Kemudian, Tempat Menulis, Membaca, dan Mengapresiasi

Diposting oleh:

Bakat Anak – Bagaimana sikap apresiatif ditumbuhkan dalam keluarga Ayah Ibu?

Kita mungkin mengangguk jika ditanya apakah sikap apresiatif itu penting dalam keluarga. Namun tidak sedikit dari para orangtua yang sudah menjadikannya kebiasaan di rumah. Alasannya beragam, dan seperti membiasakan tiga kata ajaib ‘Tolong, Maaf, dan Terima Kasih’, kita mungkin perlu tahu apa kekuatan apresiasi dan bagaimana ia melejitkan kebahagiaan, termasuk di rumah Anda.

Mungkin sama seperti beberapa dari Anda, saya tidak belajar membiasakan diri untuk memberi apresiasi di rumah. Saya justru belajar tentang pentingnya mengapresiasi dari sebuah situs belajar menulis yang dikenal dengan nama Kemudian. Kala itu saya sedang duduk di bangku SMA dan memutuskan untuk mulai belajar menulis bersama dengan teman-teman di Kemudian.

bakat anak kemudian

 

Sebelum Kemudian, sebenarnya ada beberapa wahana daring (online) untuk belajar menulis, seperti Forum Lingkar Pena yang cukup terkenal. Namun sistem keanggotaan di Kemudian bisa dibilang cukup unik karena untuk mengunggah tulisan, situs belajar menulis yang saya rasa cocok untuk anak usia remaja ini meminta kita untuk mengapresiasi – dan memberi umpan balik konstruktif – tulisan orang lain. Dengan memberi komentar pada sebuah tulisan, anak bisa mendapatkan poin yang dapat dikumpulkan untuk mengunggah satu tulisan, baik cerpen maupun puisi.

Memang, saya maupun pengguna situs Kemudian lain – yang disebut Kemudianers – bisa saja memberikan komentar seadanya, semata-mata untuk mendapatkan poin. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Pengalaman saya membuktikan bahwa para pengguna Kemudian saling memberikan apresiasi spesifik. Misalnya, ada teman-teman yang memiliki kekuatan dalam pengembangan karakter. Beberapa bermain dengan deskripsi, terutama yang bergulat dengan tema-tema fantasi seperti RDVillam.

Mengapa komentar sebagai bentuk apresiasi diberikan secara spesifik? Saat saya misalnya, yang ternyata cukup andal mengolah cerita bergenre drama tidak peka dengan kekuatan saya, saya akan terus menulis cerita fantasi – yang sedang ngetren waktu itu. Padahal saya tidak jago bermain dengan deskripsi. Justru dari komentar sesama Kemudianers saya jadi tahu bahwa saya lebih cocok mengembangkan tulisan bergenre drama. Sejak saat itu saya mulai berganti genre tulisan dan fokus menulis cerita drama.

Sistem yang demikian di Kemudian membuat para penggunanya berkembang pesat, dan tetap percaya diri untuk mengunggah tulisan-tulisan baru. Apalagi para seniornya tidak segan untuk memberi berbagai masukan kepada para pengguna baru, termasuk saya waktu itu. Beberapa senior Kemudianers saat ini bahkan sudah menjadi penulis yang cukup dikenal, seperti Khrisna Pabichara dan Bamby Cahyadi.

Tentang apresiasi spesifik ini, psikolog dan pakar motivasi anak Carol Dweck mengemukakan hal yang relatif sama. Berdasarkan hasil penelitian yang dikupas dalam The Perils and Promises of Praise, Carol Dweck menyatakan ada dua kesalahan mendasar yang biasa dilakukan orangtua dan guru saat memuji anak. Pertama, yang dipuji bukan usaha, tetapi kepintaran anak, dan kedua, keyakinan bahwa prestasi akademik maupun keberhasilan anak yang lain lebih banyak ditentukan oleh kepintaran anak.

Mengapa yang demikian disebut Carol Dweck tidak tepat? Saat kita memuji anak karena dia pintar, dia akan cenderung menganggap bahwa apa yang dikerjakannya di masa depan harus berhasil – karena dia pintar. Dia beresiko mengalami frustrasi saat mengalami kegagalan, padahal sudah dibilang pintar oleh orangtua atau gurunya. Agar lebih mudah mempertahankan ‘gelarnya’, anak kemudian cenderung memilih tantangan belajar yang mudah, sehingga semua akan terlihat baik-baik saja.

carol-dweck-apresiasi-kemudian

Anak yang dipuji karena ia telah berusaha – entah dia berhasil maupun gagal – lebih percaya diri untuk mengerjakan tantangan belajar yang lebih sulit. Pertama, anak termotivasi untuk terus belajar, karena tahu bahwa dengan berusaha ia semakin berkembang. Kedua, anak mengembangkan sikap resilien, yang berarti lebih mudah menerima kegagalan. Saat anak mengalami kegagalan, orang dewasa di sekitarnya tidak menilainya sebagai anak bodoh – dan sebaliknya, dinilai pintar kalau berhasil. Sebaliknya, orang dewasa pertama-tama akan mengapresiasi usaha terbaik yang telah dilakukan anak, lalu memberi masukan tentang hal apa yang bisa lebih dikembangkan anak pada kesempatan berikutnya.

Nah, kalau anak remaja Ayah Ibu suka menulis, Kemudian bisa menjadi kesempatan dan inspirasi dalam pengembangan bakat anak – termasuk, salah satunya, dengan mendapatkan apresiasi dari sesama penulis!

Sudahkah Ayah Ibu mengapresiasi usaha terbaik anak hari ini?

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

2 thoughts on “Kemudian, Tempat Menulis, Membaca, dan Mengapresiasi”

  1. Keren Kak, setuju banget. Apresiasi itu penting dalam keluarga–bahkan bagi kita semua bersama. Itulah yang menjadi landasan kami dalam membuat blog Apresiasi. Sejatinya, apresiasi yang baik bisa melahirkan karya yang baik pula. Seperti di kemudian.com, semakin sering kita mengapresiasi orang–dan mendapatkan apresiasi balik, maka kedua belah pihak akan saling mendapat keuntungan berupa meningkatnya kemampuan menulis yang pesat.
    Mari ramaikan budaya apresiasi di Indonesia. Dimulai dari keluarga sendiri 😀

    Salam Apresiasi 🙂

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye