dikuasai anak, (C) Belajar bahasa HTML, dan (D) ikut lebih banyak ujian. Tentu saja, kuis dari Obama ini mengundang banyak respon dari masyarakat, terutama para orangtua dan guru. Apa saja kira-kira jawaban mereka?

Seperti jawaban monolog Obama, sebagian besar – jika tidak semua – orangtua dan guru mencoret pilihan D sebagai hal yang bisa anak lakukan saat punya waktu kosong di sekolah. Kurangi ujian buat anakKatty Maccio Jones, misalnya, menulis komentar sebagai berikut:

Bahasa, koding, dan belajar memainkan alat musik adalah hal-hal yang seharusnya anak-anak kita pelajari. Satu tes terstandardisasi dalam setahun sudah lebih dari cukup. Sampai saat ini pun, terlalu banyak waktu dibuang di kelas untuk persiapan ujian-ujian tersebut.

Sebaliknya, beberapa orangtua menginginkan anak juga bisa belajar tentang kecakapan hidup; hal-hal praktis yang diperlukan anak saat berinteraksi dengan orang lain dan dunia di sekitarnya. Saya kutipkan sebagian komentar dari Sabina Ademovic:

Anak-anak perlu belajar bagaimana menghitung pajak, menulis cek, dan membayar tagihan.

Sebagian orangtua dan guru mengomentari Common Core dan tes terstandardisasi yang mengiringinya. Beberapa meminta agar para guru lebih leluasa mengajar para siswa, bukan karena ujian, melainkan bisa mengajar sesuai keunikan masing-masing anak. Natalie Gray, seorang guru, mengungkapkan uneg-unegnya tentang bagaimana ujian bisa menjadi dilema seorang guru dalam mengajar di kelas. Mungkin ini juga dialami para guru di Indonesia.

Jika kami tidak mengajar demi ujian, anak-anak bisa berakhir dengan intervensi. Jika kami mengajar demi ujian, kami berkompromi dengan diri sendiri dengan tidak menunjukkan pada anak-anak keseruan belajar.

Pendapat paling unik dilemparkan beberapa orangtua. Jika Obama bertanya “Anda berharap anak melakukan apa?”, sejumlah orangtua ini justru tidak punya keinginan tertentu kepada anak mereka. Sebaliknya, mereka menginginkan belajar dikembalikan kepada anak, sehingga anak dapat belajar apapun yang mereka minati, seperti pendapat Tom Ingram yang satu ini:

Bagaimana dengan pilihan (E) biarkan anak-anak melakukan apa yang mereka inginkan, seperti bermain di luar, ketimbang memaksa anak berpikir bahwa segala hal dalam hidup mereka adalah tentang sekolah dan bekerja?

Sekarang, berdasarkan video di atas, saya mengajak Ayah Ibu untuk menjawab pertanyaan yang sama: “Jika anak punya waktu kosong di sekolah, Anda berharap anak belajar apa?”

 

Foto oleh Irish Typepad

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss