Setelah Lulus Mau Jadi Apa?

Diposting oleh:

Setelah lulus mau jadi apa? Meski sudah ditanya sejak TK, tapi sayangnya sampai menjelang lulus kuliah pun, banyak dari kita tetap gagap menjawab pertanyaan itu.

Setelah lulus mau jadi apa? Pertanyaan ini yang saya ajukan ketika saya mengajar sebuah mata kuliah tahap akhir di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Ironisnya, kebanyakan mahasiswa peserta kuliah tersebut kesulitan menjawabnya. Hanya sekitar 10% mahasiswa yang bisa menjawab dengan lancar.

Bayangkan 18 tahun pendidikan mulai TK, sekolah hingga kuliah, tapi masih saja gagap menjawab pertanyaan setelah lulus mau jadi apa. Tanya kenapa?

setelah lulus mau jadi apa

Banyak mahasiswa merasa salah jurusan. Sisanya, tidak tahu kalau dirinya salah jurusan, karena tidak tahu jurusan yang diinginkannya. Jadi keinginan sendiri saja gagal untuk dikenali, bagaimana mengenali jurusan yang sesuai? Bagaimana mengenali profesi yang diinginkannya?

Kita belajar banyak hal, tapi tak belajar tentang diri sendiri, potensi dan impian kita. Kita melek huruf tapi buta diri. Proses belajar pada pendidikan kita seringkali tidak bermakna. Bukan pelajaran yang relevan dengan kebutuhan dan aspirasi kita.

Awalnya kita abai terhadap ketidakbermaknaan materi dan proses belajar tersebut. Hingga kita sampai pada fase kehidupan yang menuntut pemahaman diri untuk memgambil keputusan mau jadi apa setelah lulus, kita baru tergagap. Mau kemana sebenarnya?

Pada fase kuliah, sebenarnya banyak dari kita sudah mulai menyadari kalau kita salah jurusan. Kalau pilihan kuliah kita tidak sesuai dengan potensi diri dan aspirasi kita. Tapi alih-alih dipahami, diri sendiri justru dikibuli. Kita menipu diri di balik teriakan motivasi atau sekedar memenuhi kewajiban sosial asal jadi. Kuliah ya asal kuliah. Kerja ya asal kerja. Karya ya asal karya. Sekedar menggugurkan kewajiban sosial.

Mau membiarkan anak-anak kita salah jurusan & tidak tahu mau kemana? Di zaman industri yang relatif lebih pasti saja kita salah jurusan, bagaimana dengan anak-anak kita yang hidup di zaman kreatif yang lebih absurd?

Mari refleksi, mengapa kita salah jurusan? Alasannya seringkali sederhana saja, terlambat persiapan. Kita pura-pura tenang, lalu mendadak bingung di semester akhir menjelang lulus.

Mengapa terlambat persiapan? Karena hanya mengikuti “kewajiban sosial”. Kenapa sekolah? Wajib.  Kenapa belajar? Wajib. Kenapa kuliah? Ya Wajib. Kita mendapat kewajiban dari orangtua dan masyarakat untuk menempuh 18 tahun pendidikan.

Orangtua menyekolahkan anak seringkali bukan untuk mengembangkan potensi anak, tapi untuk gengsi pribadi. Tidak heran bila keputusan orangtua tidak didasarkan pada jurusan yang sesuai potensi anak, tapi jurusan yang bisa memberi gengsi. Pelajaran dan jurusan IPA lebih bergengsi dibanding pelajaran dan jurusan IPS. Jurusan kuliah tertentu lebih bergengsi dibanding jurusan yang lain.

Solusinya? Persiapan lebih awal. Bukan dengan mengkarbit anak-anak kita. Bukan pula menuntut anak berkembang cepat. Anak kita bukan kuda pacuan.

Solusinya? Stimulasi dan kenali potensi anak sejak dini. Ajak anak berefleksi untuk mempertimbangkan pilihan pendidikan yang sesuai potensinya. Kembangkan bakat anak anda. Jangan sampai anak kita menjelang lulus kuliah masih tergagap menjawab, “Setelah lulus, mau jadi apa?”

Ingin mengembangkan bakat anak sebagai modal untuk berkarier cemerlang di masa depan? Segera Pre Order buku Bakat Bukan Takdir

bbt-15

Sumber foto: Flickr

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

One thought on “Setelah Lulus Mau Jadi Apa?”

  1. membaca ini seperti menampar diri sendiri,, saat sekolah kejuruan saya ingin sekali masuk jurusan elekto tp ortu saya menyuruh say masuk jurusan automotif, ketika kuliah saya ambil IT, masuk kuliah pun hny ikut²an teman saja,, saat ini saya bekerja di bidang engineering meskipun msh ada skup dlm hal IT (jaringan internet) tp saya tidak pernah merasa bahagia jika diberikan tugas IT, tp jika berkenaan dgn engineering meskipun sulit saya semakin termotivasi

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye