Rada, Kesulitan Membuatmu Lebih Mahir

Diposting oleh:

Bakat Anak – “Bu, bagian lagu yang ini sulit aku mainkan,”

Jari-jari Rada sibuk membuka dan menutup lubang-lubang suara yang terdapat pada rekorder kesayangannya. Hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, ia mengambil waktu untuk berlatih di sela-sela jam belajarnya, karena dua minggu lagi akan ada pentas musik di sekolah. Bukan pentas musik yang megah, namun Rada sangat bangga bisa berpartisipasi sebagai salah satu penampil di grup musik kelas 5 SD.

Sang ibu yang sedang menyulam di ruangan tempat Rada bernyanyi menghentikan sebentar aktivitasnya. Ia kurang paham mengenai bermain alat musik, namun sangat mendukung aktivitas positif yang sedang ditekuni oleh Rada. Rada memang mengambil ekstra kurikuler musik di sekolah sejak kelas 4 SD dan tergabung dalam sebuah grup musik.

“Kenapa, sayang? Ada yang sulit? Ibu dengar permainanmu bagus, kok.”

“Iya, hanya saja kadang Rada terhenti di tengah-tengah lagu, terutama di bagian yang ini,” jawab Rada sambil menunjukkan salah satu baris dalam partitur lagu yang ia mainkan. Karena ibu masih juga belum mengerti apa kesulitan yang dialami Rada, segera saja ia bertanya kembali.

“Hmm… Ibu memang kurang paham, tapi coba ibu tanya… apa beda bagian lagu yang… ini ya, dengan bagian yang sebelumnya? Baris pertama dan kedua lancar, kan, sayang?”

“Lancar kok Bu. Hanya saja, Rada masih kebingungan memainkan nada tinggi di oktaf yang kedua. Kata pelatih sih, Rada harus membuka setengah lubang yang biasanya ditutup oleh jempol. Seperti ini nih,” jelas Rada, lalu menunjukkan caranya pada sang ibu.

“Fuuuu…”

bakat anak mahir

 

“Nah, kan, sedikit sumbang, Bu. Rasanya sulit, deh, menghasilkan nada tinggi yang pas. Terkadang Rada bisa, namun sulit mengulang nada yang pas tersebut. Kalau saja lagunya tidak sesulit yang ini… Mungkin pada kesempatan berikutnya Rada coba usulkan lagu dengan nada dasar saja, seperti lagu untuk pentas tiga bulan lalu,” tutur Rada lesu.

Sang ibu tersenyum.  Dari mata Rada, ibu bisa melihat bahwa anaknya cukup frustrasi memainkan lagu yang akan dimainkan dua minggu lagi. Namun ibu merasa, kalau Rada hanya memainkan lagu dengan tingkat kesulitan yang sama, anaknya tak akan lebih mahir memainkan rekorder.

“Eits, jangan menyerah dulu,” ibu menyenggol lengan Rada dengan sikunya. “Coba Ibu perlihatkan sesuatu.” Sang Ibu mengajak Rada mengamati beberapa hasil sulamannya. Ibu lalu menunjukkan dua gambar sulam dengan pola yang hampir sama, namun salah satu sulamannya lebih rapi dari sulaman yang lain.

“Nih, ada dua gambar vas bunga yang sama, kan. Namun coba Rada amati, gambar pertama terasa lebih kaku ketimbang yang kedua, karena Ibu waktu itu tak berhasil membuat bentuk lengkung yang bagus pada sulaman Ibu. Berkali-kali Ibu pikirkan caranya, namun tidak berhasil. Padahal Ibu menginginkan hasil sulaman yang lebih rapi, dengan teknik yang lebih berkembang ketimbang sebelumnya.”

Rada tampak berpikir. Ia mulai membayangkan bahwa apa yang dialami ibunya dulu, sama dengan yang dialaminya sekarang. Kalau ibunya menginginkan hasil sulaman yang lebih realistis dengan mengaplikasikan bentuk lengkung – hal yang baru bagi ibunya kala itu – Rada pun ingin memainkan lagu yang lebih sulit dengan menggunakan teknik jempol. Bedanya, ibunya sudah bisa melakukannya, sementara Rada belum.

Tetapi kalau ibunya tidak menguasai bentuk lengkung pada sulamannya, tentu hasil sulamannya akan sama seperti yang dulu-dulu. Berarti, Rada juga harus mengetahui cara menggunakan teknik jempol untuk memainkan nada-nada tinggi, agar ia bisa melantunkan lagu dengan tingkat kesulitan lebih tinggi. Ya, Rada berkesimpulan bahwa lagu yang lebih sulit, sebenarnya membuat ia lebih mahir bermusik.

“Hehehe, makasih ya Bu,” Rada tersenyum lebar lalu mencium pipi ibunya. “Syukur deh Ibu memperlihatkan sulaman-sulaman Ibu. Kalau nggak, Rada mungkin nggak akan paham, kalau kesulitan sebenarnya bisa membuat kita lebih mahir melakukan aktivitas. Jadi Rada nggak akan berhenti di lagu yang mudah!”

Ibu dan anak ini kemudian tertawa senang karena mereka berdua bisa saling membantu menekuni aktivitas mereka.

“Omong-omong,” tanya Rada, “Kan nggak ada yang mengajari Ibu menyulam. Terus Ibu akhirnya bisa bikin teknik lengkung itu dari mana?”

“Dari nonton YouTube,” sang ibu tersenyum tersipu-sipu. “Eh iya, kamu kan bisa belajar teknik jempol untuk main rekorder dari YouTube juga?”

“Ibu cerdas, deh!” sahut Rada girang. Ia lalu segera menyalakan komputer di ruang keluarga setelah mencium pipi ibunya sekali lagi. Suasana rumah di sore itu kemudian menjadi semakin hangat.

Apa tips Ayah Ibu membantu anak mengatasi kesulitan saat menekuni bidang bakat yang ia pilih?

 

Foto oleh Dark Dwarf

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d