Mengapa Memahami Bakat Anak itu Penting?

Diposting oleh:

Bakat Anak – Sejauh mana Ayah Ibu memahami bakat anak?

Beberapa orangtua memberi kesempatan seluas-luasnya pada anak untuk mengembangkan, apapun bakat mereka. Sebagian orangtua berpendapat bahwa bakat anak dijadikan hobi saja. Anak tetap diarahkan untuk belajar mengejar profesi yang populer, atau pekerjaan yang aman, meski tak berhubungan dengan bakatnya.

Sementara ada pula orangtua yang mengekang anak, karena apa yang menjadi kegemaran anak dianggap negatif. Anak ditekan, tak diberi kesempatan untuk tumbuh menjadi diri sendiri, menjadi manusia yang otentik. Menariknya, ini menjadi kisah personal di balik pendirian Erudio School of Art. Kisah tentang Monika Irayati, sang penggagas dengan sang anak.

bakat anak menggambar

 

Ada suatu kala di mana Monika Irayati tak suka melihat anaknya yang gemar menggambar. Sebagian orangtua – termasuk Monika saat itu – melihat menggambar sebagai sebuah bentuk kenakalan. Dan itulah yang sehari-hari anaknya lakukan. Sang ibu sampai pernah menyobek gambar sang anak.

Namun sama seperti manusia yang lain, Monika juga mengalami masa pencarian jati diri. Dan masa ini tak berlangsung sebentar. Ia menghabiskan bertahun-tahun bekerja di perusahaan, tanpa menemukan satu pun hal dalam pekerjaan yang bisa membuatnya bahagia. Melalui refleksi dan perenungan, mengamati dirinya sendiri, Monika akhirnya menemukan hal yang membuatnya bahagia: berinteraksi dengan anak-anak.

Dan tentu saja, tak ada hal yang lebih menyenangkan ketimbang melakukan hal yang membuat kita bahagia, hal yang kita senangi. Setelah yakin dengan di titik mana dirinya bisa bertumbuh sebagai manusia yang otentik, segera saja Monika memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya yang saat itu tidak berhubungan dengan anak-anak.

Setelah menemukan formula kebahagiaan, yakni melakukan hal yang disenangi, sang ibu kemudian mengingat sikapnya selama ini terhadap kegemaran menggambar anaknya. Ia lalu paham, bahwa jika ingin melihat anaknya tumbuh menjadi diri sendiri, sama seperti dirinya, ia harus memberi kesempatan pada sang anak untuk melakukan apa yang ia suka. Monika tak dapat memaksa anaknya untuk berhenti menggambar. Justru sebagai seorang ibu, sebagai orangtua, Monika memiliki tanggung jawab untuk membantu mengembangkan bakat sang anak ke arah yang positif.

Mulai hari itu, Monika dapat melihat anaknya yang gemar menggambar dalam perspektif yang positif. Tak hanya itu, sang ibu kemudian berusaha sekeras mungkin saat anaknya ingin melanjutkan pendidikan di sebuah sekolah seni – yang tak kunjung ditemukannya. Akhirnya, keinginan sang anak diwujudkan Monika Irayati dengan mendirikan Erudio School of Art.

Tak hanya bagi anaknya saja, Monika ingin melihat kebahagiaan-kebahagiaan lain – di mana anak-anak dapat melakukan hal yang mereka senangi, dan mengajak anak-anak berpikir tentang kesenangan mereka, agar anak-anak tersebut kemudian dapat lebih mantap menentukan arah karier mereka.

Mungkin suatu kali kita pernah melihat bakat maupun kegemaran anak sebagai hal yang negatif, atau kurang penting dibandingkan sekolah dan masa depannya. Namun, apabila Monika Irayati bisa mengubah perspektifnya, tentu kita juga bisa. Memahami bakat anak dengan cara yang benar bisa menjadi titik awal kita sebagai orangtua mengizinkan anak tumbuh menjadi dirinya sendiri, menjadi manusia yang otentik.

Ingat, anak bukanlah kertas kosong yang dapat dicoreti dengan ego orangtua. Tuhan telah mengaruniakan kecerdasan majemuk yang diaktualisasikan anak dalam bakat yang ditekuninya. Dengan memahami bakat anak – dan mendukung anak untuk mengembangkan bakatnya – kita tak lagi menekan anak dari luar, namun menumbuhkan dorongan belajar dari dalam diri anak. Sebuah wajah pendidikan yang menumbuhkan.

Apa kisah personal Ayah Ibu dengan bakat anak?

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d