Saat Minecraft Memikat Keingintahuan Anak

Diposting oleh:

Bakat Anak – Di suatu kota…

“Kamu nggak main Minecraft?” tanya seorang teman.

“Enggak,” jawab Yudhis, yang kebetulan saat itu didatangi oleh temannya.

“Coba deh lihat videonya, terus mainin gamenya. Seru lho.”

Perkenalan Yudhistira, yang akrab disapa Yudhis, dengan Minecraft sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, namun dia baru benar-benar tertarik bermain Minecraft setelah melihat sendiri beberapa video permainan yang dikembangkan oleh Mojang tersebut.

Di kota lain…

“Papski menemukan game menarik, Mai. Jadi Papski membaca berita tentang game bernama Minecraft yang digunakan sebagai media belajar anak-anak di Denmark. Pemerintah membuat duplikat negara Denmark dalam game tersebut, dan anak-anak bisa mengisinya dengan menambahkan suatu lingkungan atau bangunan, seperti sekolah, rumah, hutan, dan masih banyak lagi.”

Damai termangu.

Ia tak begitu antusias mendengar cerita ayahnya. Damai baru tertarik dengan Minecraft saat sang ayah menunjukkan dunia Minecraft secara langsung melalui beberapa video. Sikapnya berubah; ia takjub melihat berbagai bangunan yang dibuat dalam game tersebut. Tahukah Ayah Ibu? Video yang ditonton Damai bersama ayahnya, merupakan video tutorial bermain Minecraft yang dibuat oleh Yudhis.

Dua pengalaman berbeda, namun pada akhirnya menciptakan keasyikan yang sama. Bermain Minecraft.

bakat anak minecraft

Ayah Ibu tentu mengenal permainan bongkar pasang yang dilakukan dengan menyusun berbagai balok menjadi suatu bentuk atau bangunan tertentu. Lego pun tentu sering kita dengar namanya di telinga. Namun enam tahun lalu, seorang pemrogram asal Swedia bernama Markus Persson menciptakan sebuah game dengan tema sama, namun diangkat dalam bentuk digitalnya: Minecraft. Pengembangan kemudian dilanjutkan bersama Mojang, dan kini baik anak-anak maupun orang dewasa memainkannya, baik di komputer, konsol, maupun ponsel.

Menariknya, perjumpaan dengan Minecraft yang menarik bagi Damai bukanlah saat ayahnya menceritakan bahwa Minecraft dapat digunakan sebagai media belajar, namun saat ia bersentuhan dengan dunia Minecraft melalui menonton video. Saat cerita ayahnya lebih bersifat rasional dan memuat kepentingan orang dewasa, Damai tidak begitu tertarik, namun saat Damai diperlihatkan video bermain Minecraft, ia baru terperangah dan sifatnya berubah. Apa yang menarik bagi orang dewasa belum tentu menarik bagi anak.

Tidak semua informasi dapat memikat keingintahuan anak; bahkan secara umum, informasi yang menyentuh emosi lebih diperhatikan oleh otak, ungkap John Medina, seorang ahli biologi yang berkecimpung dalam bidang perkembangan otak dan belajar. Memikat keingintahuan anak merupakan langkah pertama anak dapat belajar apapun seasyik bermain, seperti yang telah dijelaskan Bukik Setiawan dalam buku Anak Bukan Kertas Kosong.

Apa hasilnya saat suatu hal berhasil memikat keingintahuan anak? Izinkan saya meneruskan kisah Damai dan Yudhis bersama Minecraft.

Damai mencoba sendiri game Minecraft karena ayahnya saat itu ternyata kebingungan memainkannya. Ia takjub  saat berhasil menemukan hal baru, dan selalu menceritakan ketakjubannya pada sang ayah. Damai belajar sendiri berbagai tips dan trik bermain Minecraft melalui YouTube, membuatkan satu rumah khusus untuk sang ayah di akun Minecraftnya, sampai membantu saudaranya membuat suatu bangunan saat bermain bersama-sama.

Bagaimana dengan Yudhis? Anak yang belajar melalui homeschooling ini akhirnya sangat menyukai Minecraft. Ia bercerita bahwa keseruan utama bermain Minecraft terletak pada bahwa ia dapat membangun sebanyak apapun yang ia inginkan dalam game tersebut. Awalnya mungkin hanya dapat membuat kotak kecil, namun nantinya ia dapat membuat istana yang besar.

Membuat bangunan bersama teman di dalam Minecraft juga menjadi hal terseru yang diungkapkan Yudhis. Sayangnya, saat ia mengikuti sebuah kelas di Minecraft Homeschool – grup yang membuka berbagai kelas Minecraft daring (online) – teman-temannya yang suka Minecraft tak mau ikut, terutama karena kendala bahasa. Kelas Minecraft yang diikuti Yudhis saat itu berbahasa Inggris.

Apa yang kemudian terjadi? Sang ibu menantang Yudhis untuk membuka kelas Minecraft berbahasa Indonesia untuk diikuti teman-temannya, dan Yudhis pun menyanggupinya. Lebih dari sekadar bermain Minecraft, Yudhis belajar banyak hal, dari menyiapkan kurikulum, menyiapkan server privat sebagai kelas daringnya, sampai mengatur teman-teman yang belajar di sana. Dua kelas sukses diadakan Yudhis, dan kelas ketiganya akan dimulai Juni 2015 ini.

Semuanya dimulai dengan memikat keingintahuan.

Apa stimulasi yang diberikan Ayah Ibu agar anak berminat mempelajari sesuatu?

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d