Mengapa Anak perlu Melihat kembali Hasil Belajar Mereka?

Diposting oleh:

Bakat Anak – Apa yang Ayah Ibu lakukan saat diminta anak memeriksa hasil PR mereka?

“Bu, ini sudah benar belum?” Geradi menunjukkan hasil PR-nya kepada sang ibu yang sedang membaca buku di ruang keluarga. Ia mendapatkan PR matematika dengan materi hitungan pecahan dengan penyebut yang berbeda, dan ia diminta menuliskan jawaban dalam bentuk pecahan yang paling sederhana.

“Eh, kenapa Di?” tanya Ibu. “Kamu nggak yakin dengan hasil pekerjaanmu?”

“Iya Bu, kan harus benar…”

Adakah Ayah Ibu yang pernah menghadapi situasi di atas? Situasi saat anak bertanya kepada orang dewasa apakah hasil pekerjaan atau cara yang dipilihnya sudah benar atau belum. Alih-alih melihat kembali proses belajarnya, anak memilih bertanya langsung kepada orang dewasa, yang dianggapnya lebih mahir, tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Karena anak takut salah, seperti yang Geradi ungkapkan barusan.

bakat anak hasil belajar

 

“Ayo sini, duduk di sebelah Ibu dan buka buku PR-mu,” minta sang ibu. “Sekarang, Ibu acak ya… Hmm, nomor 3 deh. Menurutmu, kenapa kamu mengisi jawaban nomor 3 dengan pecahan ?”

Geradi termenung, melihat jawaban yang dibubuhkan dalam bukunya. “Ah, jadi jawabannya benar 8/10?”

“Eits, tunggu dulu, Di. Coba ceritakan dulu darimana kamu mendapatkan jawaban ini,” tukas sang ibu.

Melihat anaknya menanyakan apakah jawaban yang ditulisnya benar atau salah, sang ibu tak langsung menjawab “betul” atau “salah”. Baginya, benar salahnya sebuah hasil belajar itu merupakan akibat dari proses belajar anak. Baginya, saat Geradi menyadari mengapa ia memilih dan menggunakan suatu cara untuk menyelesaikan hitungan pecahan, ia dapat mengetahui sendiri apakah jawabannya benar atau tidak.

Jika sang ibu dengan mudah memberikan respon “betul” atau “salah”, Geradi akan lebih cepat puas dengan pekerjaannya dan segera menutup buku PR-nya. Kalau ada jawaban yang salah, Geradi bisa dengan mudah pula bertanya, “Jadi jawaban yang betul apa dong, Bu?”

Memberikan jawaban yang benar memang bisa segera menyelesaikan masalah anak. Ini seringkali menjadi solusi beberapa orangtua yang tidak mau repot-repot belajar bersama anak. Namun anak hanya mendapatkan solusi yang ditawarkan orang dewasa, bukan dia yang belajar. Ini yang sedang sang ibu coba hindari saat Geradi meminta ibunya memeriksa PR-nya.

“Jadi setahu Geradi, apabila ada dua pecahan dengan penyebut berbeda yang harus dijumlahkan, kita harus menyamakan penyebut tersebut. 3/5 + 2/10. Nah, karena kebetulan Geradi bisa mendapatkan angka 10 dengan mengalikan 5 dengan 2, berarti pembilangnya juga harus dikali dua. Geradi mendapat 6/10 + 2/10. Hasilnya adalah 8/10,” jelas Geradi sambil membuat coret-coretan di selembar kertas kosong agar sang ibu lebih mengerti.

“Oke. Sesuai nggak jawaban Geradi dengan prinsip penjumlahan pecahan dengan dua penyebut yang berbeda?” tanya sang ibu lagi.

“Sesuai sih, Bu.”

“Baiklah. Kalau begitu, coba Geradi baca petunjuk soalnya sekali lagi. Mungkin ada yang terlewat.”

Geradi membaca kembali petunjuk pengerjaan soal untuk PR-nya dengan suara sedikit nyaring. “…Menuliskan jawaban dalam bentuk pecahan yang paling sederhana. Delapan persepuluh, bisa disederhanakan lagi nggak, ya?” tanyanya pada diri sendiri.

Sang ibu tersenyum. Ibu bisa saja tadi langsung mencoret dan mengganti jawaban 8/10 dengan 4/5, namun sang ibu ingin melihat Geradi menelusuri kembali proses belajar yang dilaluinya selama mengerjakan PR matematika. Dengan menyadari kesalahannya sendiri, anak punya kesempatan untuk menambahkan hal baru dalam proses belajarnya, alias belajar mendalam.

“Eh, ternyata bisa, Bu!” Geradi sumringah karena menemukan jawaban yang berbeda dengan yang pertama dituliskannya. “Hasilnya adalah 4/5, dan ternyata Geradi menyadari satu hal lagi. Geradi bisa menyederhanakan hasil akhir, atau menyederhanakan salah satu pecahan sebelum dijumlahkan!”

“Maksudmu gimana, Di? Coba ceritakan pada ibumu,” respon sang ibu sambil tersenyum.

“Jadi, kalau tadi Geradi mengubah pecahan 3/5 menjadi 6/10, Geradi ternyata juga bisa menyederhanakan pecahan 2/10 menjadi 1/5. Jadi, 3/5 + 1/5 menghasilkan 4/5!” serunya.

“Yay! Lihat kan, sekarang kamu bisa menemukan dua cara berbeda untuk menyelesaikan penjumlahan pecahan. Kamu sekarang bisa mengecek kembali apakah kamu bisa menggunakan salah satu, atau kedua cara tersebut untuk mengetahui jawaban yang tepat dari soal-soal yang lain,” saran sang ibu pada Geradi. Tidak ada yang lebih menyenangkan ketimbang saat orangtua bisa melihat anaknya belajar mendalam, dan tidak selalu meminta jawaban “benar” dari orang dewasa.

Karena hidup tak sekadar mengambil jalan pintas, namun menikmati perjalanan.

Bagaimana Ayah Ibu membantu anak melihat kembali hasil belajar mereka?

 

Foto oleh Hades2k

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d