Anak Gemar Membaca? Bagaimana kalau Ditambah Gemar Menulis?

Diposting oleh:

 

Bakat Anak – Anak Ayah Ibu gemar membaca? Sudahkah ia memulai tulisan pertamanya?

Liburan bisa menjadi waktu yang tepat untuk membaca. Apalagi buat anak tak sempat memperkaya bacaannya – selain buku pelajaran – karena kesibukan sekolah. Atau mereka yang tak berkesempatan berjumpa dengan buku-buku berkualitas karena jauh dari kota besar.

Kita sudah pernah membahas bagaimana membaca buku cerita – fiksi dan kawan-kawan – dapat membantu anak belajar berempati, menggunakan kecerdasan relasinya. Bagaimanapun juga, buku cerita atau literatur yang berkualitas dapat membuat anak ‘tenggelam’ di dalamnya, merasakan apa yang dialami oleh tokoh dalam cerita.

bakat anak gemar membaca menulis

 

Bisa membaca saja tidak cukup, karena tidak semua informasi yang dibaca anak – apalagi anak-anak yang sudah memperoleh akses ke dunia maya – akurat. Selain melatih gemar membaca, anak perlu belajar menjadi pembaca yang kritis. Paulo Freire, tokoh pendidikan Brazil pernah menuliskan bahwa kita seharusnya tidak sekadar membaca, melainkan memahami dunia di balik bacaan tersebut. Ada banyak kisah yang bisa keluarga interpretasi ulang bersama anak, misalnya saja, Malin Kundang yang berakhir fatalistik karena ia tidak diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.

Oleh sebab itu, Paulo Freire menganjurkan bahwa kita harus mengiringi kegiatan membaca dengan kegiatan menulis. Saat membaca berarti mengonsumsi ide, menulis berarti memproduksi ide. Di zaman kreatif, seperti yang Bukik Setiawan sempat sebut dalam buku Anak Bukan Kertas Kosong, belajar itu tak hanya mengunduh (donwload), tetapi juga mengunggah (upload). Damai, putri Bukik Setiawan, menulis berbagai hal di blognya – baik pengalamannya sehari-hari, cerita buatannya sendiri, dan juga ulasan buku yang telah dibacanya.

Banyak orang yang gemar membaca, namun enggan menulis. Lebih aneh lagi orang yang mengaku gemar menulis, tetapi tidak pernah membaca. Jadi, mengapa anak harus menulis selagi terus membaca? Pertama, tidak ada tulisan berkualitas yang lahir tanpa membaca – termasuk menulis kisah fantasi. Membaca mengenalkan anak pada dunia baru yang dapat menginspirasinya untuk menciptakan dunianya sendiri. Dunia tersebut benar-benar tercipta setelah anak menuangkan gagasannya dengan menulis: anak belajar memilih dan menyusun kata-katanya sendiri.

Kedua, menulis berarti menyatakan sikap anak terhadap apapun yang dibacanya. Dengan berlatih menulis, anak dapat belajar menyatakan pendapatnya – dalam kata-kata Paulo Freire, bersikap terhadap dunia. Anak menjadi pembaca yang aktif, aktif menyampaikan gagasannya sendiri tentang apa yang telah dibacanya – setuju maupun tidak setuju.

Ketiga, menulis bisa menjadi portofolio pengembangan bakat anak. Dengan membuat catatan yang tertulis – baik dalam buku maupun blog – anak bisa kembali menilik apa yang telah ditulisnya seminggu, sebulan, bahkan setahun lalu, dan membandingkannya dengan pemikirannya saat ini. Anak bisa melihat sendiri bagaimana dirinya berkembang dengan buku-buku yang dibacanya, melalui tulisan yang anak buat. Siapa tahu, dengan gemar membaca dan mengulas buku, anak bisa menjalani kariernya sebagai pengulas buku, lho.

Mengulas buku? Jangan salah, kegemaran mengulas buku yang membutuhkan gemar membaca dan menulis ini sekarang menjadi profesi yang menarik. Lev Grossman, seorang pengulas buku, menceritakan pengalamannya bahwa mengulas buku berarti bercerita, bercerita tentang nikmatnya – atau gelisahnya – mengarungi dunia dalam sebuah buku, sekaligus menjadikan para pembaca ulasannya – termasuk dirinya sendiri – seorang pembaca yang lebih baik. George Orwell, penulis novel tenar Animal Farm dan 1984, juga seorang pengulas buku.

Di tingkat yang paling sederhana – namun tetap bermakna – anak dapat mulai mengulas buku-buku favoritnya sebagai cara berbagi semangat membaca pada teman-temannya. “Mengapa buku tersebut menarik? Mengapa kisah ini wajib dibaca teman-temanku juga?” Semua dapat diungkapkan anak dengan menulis, menulis ulasan buku baik di buku harian, blog, maupun laman Goodreads.

Nah, siapa yang sekarang mau mencoba mengulas buku?

Apa tips Ayah Ibu untuk memancing anak menulis tentang buku-buku kesukaannya?

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

One thought on “Anak Gemar Membaca? Bagaimana kalau Ditambah Gemar Menulis?”

  1. Membaca membuka cakrawala berfikir anak, dan menulis merupakan sarana menuangkan ide yang sangat efektif.

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d