Karier Bukan Tanda Titik: Inspirasi Martunis

Diposting oleh:

Bakat Anak – Pernahkah Ayah Ibu melihat anak menyerah karena alami suatu kegagalan?

Kamis, 2 Juli 2015 lalu, kita semua dihebohkan dengan berita seorang anak Indonesia yang resmi bergabung dengan akademi sepakbola Sporting Lisbon. Dia adalah Martunis, yang 11 tahun silam menjadi salah satu penyintas tsunami Aceh 2004. Terombang-ambing di lautan selama 21 hari tanpa asupan makanan dan minuman, tim medis akhirnya berhasil menemukan Martunis kecil yang saat itu sedang mengenakan kaos Portugal.

Mungkin Ayah Ibu juga tahu bahwa kemudian Martunis diangkat menjadi anak oleh Cristiano Ronaldo, yang dulu juga mengawali karier sepakbolanya di Sporting Lisbon. Namun jika Ayah Ibu berhenti membaca sampai di sini, kita mungkin bisa saja menduga bahwa bergabungnya Martunis dengan akademi Sporting Lisbon hanya kebetulan semata.

Padahal, perjalanan Martunis mengembangkan bakat di bidang sepakbola justru mengalami banyak tantangan. Cukup banyak tantangan, yang mungkin membuat sebagian orang menyerah dengan apa yang selama ini ditekuninya.

bakat anak martunis

 

Sedari kecil Martunis memang menyukai sepak bola. Saat ditemukan selamat pasca tsunami Aceh 2004, Martunis yang saat itu berusia 7 tahun bercerita, “Saya tidak takut sama sekali karena saya ingin tetap hidup untuk bertemu keluarga dan menjadi pemain sepakbola.” Meskipun, tak dapat dipungkiri bahwa saat itu Martunis secara wajar berada dalam tekanan, bahkan sempat tidak mengenali sang ayah ketika dipertemukan.

Cristiano Ronaldo yang setahun pasca tsunami Aceh menyambangi dan menjadikannya anak angkat tentu saja semakin menginspirasi Martunis kecil untuk menjadi pemain sepakbola. Sepak bola memang salah satu jalur karier yang cukup diminati banyak anak laki-laki di Indonesia, terlepas dari berbagai masalah yang menimpa organisasi persepakbolaan nasional kita, yakni Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia. Banyak sekali Sekolah Sepakbola (biasa disingkat SSB) yang berjamuran di berbagai kota, bahkan termasuk kota kecil saya, Sidoarjo.

Martunis kemudian menentukan fokus belajarnya di lapangan sepakbola dengan mengambil posisi sayap dan penyerang, posisi yang mirip dengan Cristiano Ronaldo. Ia sempat bergabung dengan beberapa SSB di Aceh, sejak menginjak bangku SMP, seperti yang dituturkan oleh pembimbing Martunis, Munawardi Ismail kepada Liputan6.com.

Sayangnya, impian Martunis belajar dan berkarier di bidang sepakbola terasa seperti mendaki gunung yang terjal, karena ia mengalami beberapa penolakan. Mengawali dari kampung halamannya, ia mencoba bergabung dengan klub Persiraja Banda Aceh, namun ditolak karena jam terbangnya dianggap kurang.

Ia juga sempat diundang berlatih dengan Timnas Indonesia U-19 yang sempat bertandang ke Aceh untuk menjalani pertandingan persahabatan dengan klub setempat. Namun ia gagal menembus kelompok yang diasuh oleh Indra Sjafri tersebut. Indra Sjafri pun memberikan penilaiannya pada anak ini, “Waktu U-19 di Aceh, saya ajak Martunis latihan bersama di Stadion Harapan Bangsa. Dari yang saya lihat, Martunis memang tidak spesial, tapi ia punya potensi.”

Benarkah hanya anak-anak yang spesial dan mereka yang berbakatlah yang memiliki kesempatan berkarier di bidang yang mereka pilih? Tidak, bakat saja tidak cukup. Pengembangan bakat anak tetap memerlukan latihan, ketekunan, kemandirian, dan komitmen untuk belajar berkelanjutan. Seorang anak bisa saja jago menggambar, namun jika tak terbiasa untuk bekerja secara profesional, ia akan kesulitan untuk menyelesaikan proyek-proyek gambarnya sebelum tenggat waktu.

Dan bagi Martunis, karier bukanlah tanda titik. Tertolak di klub lokal maupun Timnas Indonesia U-19 tak membuatnya berpikir, ternyata sepakbola bukanlah jalan saya dan menggantung sepatunya. Ia memilih untuk belajar berkelanjutan, terlihat dari keputusannya untuk bergabung dengan Social Sport School Real Madrid Foundation Aceh. Dan kini ia resmi bergabung dengan akademi sepakbola Sporting Lisbon, mengenakan nomor punggung yang dulu dimiliki oleh Cristiano Ronaldo.

Bagaimana Ayah Ibu membantu anak menyikapi kegagalan dalam menekuni arah kariernya?

 

Foto oleh ESPN FC

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d