Liburan, Tantangan Membaca, dan Belajar Sepanjang Hayat

Diposting oleh:

Bakat Anak – Apakah anak Ayah Ibu enggan mengerjakan sesuatu saat liburan seperti sekarang?

Rada berguling-guling di ruang keluarga sambil memandangi tumpukan buku yang hendak dibacanya. Meskipun tidak mendapat anjuran yang sama dari Dinas Pendidikan di kotanya, sekolah Rada pun ikutan membuat tantangan membaca bagi para muridnya selama liburan, termasuk Rada. Ide tersebut memang berasal dari tantangan membaca yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Kota Surabaya.

“Kenapa Rada masih saja dikasih PR waktu liburan… Pas puasa, lagi,” gumamnya pada diri sendiri. Gumaman yang cukup keras untuk didengar ibunya yang sedang memilih bahan di dapur, untuk dimasak nanti menjelang buka puasa.

“Puasa-puasa kok ngeluh, Rada. Ibu dengar dari sini, lho,” sindir ibunya dari dapur. Beres dengan pekerjaannya, sang ibu berjalan masuk menghampiri Rada yang masih berguling-guling.

“Eh iya, Bu. Terima kasih sudah diingatkan. Ya ini aja sih, libur-libur kok Rada dikasih tugas tantangan membaca, harus belajar di rumah… Kan Rada malas,” tutur Rada jujur.

bakat anak gemar membaca menulis

 

Tidak dapat dipungkiri, bahwa ‘belajar’ masih memiliki konotasi ‘tidak menyenangkan’ bagi banyak anak, termasuk Rada. Sampai-sampai, ia menganggap bahwa liburan itu bukan waktunya untuk belajar. Belajar itu ya cuma di sekolah.

Memang, tentu ada alasan mengapa konotasi ‘belajar itu tidak menyenangkan’ muncul. Pertama, belajar diasosiasikan dengan mengerjakan tugas. Anak mendapat terlalu banyak PR saat sekolah, PR yang seringkali tidak menarik bagi anak. Kedua, anak tidak terbiasa punya rencana kegiatan saat liburan, sehingga seperti saat Rada mendapat tantangan membaca, ia tidak siap.

Kini saatnya sang ibu membuat tantangan membaca lebih menarik bagi anaknya.

“Eh, Ibu beritahu ya. Sebenarnya tantangan membaca ini kesempatan bagimu untuk memilih bacaan yang kamu suka, lho. Biasanya, tugas atau PR kan soalnya ditentukan oleh guru. Sekarang, kamu berkuasa untuk membuat soalnya sendiri. Kurang keren apa, coba?” bujuk sang ibu pada Rada.

“Iya sih, Bu. Buku-buku ini Rada yang pilih. Hanya saja, Rada masih nggak habis pikir, kenapa sekolah Rada memberi tugas tantangan membaca pada murid-muridnya saat liburan?” tanya Rada lagi.

“Hmm, gimana ya…” Sang ibu berpikir sejenak. “Coba Rada pikirkan buku paling menarik yang Rada ingin baca selama ini, namun Rada tidak sempat membaca buku ini sampai tuntas karena banyak sekali tugas dan PR sewaktu sekolah. Apa judul buku tersebut?”

Dengan cepat, Rada memilih salah satu buku dari tumpukan dan menunjukkannya pada sang ibu.

“Ini nih, Bu. Rada dulu sempat memamerkan buku ini ke teman-teman di kelas, namun sepertinya mereka tampak tidak tertarik. Karena sendirian, dan banyak tugas juga, akhirnya Rada kurang semangat deh, bacanya. Padahal buku ini buku pertama yang Rada beli dengan uang tabungan Rada sendiri,” aku Rada.

Mendengar pengakuan Rada barusan, sang ibu menjentikkan jarinya. Ia akhirnya tahu apa yang mungkin bisa membuat Rada, anaknya, memulai tantangan membaca dengan semangat.

“Ibu jadi punya ide, nih,” kata sang ibu sambil mengambil buku tersebut dari tangan Rada dan membuka daftar isinya. “Sekarang nggak cuma Rada yang mendapat tantangan membaca. Ibu memutuskan untuk ikut tantangan membaca bersama Rada,” sahut ibunya dengan semangat.

“Nah, tantangan pertama untuk kita berdua adalah membaca dua bab pertamanya. Sampai halaman ini berarti ya,” tunjuk Ibu pada sebuah angka di daftar isi. “Mumpung waktu buka puasa masih lama, Rada bisa membacanya terlebih dulu. Giliran Ibu nanti malam, dan besok siang, kita akan mengobrol asyik tentang buku ini. Gimana?”

Memastikan anak belajar setiap waktu – entah itu menjelajahi hal baru atau membaca kembali buku-buku yang ia sudah pernah baca – adalah tanggung jawab orangtua sebagai pendidik, untuk melatih anak belajar sepanjang hayat. Belajar apa saja, di mana saja, kapan saja, dengan cara apa saja. Anak punya kendali atas apa yang ingin dipelajarinya, memilih sumber dan cara belajarnya sendiri, untuk mengembangkan kemampuan yang dipilihnya.

Anak bisa menambah jam pengembangan bakatnya, membuat prakarya sebagai proyek liburannya, mengikuti kelas daring (online), dan sebagainya – apapun pilihan belajar anak yang lebih menarik dan bermakna baginya, ketimbang tugas-tugas yang biasa diberikan sekolah. Internet bisa menjadi sumber pengetahuan anak dengan pendampingan orangtua, sehingga anak tak kehabisan akal untuk menggunakan waktu liburannya.

Apa hal baru yang bisa dijadikan tantangan belajar anak selagi liburan?

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d