Kemerdekaan Belajar Dahulu, Gemar Belajar Kemudian

Diposting oleh:

Kemerdekaan belajar adalah prasyarat agar anak gemar belajar. Sudahkah anak-anak mendapatkan kemerdekaan belajar?

Kondisi pendidikan kita saat ini dapat digambarkan sebagai kelas tanpa guru. Anak-anak belajar ketika ada guru. Tapi langsung riuh ramai ketika guru meninggalkan kelas. Bukan salah anak-anak yang memang tidak dibiasakan merencanakan sendiri proses belajarnya.

Belajar yang semula aktivitas alami anak dirampas menjadi agenda orang dewasa yang dipaksakan pada anak. Pendidik mendikte dimana dan kapan waktu belajar, tanpa peduli apapun yang sedang dialami anak. Pendidik mendikte tujuan dan materi yang harus dipelajari anak, meski tidak relevan dalam kehidupan anak.

Bila ada anak yang membandel, orang dewasa berusaha mengendalikannya dengan ganjaran dan hukuman. Diiming-iming ganjaran bila anak kembali belajar. Diberi ancaman hukuman mulai hukuman fisik hingga tidak lulus ujian atau tidak naik kelas. Tidak heran bila ujian masih dijadikan monster untuk menakut-nakuti anak agar belajar.

Bukik Setiawan sedang berbincang dengan presentan Suara Anak kemerdekaan belajar gemar belajar

Apakah anak harus dipaksa belajar?

Anak kecil adalah ahli yang jenius. Mereka mengajukan banyak pertanyaan dan berani mencoba. Tanpa takut keliru, semuanya dicoba. Setelah mencoba, anak mengambil kesimpulan dari percobaannya.

Pandangan normatif tersebut dibuktikan secara empiris oleh Sugata Mitra, inovator dan profesor pendidikan dari India. Ia melakukan sejumlah eksperiman, yang salah satunya dilakukan pada desa terpencil yang anak-anaknya tidak bisa berbahasa Inggris.

Anak-anak desa tersebut menjadi kelompok eksperimen, kelompok kontrolnya adalah sebuah kelas di sekolah kaya di kota besar. Kedua kelompok tersebut mendapat intervensi yang berbeda untuk mencapai sasaran yang sama, penguasaan materi bioteknologi. Anak-anak di kota besar mendapat intervensi berupa pengajaran konvensional dengan fasilitas lengkap dan dipandu guru profesional.

Sementara anak-anak di desa mendapat intervensi “Lubang dalam Tembok”, sebuah komputer di masukkan dalam tembok yang dapat diakses anak-anak. Komputer yang digunakan bersama itu berisi materi bioteknologi berbahasa Inggris. Sugata Mitra menyiapkan seorang gadis desa untuk memberi semangat pada anak-anak. Setelah waktu eksperimen selesai, kedua kelompok tersebut diuji.

Kesimpulannya mengesankan. Tidak ada perbedaan signifikan rata-rata nilai kedua kelompok anak tersebut. Padahal kelompok anak desa menghadapi tantangan belajar berganda. Mereka tidak bisa bahasa Inggris dan tidak dipandu guru profesional.

Eksperimen Lubang dalam Tembok membuktikan bahwa anak-anak adalah jagonya belajar. Sugata Mitra menegaskan bahwa agenda pendidikan kita bukan membuat anak belajar, tapi membolehkan anak belajar. Ketika dibolehkan, anak akan belajar dengan kecepatan yang menakjubkan.

Ki Hajar Dewantara & Kemerdekaan Belajar 

Eksperimen Sugata Mitra relevan dengan ajaran Ki Hajar Dewantara. Beliau menekankan berulang kali tentang kemerdekaan belajar. “…kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu “dipelopori”, atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, akan tetap biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahaun dengan menggunakan pikirannya sendiri…” Ki Hadjar Dewantara (buku Peringatan Taman-Siswa 30 Tahun, 1922-1952). Anak pada dasarnya mampu berpikir untuk “menemukan” suatu pengetahuan.

Apa arti kemerdekaan dalam pernyataan beliau tersebut?  Dalam sebuah tulisan di buku Pendidikan, beliau menyatakan “Dalam pendidikan harus senantiasa diingat bahwa kemerdekaan itu bersifat tiga macam: berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain, dan dapat mengatur diri sendiri”.

Berdiri sendiri berarti kemerdekaan belajar mengakui anak sebagai pemilik belajar. Anak mempunyai kewenangan dan inisiatif untuk belajar. Anak belajar tidak harus berhimpun dalam suatu kesatuan seperti kelas atau rombongan belajar.

Tidak tergantung pada orang lain berarti anak belajar tanpa tergantung pada hadir atau tidak hadirnya orang dewasa. Dengan atau tanpa kehadiran guru di kelas atau dengan atau tanpa kehadiran orang tua di rumah, anak-anak tetap belajar.

Dapat mengatur diri sendiri berarti anak mempunyai kemampuan untuk mengelola diri dan kebutuhan belajarnya. Ia dapat memilih cara dan media belajar yang sesuai dengan diri dan kondisi di sekitarnya. Ia dapat mengatur jadwal aktivitasnya untuk mencapai tujuan belajar.

Kemerdekaan belajar adalah perkara subtansial, menjadi prasyarat terpenuhinya capaian-capaian belajar yang lain. Tanpa kemerdekaan belajar, anak tidak bisa belajar gemar belajar. Tanpa kemerdekaan belajar, pendidikan budi pekerti tidak akan mencapai tujuannya karena semua perilaku bukan dilandasi kesadaran. Kemerdekaan belajar dahulu, gemar belajar kemudian.

Mewujudkan Kemerdekaan Belajar buat Anak 

Pelaksanaan kemerdekaan belajar tidak membutuhkan infrastruktur atau anggaran yang besar. Ada banya cara yang bisa dilakukan untuk membangun kemerdekaan belajar buat anak.

Pada skala nasional, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan bisa mengadakan survey aspirasi dan keterlibatan (engagement) anak dalam proses belajar di sekolah dan rumah. Setidaknya, dengarkan apa yang ingin dipelajari anak atau apa kondisi yang terbukti mendukung anak belajar lebih efektif. Hasil survey ini dijadikan umpan balik dan rekomendasi kepada para pelaku dalam ekosistem pendidikan. Dengarkan suara anak-anak.

Pada tingkat nasional dan daerah, tinjau kembali semua kebijakan yang secara langsung atau tidak langsung membatasi kemerdekaan belajar anak. Pada lingkup daerah, pemerintah daerah melepaskan indikator capaian belajar siswa sebagai indikator untuk menilai kinerja sekolah dan dinas pendidikan daerah. Tumbuhkan kemandirian dan tanggung jawab sekolah dan guru sebagai satuan pendidikan yang otonom.

Pada lingkup komunitas, adakan dan perbanyak kegiatan non kompetisi untuk anak seperti #SuaraAnak, forum bagi anak untuk menampilkan hasil karyanya. Dengan kegiatan non kompetisi, anak lebih merdeka mengekspresikan potensi dirinya tanpa harus takut kalah atau dipermalukan.

Pada lingkup kelas dan rumah, guru dan orang tua dapat lebih banyak mengajukan pertanyaan pada anak untuk mendapatkan masukan dalam mengambil keputusan terkait proses belajar anak. Beri stimulasi bacaan bermutu, beri kesempatan eksplorasi lingkungan sekitar, beri kesempatan menganalisis bacaan dan lingkungannya tersebut.

Indonesia telah merdeka, tapi anak-anak Indonesia masih terpaksa belajar, belum merdeka belajar. Beri kemerdekaan sekarang juga, jangan sampai anak-anak kita berteriak “Merdeka atau Mati!”


Kutipan-kutipan Ki Hajar Dewantara dapat dibaca di buku yang saya kurasi: Belajar dari Ki Hajar. Sebuah buku yang berisi kutipan pilihan yang disajikan secara indah. Tertarik? Tulis di komentar ya

 

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

3 thoughts on “Kemerdekaan Belajar Dahulu, Gemar Belajar Kemudian”

  1. Yenni Saputri says:

    Tertarik sekali Mas Bukik. Apa tidak akan diterbitkan sebagai buku ketiga mas Bukik?

    Salam kenal

    yenni

    1. Bukik says:

      Salam kenal juga!
      Sudah terbit kok. Tapi bukan buku ketiga karena saya hanya kurasi, bukan menulis. Nantikan informasi selanjutnya 🙂

  2. hesty says:

    kalo sudah terbit, di toko teman takita kok belum ada, bisa didapatkan dimana ya…

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye